Makarska, Kota Cantik di Tepi Laut Adriatik

Mark Church, gereja bersejarah di Makarska, tempat paling menarik bagi wisatawan.(Foto: HW)
_

Makarska (diucapkan mâkarska) adalah sebuah kota kecil di pantai Adriatik Kroasia, sekitar 60 km (37 mil) tenggara Split dan 140 km (87 mil) barat laut Dubrovnik. Kota ini memiliki populasi 13.834 penduduk. Secara administratif Makarska memiliki status sebuah kota dan merupakan bagian dari Split-Dalmatia County.

Sebuah hotel di Makarska yang menghadap ke pantai. (Foto: HW)

Makarska adalah pusat wisata, terletak di teluk berbentuk tapal kuda antara pegunungan Biokovo dan Laut Adriatik. Kota ini terkenal dengan kawasan pejalan kaki yang nyaman, dimana kafe, bar dan butik menghadap ke pelabuhan. Berdekatan dengan pantai adalah beberapa hotel berkapasitas besar dan juga tempat berkemah.

Pusat Makarska adalah sebuah kota tua dengan jalan-jalan beraspal yang sempit, sebuah alun-alun gereja utama di mana terdapat pasar bunga dan buah, dan sebuah biara Fransiskan yang menampung koleksi kerang laut yang memiliki cangkang kerang raksasa.

Makarska adalah berpusat di pusat Riviera Makarska, tempat tujuan wisata populer di bawah gunung Biokovo. Ini membentang sejauh 60 km (37 mil) antara kota Brela dan Gradac.

Perjalanan ke Mamarska cukup singkat, hanya kurang dari satu jam melewati jalan-jalan berliku yang indah. Di sebelah kiri pegunungan kapur Biokovo yang memanjang. Sampai Makarska, pegunungan yang tingginya hanya beberapa ratus meter. Sedangkan di sebelah kanan laut Adriatik yang membiru. Sepanjang jalan terdapat bangunan-bangunan kecil vila-vila yang bisa disewa oleh wisatawan.

Di pantainya yang kecil-kecil tanpa pasir, terlihat wisatawan mandi di laut atau berjemur. Mereka nampaknya sangat menikmati matahari di musim panas. Banyak wisatawan asing maupun domestic yang datang dari berbagai kota di Kroasia. Selain villa ada pula area untuk membuka tenda, cottage dari kayu dan tanah-tanah lapang untuk wisatawan domestic yang membawa caravan.

Jalan Utama di Makarska (Foto: HW)

Pukul 10.00 waktu setempat kami tiba di Makarska. Cuaca sangat panas. Hampir sama dengan panas di pesisir Pulau Jawa di musim panas. Turun dari mobil kami langsung berjalan menelusuri dermaga yang bersih. Di sepanjang dermaga terdapat bangku-bangku kayu panjang dicat putih menghadap laut. Wisatawan bisa duduk-duduk santai di sini untuk menikmati angin laut.

Di dermaga bersandar perahu-perahu bermotor berukuran sedang untuk wisatawan yang ingin mengikuti tur ke beberapa pulau yang ada di laut Adriatik, seperti yang ada di Kota Split. Tetapi kami langsung menuju pantai yang sudah dipenuhi oleh wisatawan yang sedang berjemur. Tidak jauh sebelum pantai terdapat toko-toko souvenir dan kafe-kafe.

Berada di tempat panas bukanlah kebiasaan orang Indonesia, meski pun kita tinggal di negara tropis yang selalu mendapat pasokan sinar matahari hampir setiap hari. Tidak lama berada di pantai, kami menuju ke sebuah rumah makan yang terletak di Kota Lama Makarska. Letaknya agak di belakang, dengan jalan berbatu sejenis marmer kasar yang tidak bisa dilewati kendaraan. Tidak jauh dari sana terdapat sebuah gereja Santo Markus (St. Mark Church).

Santo Markus (St. Mark Church) merupakan spot berfoto paling menarik bagi wisawatan. Tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto dengan latar belakang gereja bersejarah itu. Sayang cuaca panas memang kurang mendukung untuk menghasilkan foto yang artistic secara pencahayaan.

Tidak lama berada di Makarska, setelah makan siang kami kembali ke Split untuk melanjutkan kegiatan pemutaran film Indonesia, “Gending Sriwijaya” di Kine Klub Zlara Plata, yang terdapat di Diocletian’s Palace Split. Film itu mengakhiri rangkaian Indonesia Movie Week di Krotatia, dan besok kami kembali ke Zagreb, untuk terbang ke Turki sebelum menuju Indonesia.

Merunut sejarahnya, Makarska dianeksasi oleh Kerajaan Kroasia pada abad ke-12, dan seabad kemudian ditaklukkan oleh Republik Venesia. Dengan memanfaatkan persaingan antara para pemimpin Kroasia dan perebutan kekuasaan mereka (1324-1326), Banpjijja II Kotromani Bos Bosnia mencaplok daerah pesisir Makarska. Ada banyak perubahan penguasa di sini: dari bangsawan feodal Kroasia dan Bosnia, yang berasal dari Zahumlje (belakangan Herzegovina).

Pada abad ke 15 Ottoman menaklukkan Balkan. Untuk melindungi wilayahnya dari orang-orang Turki, Duke Stjepan Vukčić Kosača menyerahkan wilayah itu kepada orang-orang Venesia pada tahun 1452. Wilayah pesisir Makarska jatuh ke tangan orang-orang Turki pada tahun 1499.

Di bawah pemerintahan Ottoman, kota ini dikelilingi tembok yang memiliki tiga menara. Nama Makarska dikutip untuk pertama kalinya dalam sebuah dokumen 1502 yang menceritakan bagaimana para biarawati dari Makarska diizinkan untuk memperbaiki gereja mereka.

Orang-orang Turki membuka jalur dengan semua bagian di Laut Adriatik melalui Makarska.O leh karena itu mereka sangat memperhatikan pemeliharaan pelabuhan tersebut. Pada tahun 1568 mereka membangun sebuah benteng pertahanan untuk melawan orang-orang Venesia. Selama pemerintahan Turki, kursi otoritas administratif dan kehakiman berada di Foča, Mostar, untuk waktu yang singkat di Makarska sendiri dan akhirnya di Gabela di Sungai Neretva.

Selama Perang Candian antara Venesia dan Turki (1645-1669), keinginan di antara orang-orang di daerah tersebut untuk bebas dari Turki meningkat, dan pada tahun 1646 Venesia merebut kembali garis pantai. Tapi periode kepemimpinan ganda berlangsung sampai 1684, sampai pendudukan Turki berakhir pada 1699.

Pada tahun 1695 Makarska menjadi tempat kegiatan keuskupan dan kegiatan komersial mulai hidup. Namun wilayah ini agak terbengkalai dan perhatian yang diberikan pada pendidikan penduduknya masih minim. Menurut Alberto Fortis dalam kronik perjalanannya (abad ke-18), Makarska adalah satu-satunya kota di daerah pesisir, dan satu-satunya kota Dalmatian yang sama sekali tidak memiliki sisa sejarah.

Setelah jatuhnya Republik Venesia, diberikan kepada orang-orang Austria oleh Perjanjian Campo Formio (1797).

Dengan jatuhnya Venesia, tentara Austria memasuki Makarska dan tetap tinggal di sana sampai Napoleon berada di atas angin. Orang Prancis tiba di Makarska pada tanggal 8 Maret 1806 dan tinggal sampai tahun 1813. Ini adalah masa-masa kemakmuran, baik dalam budaya, sosial dan pembangunan ekonomi. Di bawah peraturan Prancis semua orang sama, dan undang-undang pendidikan ditulis, untuk pertama kalinya dalam berabad-abad, dalam bahasa Kroasia disahkan. Sekolah dibuka. Makarska saat ini merupakan kota kecil dengan 1580 jiwa.

Di bawah orang Austria (1813-1918): Seperti di Dalmatia secara keseluruhan, pihak berwenang Austria memberlakukan kebijakan Italianisasi, dan bahasa resminya adalah bahasa Italia. Perwakilan Makarska di majelis Dalmatian di Zadar dan Dewan Imperial di Wina menuntut diperkenalkannya bahasa Kroasia untuk digunakan dalam kehidupan publik, namun pihak berwenang tetap menentang gagasan tersebut. Salah satu pemimpin Partai Nasional (pro-Kroasia) adalah Mihovil Pavlinović dari Podgora. Makarska adalah salah satu komunitas pertama yang mengenalkan bahasa Kroasia (1865). Pada paruh kedua abad ke-19 Makarska mengalami ledakan besar dan pada tahun 1900 ada sekitar 1800 penduduk. Ini menjadi titik perdagangan untuk produk pertanian, tidak hanya dari daerah pesisir, tapi juga dari daerah pedalaman (Bosnia dan Herzegovina) dan memiliki hubungan pengiriman dengan Trieste, Rijeka dan Split (kota).

Kongres Wina memasukan Makarska ke Austria-Hungaria, di bawahnya tinggal sampai tahun 1918.

Pada awal abad 20 pertanian, perdagangan dan perikanan tetap menjadi andalan ekonomi. Pada tahun 1914, hotel pertama dibangun, memulai tradisi wisata di daerah tersebut. Selama Perang Dunia II, Makarska adalah bagian dari Independent State of Croatia. Itu adalah pelabuhan untuk angkatan laut nasional dan berfungsi sebagai markas Komando Laut Adriatik Tengah, sampai dipindahkan ke Split.

Setelah perang, Makarska mengalami periode pertumbuhan, dan populasi meningkat tiga kali lipat. Semua keuntungan alami daerah ini digunakan untuk menciptakan kesejahteraan di Makarska, salah satu daerah wisata paling terkenal di Laut Adriatik.

Share This: