10 Layar Saja Untuk “Syirik”

_

Sejak keberhasilan “Danur – I Can See Ghost” dan “Pengabdi Setan”, genre horor semakin tak terbendung di bioskop. Mayoritas film Indonesia yang dibuat dalam setahun terakhir ini bertema horor. Genre ini dipercaya tak lekang oleh waktu dan tetap disukai penonton.

Namun tidak semua film jenis ini mendapat tempat di hati penonton. Beberapa judul lain yang dilepas sepanjang tahun 2017 hingga awal 2018 ini ternyata kurang beruntung.

Persoalan lain yang dihadapi pembuat film adalah sulitnya mendapat layar, karena bioskop memiliki aturan sendiri untuk memberikan layar bagi film yang ingin main di bioskop. Jaringan bioskop XXI memiliki tim seleksi yang terdiri dari 7 – 9 orang, untuk menentukan layak tidaknya film main di bioskop, atau berapa layar yang dianggap patut untuk diberikan kepada sebuah film.

Layar terbanyak yang diberikan kepada film Indonesia yang dinilai bagus oleh pihak bioskop biasanya 180. Jika penontonnya terus meningkat jumlah layar akan bertambah, bahkan hingga mencapai 300 – 400 layar. Jumlah itu adalah layar yang diberikan untuk film impor blockbuster di hari pertama.

Namun tidak sedikit film Indonesia yang hanya mendapat puluhan, belasan atau cuma beberapa layar saja. Salah satu film horor yang akan beredar pada Februari 2018 ini, “Syirik” hanya mendapat 10 layar.

“Syirik” adalah film yang mengisahkan sepasang suami isteri muda yang tinggal di sebuah rumah tua di tengah perkebunan teh. Sejak di PHK, Romi sang suami menjadi depresi dan mulai kena pengaruh iblis yang bermukim di salah satu ruangan rumah mereka.

Tingkah Romi mulai aneh, kasar dan sadis. Bahkan terhadap Lady, isterinya, dia juga mulai bersikap kasar. Tidak jarang Lady disakiti dan diancam akan dibunuh. Lady lalu meminta bantuan teman lamanya Marwan, seorang pemuda jebolan pesantren yang mendalami ilmu agama.

Film yang disutradarai Faridsyah Zikri, dibintangi Guntur Triyoga, Nadhira Hill, Farid Ongky, Mita the Virgin, n Shinta Devayani.

Meski pun mendapat layar sangat sedikit, sutradara Faridsyah Zikri tidak mengeluh, ia nampaknya sadar dengan keterbatasan filmnya, dan menganggap kebijakan bioskop itu sesuatu yang wajar.

“Kita bisa menerima jatah layar yang diberikan bioskop. Mereka cukup fair saya kira. Mudah-mudahan penonton akan suka film kita, dan jumlah layarnya akan terus bertambah, bisa seratus, dua ratus dan seterusnya,” kata Zikri.

“Syirik” masih lebih beruntung dari beberapa film nasional lainnya seperti “Get Lost” yang harus menunggu selema hampir 3 tahun dan harus beberapakali direvisi atas permintaan bioskop agar mendapat layar. Film berjudul “Piye Khabare, Enak Tho Zamanku?” karya sutradara Akhlis Suryapati, sampai saat ini tidak mendapat kepastian main di bioskop.

Share This: