Telisik Tari, Kolaborasi Balet Dengan Tari Betawi

_

Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 6 Desember 2019 mengadakan Telisik Tari, Ballet At Batavia. Acara ini akan berisikan lecture performance oleh rusdy Rukmarata dan AikoSenosoenoto, juga ada pertunjukan tari balet yang dibawakan oleh siswa-siswi SMK tari Betawi Jakarta, hasil proses bersama Andrew Greenwood, koreografer, penari dan pelatih balet alas Belanda, dan juga penampilan tari Betawai yang dibawakan gabungan sejumlah murid asal sekolah-sekolah balet di Jakarta hasil proses dengan koregrafer tari Betawi, Atien Kisam.

“Program telisik tari ini sebenarnya sejak tahun 2009 namanya program Maestro-maestro.  Periode komite saat ini merasa penting menampilkan seniman-seniman tradisional, di antaranya menampilkan Nyi Rasinah pada tahun 2014,” kata Ketua Komisi Tari Dewan Kesenian Jakarta, Yola Yulfianti, dalam jumpa pers di Jakarta, Jum’at (29/11/2019).

Jumpa per situ juga dihadiri oleh koreografer, penari dan pelatih balet asal Belanda Andrew Greenwood, koreografer tari Betawi Atiem Kisam, dan koreografer Rusdy Rukmarata.

Menurut Yola, Telisik Tari Sesi I ada cokek dan topeng, Sesi II Melayu, dan Sesi III ini terpikir untuk menampilkan balet.

“Di Jakarta ada sanggar tari balet namanya Namarina umurnya 70 tahun. Kayaknya kita perlu melihat balet , karena maestro balet bisa memperkaya tari tradisi. Lalu lahirnya program Balet in Batavia. Program yang paling penting kita akan mengeluarkan buku sejarah balet di Indonesia.

Dalam praktek keseniannya, balet kok begitu-begitu aja. Bukan begitu-begitu aja, dalam komunitas balet ya balet, tradisi ya tradisi, lalu kita exchange.”

Andrew Greenwood mengatakan, tari tradisi merupakan adalah fondasi dari balet.  “Saya senang berada di sini, karena saya mempelajari tari-tari tradisional di berbagai negera, mulai dari Rusia, Hongaria, Itali, dan sangat penting tari tradisional Indonesia untuk menjadi bagian dari balet. Ini projek yang luar biasa. Kita perlu bersatu, dan cara bersatu yang indah adalah melalui seni.”

Menurut Atien Kisam, penari balet yang secara skill kuat sekali untuk teknik disiplin bergerak. Di tari tradisional pemahaman disiplin itu melalui proses yang lama. Perlu pengenalan budayanya, latar belakang budayanya.

“Banyak sekali penari Betawi yang tidak menjelaskan latar  belakang gerakan-gerakan yang diajarkan. Badannya yang balet disuruh ke Betawi lucu banget. Tapi selama seminggu ini hasilnya dahsyat banget,” katanya.

Atiem merasa tertantang untuk ikut dalam proyek ini karena ini pertama kali Betawi dikolaborasi dengan balet. “Sebetulnya tahun 1985 saya bikin karya tahun 1985, “Enjot-Enjotan” memakai tari balet. Cuma kalau balet dua-duanya lurus, kalau dari Betawi yang satu ditekuk karena kalau dua-duanya diluruskan enggak kuat.”

Menurut Rusdy Rukmarata, tari itu seperti udara. Mau datang dari mana pun dia bisa bercampur. Pada teater ada kendala bahasa, pada musik ada kendala tangga nada. Tari ini modal paling besar untuk akulturasi.

“Kenapa kita berani di Betawi, karena Betawi itu campuran berbagai budaya. Seperti rujak juhi. Juhi dari Cina, tapi rujak juhi enggak ada di Cina,” katanya.

Persoalan dengan balet, tambah Rusdy, agak malu-malu akulturasinya. Di Betawi itu, Apakah orang Cina, orang Arab, semua merasa bagian dari budayanya. Sedangkan balet karena sistemnya penjajahan, ada kelas di masyarakat, jadi balet cuma berkembang di satu kelas.

“Kenapa kita berani dalam waktu singkat melaksanakan program ini, kita percaya orang Indonesia cepat menerima akulturasi dari mana pun,” tandas Rudsy.

 

 

Share This: