Kenangan Kecil Bersama Chrisye

_

Kan ku jalin lagu                                                            Bingkisan kalbuku
Bagi insan dunia
Yang mengagungkan cinta

Betapa nikmatnya
Di cumbu asmara
Bagai embun pagi
Yang menyentuh rerumputan

Cinta, akan ku berikan
Bagi hatimu yang damai
Cintaku, gelora asamara
Seindah lembayung senja

Tiada ada yang kuasa
Melebihi indahnya
Nikmat bercinta

Suara Chrisye yang menyanyikan lagu berjudul Cintaku seperti terus menggema di telinga, ketika saya dalam perjalanan pulang dengan kereta commuterline tujuan Bogor, malam ini.

Gema lagu itu mengalahkan suara dua orang wanita yang sedang ngobrol, suara roda kereta yang bergesekan dengan rel, bahkan pengumuman announcer dari pemutar otomatis yang memberitahukan posisi kereta.

Foto: Ist.

Hari ini saya secara tidak sengaja mendengar lagu itu. Entah di mana, saya lupa karena begitu banyak kesibukan yang harus dijalani hari ini. Mulai dari kegiatan rutin mengedit video untuk youtube, mengikuti acara Hari Film Nasional di Gedung Kemendikbud Jakarta, dan dilanjutkan hingga acara launching logo baru TVRI yang berlangsung hingga malam.

Ketika mengikuti semua kegiatan itu suara Chrisye memang hilang dari ingatan. Entah kenapa begitu dalam kesendirian lagu itu seperti terdengar lagi. Cintaku adalah lagu berirama progresif dari Chrisye yang saya sukai, di samping tentu saja sebagian besar atau hampir semua lagunya saya suka.

Tetapi Cintaku terasa berbeda. Temponya cepat meski pun mengusung tema cinta, sehingga setiap kali mendengar lagu itu saya seperti melihat langsung sosok Chrisye sedang menyanyikannya. Lagu itu membuat saya — mungkin juga banyak orang lain — merasa bahwa Chrisye seperti masih ada, tidak seperti peristiwa menghentak pada tanggal….ketika ia pergi.

Sebagai wartawan yang setia meliput bidang hiburan, saya beruntung pernah mengenal Chrisye, berbicang dengannya di luar wawancara, sehingga saya hapal betul bentuk fisik, suara dan caranya berbicara, walau kami tidak akrab betul.

Mungkin situasilah yang membuat kami terpaksa harus ngobrol. Ketika itu, tahun 80-an, mungkin sekitar tahun 1984 – 1985, saya sering datang ke kantor Musica Studio di Jl. Perdatam, Kalibata, Jakarta Selatan, untuk mengambil bahan tulisan musik untuk media tempat saya bekerja.

Beberapakali saya melihat Chrisye berada di Musica Studio, duduk di ruang tamu memakai T’Shirt dan celana panjang cutbray. Berbadan agak kurus dan rambutnya yang lurus panjang hingga sebahu.

Sebagai wartawan muda, saya masih terkagum-kagum dengan sosok Chrisye, karena ketika mulai belajar gitar dulu, waktu SMP, saya suka sekali menyanyikan lagu Merpati Putih. Saya suka memainkan lagu itu karena ada kombinasi akord major dan minor. Buat orang yang sedang belajar main gitar secara otodidak, bisa mengiringi lagu dengan akord major dan minor, rasanya luar biasa.

Namun saya tidak menyangka bahwa lelaki sederhana itu — tidak gemerlap seperti artis — adalah Chrisye, penyanyi yang lagunya sering saya nyanyikan ketika belajar gitar. Karena sering bertemu secara tidak sengaja itulah akhirnya kami bertegur sapa dan sesekali ngobrol ringan.

Tahun 1986 saya keluar dari media tempat saya bekerja, lalu mulai menulis sebagai freelancer di berbagai media. Saya tidak intens lagi mengikuti perkembanban dunia musik walau pun sesekali masih meliput musik. Saya mulai tertarik dengan dunia film, sehingga lebih banyak menulis tentang film ketimbang musik. Apalagi sejak tahun 2017 hingga 1992 bergabung di Panitia Tetap (Pantap) Festival Film Indonesia.

Meski sibuk meliput perfilman, sebagai wartawan yang harus banyak membawa info-info dari dunia hiburan, saya juga selalu mengikuti perkembangan karier dan kehidupan pribadi Chrisye yang tidak pernah dilanda gossip. Tentu saja saya masih mendengarkan lagu-lagunya. Entah kenapa lagu Chrisye seakan selalu seperti lagu yang masih fresh meskipun berulangkali mendengarnya, di telinga saya.

satu legenda hidup Indonesia, penyanyi Chrisye saat ini terpuruk sakit. Sudah hampir dua tahun kanker paru dan tulang menggerogoti tubuh lelaki yang mempunyai nama asli Chrismansyah Rahardi ini. Salah satu penyebab Chrisye mengidap kanker paru karena ia sangat kuat merokok. Kini sambil berjuang melawan penyakit, Chrisye rajin menulis perjalanan hidup sebagai penyanyi.

 

Pada tahun 2004 saya mendengar Chrisye jatuh sakit. Kanker paru dan tulang menggerogoti tubuh lelaki yang mempunyai nama asli Chrismansyah Rahardi ini. Kondisi kesehatannya terus menurun, hingga pada tanggal 30 Maret 2007, Chrisye meninggal dunia di kediamannya dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Chrismansyah Rahadi (Lahir dengan nama Christian Rahadi di Jakarta 16 September 1949 – Meninggal di Jakarta 30 Maret 2007 pada usia 57 tahun).

Banyak yang merasa kehilangan kepergian penyanyi dan pencipta lagu bersuara khas itu. Salah satunya adalah politikus Ferry Musyidan Baldan, yang pernah menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Ferry Mursyidan bukan hanya penggemar, tetapi hubungannya dengan almarhum sudah seperti saudara layaknya. Saya mengetahui kedekatan batin sang politikus dengan penyanyi pop Indonesia legendaris itu, karena secara berturut-turut, dalam kapasitas sebagai wartawan, saya diundang untuk mengikuti acara peringatan wafatnya Chrisye.

Ferry Mursyidan Baldan (Foto: DSP)

Macam-macam kegiatan yang dilakukan untuk mengisi acara, antara lain lomba karaoke antarwartawan dan lomba penulisan. Tahun ini tak ada undangan memperingati wafatnya Chrisye. Tetapi bukan berarti acara ditiadakan. Itu musykil terjadi.

“Bang Ferry bikin acara di Ancol, tetapi saya tidak tahu persis seperti apa acaranya, karena saya juga belum dikasih tahu,” kata Nini Suny, wartawati senior yang sangat dekat dengan Ferry Mursyidan Baldan.

Batin saya berkata, harus ada yang memperingati kepergian Chrisye. Penyanyi seperti Chrisye yang telah meninggalkan warisan sangat besar bagi dunia musik, sudah sepatutnya mendapat penghormatan yang tinggi. Bukan hanya oleh penggemarnya, tetapi pemerintah juga perlu memperhatikan.

Generasi muda juga perlu diajak untuk mengenal Chrisye lebih dalam, untuk memetik manfaat yang sangat penting dari diri Chrisye, berupa dedikasi, kesetiaan profesi dan sumbangannya yang besar bagi dunia musik Indonesia.

Malam ini menjelang tidur saya mendengarkan lagu-lagu Chrisye dari youtube. Terbayang kenangan ketika bertemu Chrisye di Musica Studio. Entah kenapa saya merasa Chrisye masih ada. Semoga dia tenang di alam sana.

 

Share This: