“Bukan Cinta Malaikat” Cinta Segitiga yang Rumit

_

Entah di mana letak pesona Dewi. Kecantikannya tidak terlalu istimewa dan dia bukan datang dari keluarga kaya. Dilihat dari budi pekertinya pun, biasa-biasa aja.

Namun untuk perempuan berhijab ini, Adam, pemuda dari kalangan berada di Malaysia, rela mengorbankan segalanya. Ada pula Reyhan, lelaki asal Indonesia yang mau mempertaruhkan apapun demi Dewi. Dewi, kata Reyhan, adalah sebutan untuk bidadari yang paling cantik.
Sikap ngotot Adam dan Reyhan untuk memiliki Dewi, membuktikan adagium “cinta kuat seperti maut”. Keduanya tak memperdulikan apa pun, asal bisa memiliki Dewi.

Dewi, Adam dan Reyhan adalah nama tokoh dalam flm “Bukan Cinta Malaikat” (BCM) produksi Ganesha Film, yang dikerjakan sutradara Malaysia Azis M Osman dan Herdanius Larabu dari Indonesia.
BCM adalah sebuah film yang menggambarkan cinta segitiga yang rumit. Persoalan antara Dewi, Adam dan Reyhan seperti bergulung-gulung tak ada habisnya. Belum lagi keterlibatan orang keempat dan kelima yang memperumit persoalan.

Dikisahkan Dewi telah lama menjalin cinta dengan Adam. Ketika berada di Arab Saudi, ia menghadapi persoalan dengan pihak berwajib setempat. Reyhan yang telah lama menetap di Arab Saudi untuk menjadi relawan, membantu membebaskan Dewi.

Sejak itulah Dewi dan Reyhan menjadi dekat. Kedekatan keduanya melahirkan benih cinta di antara mereka. Tanpa ragu Reyhan menunjukkan rasa cintanya.

Dewi yang masih terikat dengan Adam, nenolak cinta Reyhan. Karena kesungguhan Reyhan, apalagi Dewi maaih sakit hati dengan sikap kakak kandung Adam, dia akhirnya menerima cinta Reyhan, dan memutuskan cintanya kepasa Adam.

Namun Adam tak putus asa. Ia menunjukkan rasa cintanya sedemikian rupa, dan bersedia mengorbankan segala-galanya demi Dewi. Akhirnya Dewi luluh, dan bersedia diajak kawin lari oleh Adam.

Sayang pernikahan mereka lagi-lagi ditentang oleh kakak perempuan Adam. Walau pun menikah secara Islam, pernikahan itu dianggap tidak sah, karena penghulu yang menikahkan, tidak memiliki “wewenang”.
Dalam kegalauan Dewi bertemu lagi dengan Reyhan lalu menerima ajakan Reyhan untuk menikah di Indonesia.

Cerita film ini sebenarnya menarik. Sarat konflik dan banyak persoalan tak terduga yang muncul. Cinta segitiga antara Adam (diperankan oleh Ashraf Muslim), Dewi (Nora Danish) dan Reyhan (Fahri Albar), seperti benang kusut yang sulit terurai. Baru satu persoalan selesai, disusul dengan persoalan berikutnya.

Sayangnya skenario film ini tidak menjelaskan bagaimana sebuah masalah terjadi, sehingga bisa dipahami secara logika. Dan hampir semua konflik yang terjadi dijawab secara verbal.

Bagian yang menjelaskan Dewi dan Adam telah menikah di sebuah tempat di Thailand, hanya dijelaskan melalui mulut Adam maupun Dewi. Keduanya mengaku telah sah sebagai suami isteri karena telah menikah secara Islam.

Pertanyaannya, begitu mudahkah pernikahan dalam Islam bisa terjadi? Siapa yang menjadi Wali Nikah bagi Dewi. Apakah penghulu tidak menanyakan asal usul. Begitu pula ketika kemudian Dewi menikah dengan Reyhan di Bandung. Prosesnya sangat mudah.

Pengabaian logika kembali terjadi ketika Reyhan pura-pura mati ditembak teroris, Dewi kemudian digambarkan kembali kepada Adam. Begitu mudahkah seorang isteri pergi setelah suaminya tertembak. Film ini tidak menjelaskan apa yang terjadi setelah Reyhan tertembak.
Sutradara terkesan mengikuti begitu saja apa maunya skenario, sehingga logika cerita dianggap tidak penting. Padahal logika cerita merupakan elemen penting yang membuat sebuah film menjadi menarik.

Secara teknis film ini juga tidak digarap dengan baik. Color gradingnya serampangan, pada bagian yang menggunakan blue screen, terlihat kasar, dan penyuntingan juga tidak cermat. Lihatlah pada adegan Reyhan dan Dewi dihadang teroris. Ketika Reyhan kabur menggunakan kendaraan setelah merebut senjata teroris dan menembaki mereka, masih ada sepotong gambar yang memperlihatkan Reyhan masih memegang senjata di luar mobil. Padahal mobilnya sudan kabur, dan Reyhan menjadi sopirnya.

Bagian menarik dari film ini justru pada tokoh kakak perempuan Adam. Pemeran tokoh ini mampu memainkan karakter antagonisnya dengan baik. Aktingnya sangat kuat. Dialah pemain terbaik dalam film ini.

 

Share This: