Bondan Winarno, Pria yang Menginspirasi Banyak Lelaki Suka Memasak Itu Telah Pergi.

Foto: WWF
_

“Maknyus!” kata itu menjadi begitu populer dalam beberapa belas tahun terakhirm ini. Tidak hanya di kalangan orang Jawa, hampir semua orang di Indonesia, suka mengucapkannya. Bukan hanya untuk memuji rasa makanan, tetapi h semua hal yang menyenangkan

Dalam bahasa jawa, maknyus sendiri secara sederhana diartikan sebagai ‘enak‘ atau ‘lezat‘. Kata maknyus sebenarnya terdiri dari dua kata, yaitu partikel mak dan kata nyus.

Partikel mak dalam bahasa jawa berfungsi untuk menjelaskan atau menggambarkan sebuah keadaan, aktifitas atau kondisi.
Uniknya, partikel mak ini kemudian hampir selalu diikuti dengan sebuah kata yang dihasilkan dari tiruan bunyi atau ‘efek’ yang dihasilkan dari sebuah kejadian tersebut.

Misalnya untuk kata-kata menohok, orang Jawa mengatakannya Makjleb. Jleb itu untuk menggambarkan sesuatu yang menusuk, seperti pisau. Jleb!

Popularitas kata Maknyus, tidak bisa dimungkiri karena jasa Bondan Winarno, wartawan, penulis, yang kemudian dikenal sebagai pakar kuliner.

Bondan sempat menjadi host acara kuliner di sebuah stasiun televisi. Melalui acara yang dipandunya, dia selalu memperkenalkan masakan baru. Dia mencicipinya. Setiap kali selesai mencicipi makanan, dia selalu mengatakan “Maknyus!” yang artinya kira-kira, enak, lezat.

Dan keahlian menhenal resep makanan, membuat acara yang dipandunya menarik. Tidak hanya untuk kaum wanita, tetapi juga untuk para pria.

Harus diakui, Bondan Winarno pula yang berjasa membawa dunia kuliner, dalam kehidupan lelaki. Saat ini urusan masak-memasak bukan lagi hal yang dianggap tabu bagi kaum pria di Indonesia.

Apa yang dilakukan Bondan juga bukan sesuatu yang orsinil. Jauh sebelum ia tampil di televisi, sebagian pemirsa televisi sudah mengenal acara kuliner Wok With Yan. Tetapi iti barang impor. Bondan mempelopori acara kuliner yang dipandu lelaki di kalangan bangsa sendiri. Bedanya lagi, Wok With Yan memasak sendiri, Bondan Winarno hanya menilai masakan orang lain.

Meenurut Kompas.com, Harian Kompas pada 25 April 2004 memuat cerita tentang sosok Bondan. Bondan mengaku bahwa hobi memasak diperoleh dari ibunya.

Sebelum jatuh cinta pada dunia kuliner, Bondan menilai urusan masak-memasak adalah urusan menyebalkan. Katanya, waktu itu ia selalu merasa sebal setiap kali ibunya meminta dia untuk membantu memasak di dapur.

Keahlian memasak Bondan yang menikah dengan wanita Spanyol bernama Yvonne semakin terasah berkat ajaran adik iparnya yang memiliki restoran di Italia.

Bondan lahir 29 April 1950 di Surabaya. Masa sekolah hingga kuliah dihabiskan di Semarang, Jawa Tengah. Ia pernah belajar di Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip).

Sebelum dikenal sebagai pakar goyang lidah, Bondan tercatat pernah bekerja sebagai Staf Bank Dunia untuk Urusan Eksternal. Setelah itu ia terjun dalam bidang jurnalisme hingga menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Suara Pembaharuan di Jakarta sejak 2001.

Bondan ternyata sudah dirawat di rumah sakit sejak beberapa bulan terakhir. Demikian ditulis Kumparan,com. Ia bahkan disebut sudah sakit sejak 2005 lalu. Di tahun itu, ia masih aktif memandu acara menjajal makanan, Wisata Kuliner yang tayang di Trans TV.

Dalam sebuah tulisan di komunitas Facebook Jalansutra, Bondan pernah mengungkap penyakit yang dideritanya. “Mohon maaf bila selama beberapa hari ini saya menyembunyikan sebuah rahasia besar dari Anda semua. Saya ceritakan sejak latar belakangnya,” tulis Bondan.

Dalam ceritanya Bondan mengatakan, dia merasakan ujung-ujung jari tangan kanannya ba’al alias kesemutan pada 2005 saat dirinya sedang terbang dari Singapura menuju Jakarta.

Begitu tiba di Jakarta, dia meminta saran dari dokter dan dianjurkan menuju rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan MRI. Bondan memeriksa di RS Premier Bintaro.

Hasil pemeriksaan itu memperkirakan Bondan mengalami penyumbatan arteri jantung dan harus menjalani kateterisasi. Namun di sisi lain, neurologis di rumah sakit yang sama juga mengatakan bahwa Bondan sama sema sekali tak menderita penyakit jantung.
Bondan pun mencari opini kedua dengan memeriksakan diri ke RS Pondok Indah.

“Kesimpulan sama: kardiologis bilang harus kateterisasi segera. Neurologis RSPI juga bilang: bukan masalah jantung,” tulis Bondan.

Dalam situasi bimbang itu, Bondan memuntuskan tidak akan menjalani kateterisasi.

Ia pun hanya minum Plavix, pil pengencer darah untuk menghindari penyumbatan arteri. Setahun setelah rutin meminum pil itu, Bondan justru nyaris pingsan di rumah Yohan Handoyo. Itu setelah dia minum anggur dan makan steak masakan Adi Taroe.

Pada April 2016, Bondan kembali membuat janji di Kuala Lumpur. Namun hasilnya tak memuaskan. April 2017, Bondan lebih banyak berkonsultasi dengan ahli aneurysm. Sampai pada Juli 2017, dokter menemukan bahwa katup aorta Bondan Bocor.

Di RS Harapan Kita, dokter juga menemukan kelainan lain yang mesti ditangani. Bondan kemudian melakukan operasi. “Ini adalah pembedahan paling berat, rumit, dan sulit, berlangsung 5-6 jam,” tulis Bondan.

Pada 27 September pagi, bondan menjalani dua operasi sekaligus: penggantian katup aorta dan penggantian aorta yang nengalami dilatasi. Operasi yang berlangsung selama lima jam itu dinyatakan berhasil.

Namun ternyata, setelah operasi Bondan mengalami kejang-kejang dalam tidur yang berarti denyut jantungnya tidak beraturan alias aritmia. Setelah 72 jam kondisi Bondan tak membaik. Baru beberapa saat setelah itu kondisinya menunjukkan perbaikan.

“Miracle happens. Selasa malam, ketika perawat sedang mempersiapkan saya untuk didorong ke kamar operasi, tiba-tiba denyut nadi saya berirama kembali. Operasi dibatalkan. Saya lega setengah mati,” kata Bondan.

Sejak saat, Bondan menjalani pemulihan. Kondisinya kerap naik turun hingga mengembuskan nafas terakhir pada Rabu (29/11).

Bondan Winarno lahir Surabaya, Jawa Timur, 29 April 1950. Ia meninggal dunia pada Rabu (29/11/2017) pagi di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. (Dari berbagai sumber)

 

Share This: