Melihat Kota Tua Zagreb, Kroasia

_

Tanggal 3 Р8 Juni 2017 lalu, wartawan balailkita bersama 4 wartawan lain dari Forum Pewarta Film diundang oleh Kedubes RI untuk Kroasia di Zagreb, untuk mengikuti kegiatan Pekan Film Indonesia (Indoinesia Movie Week) di Kroasia. Selama 7 hari di Kroasia tentu saja tidak melulu kegiatan film yang diikuti, bersama rombongan saya juga menyempatkan diri untuk melihat beberapa obyek wisata di tiga kota Kroasia, yakni di Zagreb, Split dan Makarska.

Penerbangan ke Zagreb menggunakan pesawat milik Turkish Air dari Bandara Soekarno – Hatta, Jakarta. Pesawat berbadan lebar itu menempuh perjalanan tanpa henti selama 12 jam dari Jakarta hingga bandara Atatturk, Istanbul Turki. Kami sampai subuh di Istanbul. Untuk menunggu penerbangan menuju Zagreb pada pukul 17.30, kami harus stay di bandara selama 12 jam.

Sebenarnya ada keinginan untuk melihat-lihat keindahan Istanbul selama waktu menunggu, saya informasi untuk keluar bandara baru diperoleh agak sore, sehingga waktunya tidak memungkinkan untuk ke luar bandara.

Pada pukul 17.30 pesawat yang membawa kami ke Zagreb mulai take-off. Satu jam kemudian tiba di Bandara Franjo Trudman, Zagreb, yang barus sebulan dibuka. Hingga pukul 19.00 langit masih terang di Kroasia.

Oleh staf KBRI kami dibawa ke sebuah rumah makan di pinggiran Kota Zagreb. Namanya Batak Grill (kata batak di sini artinya paha ayam). Sambil dihibur oleh kelompok musik tradisional, kami makan dengan lahap. Tetapi porsi makanan di Kroasia memang luar biasa. Tiap porsi bisa dimakan untuk tiga orang, sehingga makanan yang disediakan lebih dari separuhnya tersisa. Makanan itu dibungkus, lalu dibawa ke hotel untuk yang tetap menjalankan ibadah puasa.

Hotel untuk wartawan dan anggota rombongan lain terpisah. Kami para wartawan ditempatkan di sebuah hotel kecil di pusat kota, sehingga kami bisa pergi kapan saja untuk melihat keindahan kota Zagreb dan menikmati suasananya.

Zagreb adalah ibukota Kroasia, yang juga kota terbesar di negara pecahan Yugoslavia itu. Meski pun kota terbesar, Zagreb tidak memiliki gedung-gedung pencakar langit modern. Kota ini justru dipenuhi dengan bangunan-bangunan tugas bersejarah nan artitstik. Itulah yang membuat kota ini menjadi indah. Apalgi karena kebersihan dan suasana hangatnya di musik panas, di mana kafe-kafe dipenuhi oleh manusia, baik pendatang maupun warga lokal.

Kafe-kafe di Zagreb umumnya terbuka, dan kadang menempati trotoar. Tetapi tetap terkesan rapi dan bersih. Warga Kroasia, Zagreb khususnya, sangat suka menikmati berada di kafe-kafe walau untuk sekedar minum dan ngobrol. Hampir semua kafe yang ada di pusat kota selalu penuh oleh pengunjung.

Tempat hiburan lain di Zagreb seperti bioskop bisa dihitung dengan jari tangan. Hampir semua tempat di Zagreb selalu ramai sejak pagi hingga malam. Tetapi menjelang pukul 12.00 malam suasana langsung sepi. Hanya satu dua tempat hiburan malam yang buka. Trem yang menjadi alat transportasi publik utama di Zagreb juga mulai mengurangi operasinya, sehingga banyak yang harus bergegas menuju halte trem untuk mendapatkan trem terakhir menuju tempat tinggal mereka. Selebihnya masyarakat menggunakan mobil pribadi.

Ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi wisatawan di Zagreb. Antara lain Gereja Katedral Zagreb, Kota Lama, Musium Patah Hati, Ban Jelasic Square dan musium lain. Tempat-tempat itu letaknya tidak terlalu berjauhan. Katedral Zagreb di Kaptol adalah sebuah institusi Katolik Roma dan bukan hanya bangunan tertinggi di Kroasia, tapi juga bangunan sakral paling monumental bergaya Gothic di sebelah tenggara Pegunungan Alpen.

Bangunan ini didedikasikan untuk Asumsi Maria dan raja-raja Santo Stefanus dan Saint Ladislaus. Katedral bergaya Gothic, yang memiliki nilai arsitektural yang hebat. Menara utamanya dianggap sebagai landmark karena terlihat dari sebagian besar wilayah kota. Pada tahun 1093 ketika raja Ladislaus (1040-1095) memindahkan kursi uskup dari Sisak ke Zagreb, dia memproklamasikan gereja yang ada sebagai katedral.

Pembangunan katedral dimulai tak lama setelah kematiannya dan selesai pada 1217 dan disucikan oleh raja Andrew II dari Hungaria. Bangunan itu dihancurkan oleh bangsa Mongol pada 1242 namun dibangun kembali oleh uskup Timotej (1263-1287) beberapa tahun kemudian.

Pada akhir abad ke-15, Kekaisaran Ottoman menginvasi Kroasia, memicu pembangunan dinding benteng di sekitar katedral, beberapa di antaranya masih utuh. Pada abad ke-17, sebuah menara pengawal reruntuhan yang diperkaya didirikan di sisi selatan, dan digunakan sebagai titik pengamatan militer, karena ancaman Ottoman.

Katedral tersebut rusak parah pada gempa bumi 1880 Zagreb. Nave utama ambruk dan menara itu rusak tak bisa diperbaiki lagi. Pemulihan katedral bergaya Neo-Gothic dipimpin oleh Hermann Bollé, membawa katedral tersebut ke bentuknya yang sekarang. Sebagai bagian dari restorasi tersebut, dua menara 108 m (354 kaki) tinggi diangkat di sisi barat, yang keduanya sekarang sedang dalam proses dipulihkan sebagai bagian dari restorasi katedral yang luas.

Bagian menarik lainnya dari Kota Zagreb adalah pemukiman
abad pertengahan Kaptol dan Gradec, Gornji Grad (Upper Town) yang berada di atas Kota Zagreb. Ini adalah distrik bersejarah. Dari sini kita bisa melihat bagian ibukota, yang berada di bawah.

Di tempat inilah parlemen Kroasia berkantor dan sebuah gereja tua yang biasa digunakan untuk melakukan pelantikan. Tidak jauh dari sana terdapat musium patah hati yang sangat terkenal.

Jika ingin mendapat suasana lebih, berjalanlah menyusuri jalan setapak berdaun di Promenade Strossmayer, di mana tembok kota tua pernah berdiri; Bagunan penting lainnya adalah Gereja St Mark’s mosaik, Museum Kota Zagreb dan Menara Lotrscak abad ke-13, yang terdapat kanon di atasnya. Kanonnya setiap hari di siang hari sejak abad ke-19.

Tentu saja masih banyak tempat menarik di Zagreb. Tetapi dalam waktu kunjungan yang singkat rasanya tak mungkin semua itu dapat terjangkau. (Bersambung ke: “Menelusuri Peninggalan Romawi di Split”)

Share This: