Mengapa Harus Pulang Mudik?

_

Setiap tahun, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri, “Mudik” menjadi kata yang paling akrab ditelinga kita. Berbagai media melaporkan aktivitas yang berkaitan dengan mudik, mulai dari kesiapan pemerintah, transportasi, aktivitas masyarakat menuju ke kampung halamannya baik melalaui pelabuhan laut, bandara, terminal stasiun kereta atau dengan kendaraan pribadi. Laporan media terus berlangsung mulai dari awal menjelang mudik hingga kembalinya para pemudik ke tempat tinggal mereka di kota-kota.

Kata mudik berasal dari kata “udik” yang artinya selatan/hulu. Pada saat Jakarta masih bernama Batavia suplai hasil bumi daerah kota Batavia diambil dari wilayah-wilayah di luar tembok kota di selatan. Karena itu, ada nama wilayah Jakarta yang terkait dengan tumbuhan, seperti Kebon Jeruk, Kebon Kopi, Kebon Nanas, Kemanggisan, Duren Kalibata, dan sebagainya.

Para petani dan pedagang hasil bumi tersebut membawa dagangannya melalui sungai. Dari situlah muncul istilah milir-mudik, yang artinya sama dengan bolak-balik. Mudik atau menuju udik saat pulang dari kota kembali ke ladangnya, begitu terus secara berulang kali.

Menurut Wikipedia, Mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.

Transportasi yang digunakan antara lain : pesawat terbang, kereta api, kapal laut, bus, dan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor, bahkan truk dapat digunakan untuk mudik. Tradisi mudik muncul pada beberapa negara berkembang dengan mayoritas penduduk Muslim, seperti Indonesia dan Bangladesh.

Namun mudik bukan hanya kebiasaan di negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti Indonesia atau Bangladesh. Di negara dengan penduduk mayoritas non muslim seperti Cina, tradisi mudik juga ada. Masyarakat Cina biasanya pulang mudik setiap menjelang Hari Raya Imlek. Jumlahnya sampai milyaran orang, karena Cina merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, yakni 12 milyar jiwa.

Bagi masyarakat Cina, Tahun Baru Imlek merupakan hari libur tahunan yang sangat penting. Terutama bagi para pekerja migran di kota-kota besar, seperti Beijing. Seringkali tahun baru Imlek menjadi satu-satunya kesempatan selama setahun untuk bertemu dengan keluarga dan kerabat di kampung halaman.

Menurut Rio Tuasikal di Kompasiana tanggal 12 Agustus 2012, penduduk Indonesia banyak terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Beberapa bukan penduduk asli melainkan pendatang. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya restoran berbagai budaya—seperti RM Padang, Warung Tegal dan Gudeg Yogya—di kedua kota itu. Budaya merantau memang dikenal Indonesia secara tradisional.

Indonesia adalah masyarakat kolektivis, itulah mengapa budaya mudik ini jadi tradisi. Masyarakat kolektivis adalah lebih mengutamakan makna kelompok dari pada makna individu. Kolektivisme ini berkaitan erat dengan keluarga.

Peneliti S.D. Smith dalam “Global Families” (sebagaimana dikutip dalam Samovar, 2010) menyebutkan: Berbagai penelitian menunjukkan bahwa “ketergantungan dalam keluarga lebih kuat dalam masyarakat yang kolektif” dibandingkan dengan yang individualis.

Bagaimana kuatnya hubungan kolektivisme dan keluarga terlihat dari orang yang dapat penghargaan bergengsi. Orang Indonesia akan berterimakasih pada keluarga sedangkan orang Amerika berterimakasih pada kolega.

Menurut penjelasan itu, jelas mudik berkaitan erat dengan kolektivisme. Masyarakat kolektivis memang potensial untuk kembali pada keluarganya. Namun demikian, yang membuat mudik jadi tradisi besar adalah karena balik kampung itu dilakukan secara bersamaan.

Apa yang membuatnya berbarengan? Ada satu poin yakni hari besar. Hari besar itu bisa relijius seperti Idul Fitri dan Imlek, atau bisa sekular seperti Thanksgiving. Hari besar itulah yang membuat mudik jadi hal besar. Mudik di negara lain.

Jika budaya mudik adalah karena budaya kolektivis, maka negara kolektivis lain akan punya budaya serupa mudik. Budaya mudik ini memang bukan milik Indonesia saja. Negara Asia seperti Pakistan, India, Jepang dan Cina punya tradisi serupa. Di Pakistan mudik juga terjadi saat Idul Fitri, di India ini terjadi menjelang Festival Cahaya, di Jepang menjelang Festival Obon dan di Cina selama 40 hari perayaan Imlek.

Hal menarik bahwa negara individualis seperti Amerika Serikat dan Kanada pun memiliki tradisi serupa. Mereka berkumpul dengan keluarga—dan memanggang kalkun untuk makan besar—pada Thanksgiving tiap tahunnya. Bahkan kebiasaan kumpul ini lebih ramai dibandingkan kumpul saat Natal. Lantas kenapa tradisi mudik bisa terjadi di kedua negara ini? Menurut Larry A.

Samovar (2010), hal itu berkaitan dengan sejarah. Konsep ‘keluarga inti’ telah dikenal dalam budaya Amerika sejak era kolonial Amerika (orang Inggris masuk ke Benua Amerika) dan melalui Revolusi Industri.

Menurutnya hal itu tidak banyak berubah selama 250 tahun. Menurut saya, sejarah yang serupa terjadi bagi Kanada (saat orang Prancis masuk ke benua Amerika). Satu hal unik lainnya yakni negara kolektivis

Meksiko tidak memiliki tradisi mudik. Kenapa? Hal ini karena satuan keluarga dalam masyarakat Meksiko memang besar. Dalam budayanya, keluarga yang disebut la familia itu terdiri dari kakek-nenek, ayah-ibu, paman-bibi, sepupu dan kerabat lainnya. Semuanya tinggal berdekatan. Jadi untuk apa kita pergi keluar kota jika keluarga kita sebelah rumah?

Share This: