12 Tahun Katimah Berjualan Peyek di Trotoar 

Ibu Katimah (72) tahun sedang berjualan di trotoar Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. (Foto: HW)
_

Dengan di atas dua buah konblok trotoar yang copot, Katimah duduk menghadap got dengan pandangan kosong. Konblok itu dilapisi plastik supaya ia tidak kotor. Bungkusan plastik besar dan sebuah payung di atasnya, tergeletak tidak jatuh tempatnya duduk. Begitulah kebiasaan Katimah setiap hari, sejak pukul 06.00 WIB hingga pukul 14.30, di depan Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan.

Katimah berada di tempat itu bukan tanpa tujuan. Ia sedang berjualan makanan ringan. Ada tiga jenis makanan yang dijualnya, yakni rempeyek (peyek) kacang,  keripik tempe dan selai pisang. Kadang ia membawa pisang ambon besar, meski hanya empat buah sebagai pelengkap dagangannya.

“Saya sih jualannya di sini aja. Abis enggak punya tempat. Paling kalau ada Kamtib lari ke pos Satpam,” kata Katimah sambil menunjuk pos satpam RS MMC.

Sudah 12 tahun Katimah jualan di tempat itu. Padahal rumah tinggalnya cukup jauh dari Kuningan, yakni di Jalan Malaka, Cipayung, Jakarta Timur, dekat Pusat Pelatihan Bulutangkis milik GPBSI. Untuk sampai ke tempatnya berjualan dari rumah, ia harus menggunakan empat kali angkutan darat. Biasanya Katimah ke luar rumahnya setelah shalat Subuh, lalu naik angkot menuju Cibubur. Dari Cibubur dia naik angkot menuju Kampung Melayu, dari Kampung Melayu naik Kopaja 502 jurusan Tanah Abang, lalu turun di dekat RS Bunda, Menteng Jakarta Pusat. Dari situ dilanjutkan lagi naik Kopaja P20 tujuan Lebak Bulus yang lewat jalan Rasuna Said. Katimah turun di depan RS MMC.

“Delapan kali naik mobil pergi sama pulang setiap hari. Ongkosnya abis tigapuluh lima rebu!” kata wanita kelahiran Cirebon yang sudah lama menetap di Jakarta ini.

Karena barang bawaannya banyak, kernet angkutan umum seringkali meledeknya dengan mengatakan “mau pindah”, bukan mau jualan. “Kalau penumpangnya lagi banyak kelihatannya kenek kesel, tapi saya diam aja,” tuturnya.

Rata-rata dia membawa 30 bungkus makanan, yang terdiri dari 10 bungkus peyek, 10 bungkus keripik tempat dan 10 bungkus selai. Katimah memperolah keuntungan Rp.2000 per bungkus.. Kalau dagangan habis dia mendapat keuntungan Rp.60 ribu perhari. Jika dipotong ongkos sebesar Rp.35 ribu yang dikeluarkan, dia membawa pulang bersih Rp.25 ribu perhari. Barang-barang itu diambil dari pembuatnya, Katimah akan menyetor hasil penjualan setiap hari.

Uang yang dikeluarkan Katimah bila berdagang memang melulu untuk ongkos. Dia tidak pernah membeli makanan atau jajan, walau kadang ia merasa lapar. Katimah beruntung masih ada orang-orang yang berbaik hati kepadanya. Ia sering diberi makan oleh orang-orang dari rumah sakit atau orang yang lewat.

“Orang-orang dari rumah sakit suka kasihan. Saya sering dikasih makanan. Baju juga saya tidak pernah beli,” ujar nenek dari 5 cucu ini.

Cerita tentang uang Rp.25 ribu adalah keuntungan yang diperoleh jika dagangannya habis terjual. Persoalan menjadi lain jika kurang laku. Katimah terpaksa harus berendong petong membawa lagi dagangannya pulang, dengan keuntungan sedikit atau tidak sama sekali.

Meski pun penghasilannya kecil, dan ia harus bersusah payah menuju tempatnya berjualan, ada saja orang yang suka mencari keuntungan dari orang kecil seperti Katimah, dengan cara tidak halal.

“Dulu ada yang beli, perempuan. Uangnya limapuluh ribuan. Tapi uang itu tidak diterima waktu saya setor, katanya uang palsu. Yah terpaksa saya harus ngutang dulu sama yang punya dagangan,” tuturnya.

Musibah lain adalah ketika ada yang membeli peyeknya, tetapi Katimah tidak sadar memberikan kembali uang kepada pembelinya, setelah sang pembeli menerima makanan yang dibeli berserta uang kembalian.

Waktu itu seseorang membeli peyek dua bungkus seharga Rp.24 ribu. Uangnya limapuluh ribuan, Katimah lalu memberikan peyek dan uang kembaliin sebesar Rp.26 ribu. “Eh waktu dia salamin saya, saya kagak sadar, saya kasih lagi uang limapuluh ribuan yang dari dia. Kan dia jadi bawa uang tujuhpuluh enamribu tambah peyek ya. Orangnya keren, motornya bagus. Untung enggak semua uang saya diambil. Mungkin dia enggak tega ya sama saya,” tutur Katimah, yang sejak itu tidak mau lagi jika orang tak dikenal menyalaminya. “Takut disirep lagi!” katanya.

Musibah lain juga pernah dialaminya. Dia pernah ketabrak motor di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, hingga terluka, dan kacamata baca satu-satunya pecah tergilas motor. Oleh penabraknya Katimah hanya diangkat dan ditaru dipinggir jalan, lalu ditinggal. Dalam keadaan terluka dia melanjutkan perjalanan menuju tempatnya berdagang, di trotoar di depan rumah sakit MMC, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.

“Waktu itu dengkul saya luka-luka, mulut saya bengkak. Tapi saya jalan terus ke sini buat jualan. Akhirnya diobatin sama orang-orang rumah sakit. Saya cuma beli es buat ngompret mulut,” kata Katimah sambil tersenyum, getir.

Meskipun beberapa kali mengalami musibah, serta keuntungan yang diperolehnya dari berdagang makanan itu tidak seberapa, Katimah tak ingin menyerah. Ia hanya ingin menghasilan uang dari jerih payahnya sendiri. Katimah tidak mau merepotkan orang lain, meski fisiknya semakin lemah. Bahkan ia juga tidak mau merepotkan  anaknya.

Saat ini Katimah tinggal bersama anak lelaki satu-satunya, seorang menantu dan lima orang cucu. Anaknya, Umar (35 tahun) berprofesi sebagai sopir angkot di Cililitan. Menurut Katimah, kehidupan anaknya juga sulit, karena narik angkot sekarang semakin sepi.

“Dia memang melarang saya jualan. Tapi saya kasihan sama dia. Narik angkot juga sepi, anaknya banyak. Udahlah saya jualan aja, yang penting bisa makan,” kata Katimah, lirih.

Katimah memang sengaja memilih berjualan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, meski jauh dari tempat tinggalnya di Kampung Malaka, Cipayung, Jakarta Timur. Kawasan tempatnya berjualan ini tidak asing baginya, karena ia dulu pernah tinggal di Kawi Kawi, Pedurenan, Jakarta Selatan, yang letaknya tidak jauh dari RS MMC.

Tahun 1992 suaminya yang bekerja sebagai  di RS Persahabatan Jakarta Timur, meninggal dunia. Katimah lalu pindah ke tempat yang dibelinya ketika sang suami masih hidup, di Malaka Cipayung.

Ia tidak tahu sampai kapan harus berjualan di trotoar. Baginya, mendapat rejeki halal dari kerja keras merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri di usianya yang sudah senja. Ia masih belum yakin menggantungkan hidup kepada anak satu-satunya yang berprofesi sebagai sopir angkot, karena ia tahu kehidupan anaknya juga berat.

 

Share This: