“Labuhan Hati”, Bukan Untuk Cinta yang Tak Berlabuh

Adegan film "Labuhan Hati" karya Lola Amaria. (Foto: Lola Amaria Production)
_

Sebagai seorang wanita, keberpihakan Lola Amaria terhadap kaumnya sangat terasa. Film-film Lola selalu menampilkan sosok wanita sebagai tokoh utama, mulai dari Betina, Minggu Pagi di Victoria Park, Sanubari Jakarta, Jingga dan kini Labuhan Hati.

Para wanita itu lalu digambarkan membawa problem yang harus dihadapi, dan bagaimana mereka menemukan jalan ke luarnya. Wanita dan cinta adalah dua elemen yang selalu muncul dalam film-film Lola Amaria. Dan untuk film terbarunya, Labuhan Hati, dua elemen itu ditambah dengan menampilkan keindahan alam Labuhan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo, Nusatenggara Timur.

Kita harus berterima kasih kepada Lola Amaria, atas jerih payahnya menampilkan berbagai sudut keindahan yang ada di kawasan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, Nusatenggara Timur. Meski pun destinasi wisata itu belakangan ini menjadi sangat terkenal, dan oleh Kementerian Pariwisata digadang-gadang sebagai salah satu dari tujuan wisata andalan yang disebut “10 Bali Baru”, banyak orang yang belum bahkan tidak beruntung untuk bisa datang ke sana. Gagasan Lola untuk menampilkan keindahan Labuhan Bajo dan Taman Nasional Komodo, seakan ingin mewakili orang-orang yang kurang beruntung itu.

Labuhan Hati menampilkan 4 (empat) orang tokoh yang saling berkaitan satu sama lain, baik karena kepentingan profesional maupun emosional. Film ini mengisahkan tentang dua orang wanita bernama Indi dan Bia yang pergi liburan bersama ke Labuhan Bajo dan Taman Nasonal Komodo. Disana keduanya bertemu dengan seorang pemandu selam bernama Mahesa dan dilayani oleh staf perusahaan jasa wisata bernama Maria , warga setempat.

Dalam perjalanan waktu, ketiga wanita itu tertarik dengan Mahesa. Ada yang mengekspresikannya dengan terbuka seperti Bia (Keline Tandiono), malu-malu tapi mau seperti Dini (Nadine Chandrawinata) atau diam-diam suka walau tidak terbuka seperti sifat Maria (Uli Auliani). Dan dalam sebuah suasana yang memungkinkan, Bia berhasil mengajak Mahesa bercumbu. Dini dan Maria yang mengetahui hal itu jadi cemburu.

Berbeda dengan Maria yang bisa memendam perasaannya, Dini lebih ekspresif dalam menyampaikan uneg-unegnya kepada Bia, sehingga keduanya terlibat konflik yang cukup panas. Hal mana menempatkan Mahesa (Raymod Y Tungka) menjadi serba salah, walau akhirnya dia bisa mengatasi keadaan.

Film Labuan Hati mengambil lokasi syuting seluruhnya di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo. Kawasan ini sejak lama sudah menjadi destinasi favorit wisatawan yang mencintai keindahan laut, selain karena keberadaan Komodo sebagai binatang purba yang langka. Lola mencoba mengeksplorasi semua  — mulai dari darat hingga bawah laut — dan menuangkan dalam film. Walau dengan durasi film yang hanya 90 menit tak mungkin menampilkan semua keindahan di destinasi wisata tersebut.

Namun demikian Lola berhasil merekam gambar dengan sudut-sudut ajaib di Labuhan Baju maupun Taman Nasional Komodo, mulai dari Pulau Padar yang memiliki pantai sangat indah dan menjadi spot menakjubkan untuk melihat panorama tiga pantai dengan warna berbeda, yaitu pink, putih, dan hitam di sekelilingnya; Air terjun Cunca Walang; Gili Laba; Pulau Rinca yang menjadi habitat komodo sertai keindahan pantai pink, meski konon warna yang terlihat difilm merupakan permainan efek computer karena Loa bersama timnya gagal datang ke pantai tersebut pada saat yang tepat.

Yang lebih membuai mata, keindahan taman laut di kawasan Komodo direkam dalam durasi yang cukup panjang. Rekaman kawanan pari manta yang bermain-main di Laut Komodo, membuat gambar-gambar di film ini tak kalah dengan film dokumenter bawah laut yang dibuat para profesional.

Hampir sepanjang durasi film penonton memang disuguhi keindahan alam Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo yang eksotik. Nah di sela-sela itulah konflik dimunculkan. Yakni antara Bia dengan suaminya yang ditinggal di rumah bersama anaknya, di mana Bia kerap bertengkar melalui telepon dengan sang suami; lalu Dini yang juga sering tertikai dengan calon suaminya; serta Maria yang terus terbayang dengan mantan kekasihnya, Hans.

Di samping konflik-konflik pribadi yang dialami oleh tiap-tiap tokoh, muncul konflik baru di antara mereka karena faktor Mahesa. Walau pun Bia maupun Dini ingin mendekati Mahesa sebagai pelarian dari persoalan yang dihadapi mereka dengan suami atau kekasih masing-masing, tetapi bila bicara tentang Mahesa, ada rivalitas yang kuat antara keduanya.

Untuk membangun konflik selama para tokoh berada di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo, Lola cukup berhasil. Sayang scenario yang ditulis oleh Titin Wattimena hanya menampilkan tokoh-tokoh pria yang menjadi suami Bia, atau kekasih Dini, hanya dalam bentuk suara di telepon. Tidak ditampilkan bagaimana sosok suami Bia maupun calon suami Dini, terlebih dalam adegan yang menampilkan mereka satu frame dengan pasangan masing-masing.

Padahal jika ditampilkan adegan kilas balik saja yang menggambarkan awal mula konflik Bia dengan suaminya, atau Dini dengan calon suami, film ini akan lebih menarik. Penonton tidak hanya mendapatkan informasi verbal, sehingga sulit diterima bagaimana Bia bisa memutuskan liburan dengan meninggalkan suami dan anaknya yang masih kecil, begitu saja.

Namun Lola maupun Titien Wattimena sang penulis skenario, sudah terbius keindahan Labuhan Bajo dan Taman Nasional Komodo, sehingga konsentrasi Lola adalah bagaimana menghasilkan gambar-gambar yang bagus dari destinasi wisata itu. Sebagai sebuah film yang menampilkan keindahan wisata, film ini berhasil. Tetapi jika berbicara tentang dramaturgi, masih terasa agak lemah.

Lepas dari kelemahan itu, upaya Lola menghadirkan keindahan alam dari destinasi wisata di Indonesia patut diapresiasi. Ketika banyak sutradara dan produser film Indonesia lupa dengan tanah airnya sendiri, Lola tampil dengan semangat yang berbeda. Ini yang membuat Lola terhitung punya kelas sebagai sutradara wanita di Indonesia. Karya Lola patut diapresiasi.

 

 

 

 

 

Share This: