Wishnutama Memikul Beban Berat Dari Jokowi

_

“Saya baru tahu kalau saya akhirnya ditaruh di sini. Padahal sebelumnya tempat saya bukan di sini. Tahu kan di mana?,” kata Wisnutama ketika memberi sambutan dalam acara serah terima jabatan Menteri dengan Menteri Pariwisata Kabinet Indonesia Kerja Arief Yahya, di Balairung Soesilo Sudarman, Jakarta, Rabu (23/10).

Bisakah Wishnutama Memenuhi Harapan Presiden Jokowi?
Foto: Istimewa

Uniknya, nomenklatur kementerian yang dipimpin Wishnutama seperti kembali ke era lima tahun lalu, ketika Gedung Sapta Pesona dinakhodai oleh ekonom Marie Pangestu, yang ditunjuk oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menjadi Menparekraf (2009-2014). Tetapi setelah Jokowi terpilih, Arief Yahya yang menggantikannya hanya diberi tugas untuk mengurus pariwisata (Kementerian Pariwisata), sedangkan ekonomi kreatif yang diharapkan menjadi sumber pendapatan negara baru, ditangani oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dipimpin oleh Triawan Munaf.

Sebagai orang baru–baru jadi Menteri–dengan beban yang lebih banyak dibandingkan Menteri sebelumnya, tentu tidak mudah bagi Wishnutama untuk mengemban tugasnya. Sebab ketika dipecah menjadi dua lembaga negara saja menjadi Kemenpar dan Bekraf di era Jokowi, kedua lembaga negara itu belum mampu memenuhi ekspektasi Jokowi yang sangat ambisius. Terbukti target kunjungan wisatawan asing selalu gagal dan Bekraf, tidak perlu ditanya lagi, sudah pasti gagal, makanya dibubarkan.

Pariwisata di era Arief Yahya

Tentu bukan tanpa perhitungan yang matang ketika Presiden Jokowi mengangkat Arief Yahya sebagai Menteri Pariwisata di Kabinet Indonesia Kerja.

Arief Yahya memiliki latar belakang yang hebat. Alumni Institut Teknologi Bandung kelahiran Banyuwangi, 2 April 1961sebelumnya menjabat sebagai CEO PT Telekomunikasi Indonesia sejak 11 Mei 2012 menggantikan posisi Rinaldi Firmansyah.

Di bawah Arief Yahya, PT Telkom Tbk. tercatat mengalami kemajuan signifikan. Dari perusahaan plat merah yang berkinerja jelek, kinerja keuangan Telkom makin membaik. Pada  kuartal III/2013, Telkom berhasil meraih laba bersih Rp11.057 triliun. Perolehan itu naik 10,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp10.001 triliun.

Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom) Arief Yahya meraih penghargaan “Marketeer of the Year” 2013 pada 12 Desember 2013 untuk perannya dalam dunia pemasaran. Arief Yahya dinilai sebagai pelaku pemasaran yang berhasil menunjukkan semangat pemasaran secara hebat ditambah dengan kinerja yang bagus meskipun harus menghadapi persaingan yang sulit di era sekarang. Kerja keras jajaran Telkom membuahkan hasil kinerja keuangan perusahaan yang selalu positif dan selalu mencetak laba dan jumlah yang cukup berarti.Keberhasilan itulah yang membuat Jokowi kepincut, dan meminangnya untuk menjadi Menteri Pariwisata. Tugas Arief Yahya adalah memajukan pariwisata Indonesia, membawa wisatawan asing ke Indonesia dan menyerok devisa sebanyak-banyaknya.

Arief Yahya bukan tidak bekerja keras. Dia juga memiliki ide-ide cemerlang untuk mengangkat pariwisata Indonesia sejajar dengan negara-negara yang pariwisatanya mendunia. Dengan branding Wonderful Indonesia yang diiklankan hingga ke mancanegara, pertumbuhan pariwisata Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun.

Promosi pariwisata yang demikian masif di segala lini, membuat pariwisata Indonesia makin dikenal dunia. Sekecil apapun potensi wisata di daerah, selalu dikulik, untuk menjadi destinasi wisata baru. Pada masanya pulalah dikenal istilah Calendar of Event (CoE) yang sampai masa akhir jabatannya mencapai 100 event. Tidak peduli apakah CoE itu benar-benar berhasil mengangkat wisata suatu daerah lantas menarik wisatawan, terutama wisatawan mancanegara (wisman).

Di dalam negeri sendiri, ghirah masyarakat untuk berwisata, semakin tinggi. Kesadaran masyarakat untuk berlibur dan mengenal berbagai destinasi di Indonesia semakin besar. Harus diakui, Arief Yahya dengan mesin publikasinya yang selalu membuat setiap event pariwisata menjadi trending dunia (menurut beliau), telah menggugah keinginan masyarakat melakukan perjalanan wisata, terlebih ketika tiket pesawat masih murah. Promosi dan publikasi, berkali-kali Arief Yahya mengatakan, sangat penting dalam pemasaran pariwisata.

Di bawah Arief Yahya, berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri diraih oleh pariwisata Indonesia.

Menurut data Kementerian Pariwisata sepanjang tahun 2016 Indonesia telah mendapat 46 penghargaan dari berbagai acara di 22 kota.

Tahun 2017, meraih UNWTO Video Competition 2017 Region East Asia and Pacific Video pariwisata Wonderful Indonesia yang bertajuk “The Journey of a Wonderful World” menjadi juara kategori Video Competition 2017 Region East Asia and Pacific, dalam dalam kompetisi video pariwisata dunia, dalam acara yang diadakan di China pada 15 September 2017.

Di ajang yang sama, Indonesia juga menyabet kategori People’s Choice Award, yakni kategori video terbaik pilihan publik melalui sistem pemungutan suara.

Dalam ajang penghargaan The 28th Annual TTG Travel Awards 2017, di Bangkok, Thailand, pada 28 September 2017, Indonesia dinobatkan sebagai ‘Destination of the Year’. TTG Travel Awards adalah penghargaan bergengsi bagi industri travel se-Asia Pasifik sejak tahun 1989. Untuk pertama kali Indonesia menggeser Thailand, dalam ajang dan kategori tersebut.

Selain itu, ada beberapa penghargaan lain yang diraih Indonesia dari luar negeri. Dalam ASEANTA 2017, Indonesia memboyong banyak kategori penghargaan. Antara lain kategori Best ASEAN Tourism Photo, Best ASEAN Airlines Program dan Best ASEAN Cultural Preservation Effort.

Penghargaan untuk pariwisata Indonesia juga hingga tahun 2018 dan 2019. Menteri Pariwisata Arief Yahya mendapat penghargaan sebagai The Best Marketing Minister of Tourism of ASEAN dalam  Anugerah MarkPlus Marketeer of The Year (MoTY) 2018.

Indeks daya saing pariwisata Indonesia juga terus naik. Versi World Economic Forum (WEF) naik. Lembaga dunia tersebut menaikkan dua posisi Indonesia dalam kategori Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) pada 2019.

Setelah tahun 2013-2014 berada di peringkat 70 dunia, naik ke posisi 50 tahun 2015, naik lagi ke peringkat 42 pada 2017, dan tahun 2019 naik ke posisi 40. Dalam daftar peringkat baru tersebut, untuk kawasan Asean, Singapura turun 5 peringkat menjadi posisi ke-17 dunia, Malaysia juga turun 3 peringkat menjadi ke-26. Sementara itu, Thailand naik 3 tingkat menjadi 31 dan Vietnam naik 4 peringkat menjadi 63.

Target dan Realita

Namun penghargaan saja tanpa hasil yang nyata, yaitu kunjungan wisatawan dan peningkatan devisa dari sektor ini hanya menjadi semacam fatamorgana. Indonesia dengan karunia keindahan alam dan aneka ragam budayanya, dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu tujuan wisata dunia.

Maka kemudian Arief Yahya–mungkin keinginan Presiden Jokowi–mematok target yang tinggi untuk kunjungan wisman ke Indonesia. Sayangnya target itu selalu meleset setiap tahun, meskipun devisa dari pariwisata terus mendekat hasil devisa dari migas.

Pada 2016 realisasi kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 11,52 juta orang dari target yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata sebanyak 12 juta wisman.

 

Pada 2017, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang sebanyak 14,04 juta, atau meleset dari target 15 juta. Sedangkan pada 2018 kemarin, BPS mencatat jumlah kunjungan wisman sepanjang 2018 hanya 15,81 juta atau sekitar 93% dari target Kementerian Pariwisata yang sebesar 17 juta kunjungan pada 2018.

Untuk 2019, Kemenpar tadinya menargetkan kunjungan wisman sebanyak 20 juta namun target tersebut dikoreksi menjadi 18 juta wisman. Jumlah kunjungan wisawatan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang periode Januari hingga Agustus 2019 mencapai 10,87 juta kunjungan. Bisa jadi target itu pun tidak tercapai.

Good News From Southeast Asia merilis pada tahun 2019 Indonesia berada di peringkat keempat data kunjungan wisman di negara-negara ASEAN. Thailand dengan 38,3 juta, Malaysia (25,8 juta), Singapura (18,5 juta), Indonesia (15,8 juta). Di bawah Indonesia ada Vietnam (15,4 juta), Filipina (7,1 juta), Kamboja (6,2 juta), Laos (4,1 juta), Myanmar (3,6 juta), dan Brunei (1,4 juta).

Beban Wishnutama

Bila melihat data tersebut, keberhasilan meraih penghargaan dan kenaikan peringkat pariwisata Indonesia hanya menjadi hiburan semata. Itulah kemungkinan, yang membuat Arief Yahya, sang The Best Marketer harus merelakan posisinya digantikan oleh Wishnutama.

Dalam pidato singkatnya usai mengumumkan nama-nama Menteri dalam Kabinet Indonesia kerja di tangga istana pada 20 Oktober 2019, Jokowi menegaskan agar menteri-menterinya bekerja yang berorientasi pada hasil nyata, tidak hanya menjamin “send”, tapi “delivered”.

Beban itu kini ditanggung oleh Wishnutama Kusubandio. Lelaki kelahiran Jayapura, 4 Meii 1970 ini dikenal sebagai orang yang kreatif dalam mengelola televisi. Dia disebut-sebut berhasil mengangkat Trans TV yang dimiliki pengusaha Chairul Tanjung. Tidak puas di Trans TV, Wishnutama lalu keluar mendirikan Net TV.

Pada awalnya Net TV yang masih memiliki area siaran terbatas, cukup diminati karena program-programnya terkesan inovatif dan disukai anak muda. Tetapi konsep itu konon disebut lebih besar pasak daripada tiang, sehingga Net TV terus mengalami kerugian dan nyaris tutup. Untuk menghindari kebangkrutan, Net TV melakukan rasionalisasi karyawan.

Wishutama juga mendapat pujian ketika ia membuat konsep menarik dalam pembukaan dan penutupan Asian Games tahun 2018 lalu, yang membuat Jokowi kepincut. Tetapi kini dia harus memikul sendiri beban yang pernah diusung oleh Arief Yahya dan Triawan Munaf, di sebuah kementerian dengan nomenklatur baru.

Mampukah dia memenuhi ekspektasi Jokowi yang ambisius? Semoga alam semesta mendukung. Tidak ada gempa bumi, gunung meletus, huru-hara politik, gejolak sosial, karhutla atau resesi ekonomi yang menyurutkan minat wisatawan asing datang ke Indonesia. Soal infrastruktur, hanya menunggu waktu. (Diambil dari tulisan Dirman 91 di ceknricek.com)

 

Share This: