2,5 Juta Penduduk Indonesia Terinfeksi Virus Hepatitis

_

Sembilan dari 10 orang yang hidup dengan hepatitis virus tidak menyadari bahwa mereka memiliki virus hepatitis – itu lebih dari 290 juta orang di seluruh dunia. Hanya 20% orang yang hidup dengan hepatitis C mengetahui kondisi mereka dan kurang dari 10% orang yang hidup dengan hepatitis B.

Di Indonesia diperkirakan 2,5 juta penduduk terinfeksi virus Hepatitis C. Tujuan yang ingin dicapai adalah 30% orang yang terinfeksi untuk mengetahui status mereka pada tahun 2020 dan 90% pada tahun 2030 (WHO, 2016).

“Tanpa menemukan ‘jutaan angka yang hilang’ ini, meningkatkan pengetahuan masyarakat dan meningkatkan kesadaran untuk memeriksakan diri, menyediakan akses terhadap tes yang mudah serta terjangkau secara finansial tujuan dari SDGs akan mustahil dapat dicapai,” kata Edo Agustian dari Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI).

Pada 19 Oktober 2017 lalu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan izin akses obat DAA (Direct Acting-Antiviral) untuk dapat diakses secara umum.

Menurut dr. Sedya Dwisangka, Kasubdit Hepatitis Kementerian Kesehatan. Pengobatan dengan DAA ini merupakan temuan paling mutakhir yang dapat memberikan harapan hidup yang tinggi bagi mereka yang hidup dengan virus Hepatitis C.

Obat DAA yang tersedia di Indonesia saat ini menurut beliau adalah Sofosbuvir sebagai obat utama. Simeprevir dan Daclatasvir yang nerupakan obat pelengkap Sofosbuvir agar pengobatan terhadap Hepatitis C dapat efektif juga sudah tersedia di Indonesia.

Namun Daclatasvir jauh lebih efektif dan efisien dibanding obat lain karena dapat digunakan untuk semua tipe virus Hepatitis C, tingkat kesembuhan yang tinggi diatas 96%, lebih sedikit efek samping, durasi pengobatan yang singkat yaitu 3-6 bulan (tergantung kondisi), serta dapat digunakan oleh pasien ko-infeksi HIV yang sudah ikut terapi karena tidak ada kontra indikasi dengan obat anti-retroviral HIV yang tersedia di Indonesia.

Sayangnya, sampai saat ini harga Sofosbuvir di Indonesia masih sepuluh kali lebih mahal daripada harga pembelian pemerintah di India. Data September 2017, harga Sofosbuvir di India hanya $14 atau sekitar Rp. 200.000,- sementara di Indonesia harganya masih berada dikisaran Rp. 2.200.000,-.

Harga Sofosbuvir yang lebih terjangkau seperti referensi harga di India tentunya dapat meningkatkan pengobatan Hepatitis C di Indonesia. Selain harga, pedoman dan tata cara dalam penanganan Hepatitis C juga sangat penting diperhatikan.

“Pedoman dan tata cara serta jalur logistik untuk pasien harus disederhanakan,” tutur Caroline Thomas, manajer program PKNI saat presentasinya di International AIDS Conference2 018 di Amsterdam.

Setiap tanggal 28 Juli dunia memperingati Hari Hepatitis Internasional. Perjalanan penanganan penyakit ini di Indonesia dapat dikatakan masih sangat hijau, arena Sub Direktorat Hepatitis, ada di Kementerian Kesehatan baru sejak tahun 2015.

Hal itu tidak lepas dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Persatuan Bangsa – Bangsa (PBB) atau lebih dikenal dengan istilah ‘Sustainable Development Goals’ (SDGs) yang diadopsi oleh semua negara pada tahun 2015 dan juga tahun 2016 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengadopsi strategi sector kesehatan Global untuk hepatitis virus 2016 – 2021, yang menetapkan tujuan untuk mengeliminasi virus hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030.

Share This: