65 Tahun Tedjo Eddy Purdjianto: Antara Film dan Keperdulian Terhadap Bangsa.

Laksamana (Purn) Tedjo Eddy Purdjianto memberikan ucapan selamat kepada isterinya, Anna, pada syukuran ulang tahun ke-65 di Jakarta, Rabu (20/9) malam disaksikan oleh produser film "Piye Kabare, Enak Tho Zamanku", Soni Pudji Sasono -( Foto: HW)
_

Laksamana (Purn.) Tedjo Eddy Purdjianto bersama isterinya Yunika Karlina (Anna) merayakan hari ulangtahun bersama di Scenic, Lt.59 Sahid Sudirman Jakarta, Rabu (20/9/2017) malam. Keduanya meniup lilin dan memotong kue ulangtahun bersama-sama, lalu diiringi dengan lagu “Selamat Ulang Tahun” dari pada undangan.

“Saya dan isteri beda usia 7 tahun. Dan hari ulangtahun kami hanya beda berapa hari, jadi kami rayakan bersama hari ini,” kata mantan Menko Polhukam di era Presiden Jokowi itu.

Malam itu menjadi istimewa, karena acara dilanjutkan dengan syukuran dan pemutaran trailer film “Piye Kabare’ Enat tho Zamanku” karya sutradara Akhlis Suryapati. Tentu bukan kebetulan, karena Laksamana Eddy ikut menyokong pembuatan film tersebut.

“Saya tertarik dengan film, karena film itu imajinasi seseorang ditransformasikan dan divisualisasikan. Itu yang mempermudah orang untuk memahami film itu. Kalau imajinasi kan orang tidak bisa membaca, tapi kalau divisualisasikan orang bisa memahami. Film itu kan entertainnya harus ada tetapi nilai edukasinya harus ada, nilai wawasan kebangsaannya harus ada,” kata Tedjo Eddy.

Motivasinya terjun ke dunia film juga karena keprihatinan atas banyaknya film asing yang masuk ke Indonesia, sehingga film nasional terpinggirkan.

“Terlalu banyak film asing yang masuk ke negara kita. Jadi film itu sebagai bisnis. Padahal kitaharus mencerdaskan bangsa, kita harus mendorong pemerintah mendukung pembuatan film di negera sendiri, sehingga kita merasakan suasana kondusif Indonesia. Kita tidak anti asing, tapi kita munculkanlah film Indonesia,” katanya.

Lelaki kelahiran Magelang 20 September 1952 ini mengaku bersyukur atas karuania Allah yang tetap memberinya kesehatan di usia ke-65 tahun ini. Yang terpenting dari umur panjang itu adalah memberi berkah dan berguna dan orang banyak.

“Selama kita masih bisa berbuat sesuatu untuk anak bangsa, kita berikan sesuatu. Termasuk kita memberikan pemahaman kepada anak bangsa seperti contoh tadi melalui film terus kita berkumpul di sini adalah ajang silaturahmi menurut saya. Yang penting sejak muda sampai kapan pun kita harus perduli dengan bangsa ini,” tambahnya.

Meski pun tidak lagi menjabat sebagai Menko Polhukam, Laksamana Tedjo tetap memperhatikan situasi dan kondisi kebangsaan, terutama dengan kegaduhan-kegaduhan yang terjadi akhir-akhir ini, di mana bangsa terancam oleh debat perbedaan yang tidak produktif, termasuk isyu-isyu tentang kebangkitan PKI yang kembali muncul.

“Saya memperhatikan bahwa kegaduhan bangsa ini akibat orang tidak focus pada pekerjaannya. Seorang anggota legislatif berbicara proyek, itu kan urusannya pemerintah. Seorang dokter bicara impor daging. Tidak fokus. Jadi rame. Seharusnya kita ofkus kepada pekerjaan kita, sehingga kita tidak menyinggung orang lain, menyakiti perasaan orang lain,” tegasnya.

Bapak empat anak yang telah memiliki 3 menantu – semuanya anggota TNI AL – dan 7 cucu ini berharap ke depan Indoensia menjadi negara yang makmur, adil, rakyatnya sejahtera, dan kehidupan negara kita aman tentram.

“Saya juga tidak berhenti berbuat sesuatu, memberikan wawasan kebangsaan dan nasiponalisme dan lain sebagainya. Bukan berarti setelah pensiun kita tidak perduli dengan bangsa ini, kita tetap harus berbuat. Sejak pensiun saya sering turun naik taksi ke warung-warung saya tanyakan apa sih masalah yang dihadapi dan yang diinginkan dari pemerintah kita, nah itu yan gkita sampaikan kepada pemerintah,” kata suami dari Yusfin Karlina (Anna) ini.

Share This: