Film “Mata Dewa”: Kompetisi Bola Basket Dari Kacamata Pengamat Sepakbola

Agatha Chelsea dan Kenny Austin dalam film "Mata Dewa" (Foto: Sinema Imaji)
_

Kehidupan para atlit, suasana kompetisi di lapangan yang membangkitkan emosi, merupakan obyek menarik untuk diangkat ke dalam film. Begitu banyak elemen dramatik yang bisa dimunculkan ke dalam film, dari dunia olahraga. Namun keberhasilan itu sangat tergantung pada kemampuan penulis skenario maupun sutradara untuk mewujudkannya.

Sinema Imaji bekerjasama dengan DBL lndonesia dan Shanaya Film memproduksi film Mata Dewa yang terinspirasi dari salah satu cerita pemain liga DBL. Film bergenre drama olahraga remaja ini bintangi oleh Kenny Austin, Agatha Chelsea, Brandon Salim, Valerie Tifanka, Nino Fernandez, Ariyo Wahab, Dodit Mulyanto, dan penampilan khusus Augie Fantinus dan Udjo Project Pop. Selain itu, film inijuga melibatkan pemain basket dari Developmental Basketball

Kisah Dewa 

Film drama olahraga remaja ini mengisahkan tentang siswa dari pemain basket bernama Dewa (Kenny Austin) yang tinggal di rumah susun dengan pamannya, Om Bowo (Dodit Mulyanto). Dewa ingin membawa sekolahnya, SMA Wijaya, menjadijuara DBL untuk yang pertama kalinya. Dewa dan timnya harus berjuang sendiri karena mereka minim dukungan dari teman-teman dan pihak sekolah. Tim basket SMA Wijaya kalah prestasi dari tim voli maupun tim sepak bolanya.

Dalam musim pertama kompetisi, Dewa begitu semangat hingga ia bermain terlalu egois, bahkan dalam suatu pertandingan, Dewa berselisih paham dengan Bumi (Brandon Salim). AlhaSil mereka gagal, dan satu sama lain saling menyalahkan. Kegagalan ini membuat pihak sekolah memberikan peringatan kepada coach Miko (Nino Fernandez) dan tim basket Wijaya, kalau gagal di musim berikutnya, tim basket akan dibubarkan.

Pada musim kompetisi berikutnya, Dewa dan timnya berjanji untuk bertanding lebih baik. Bumi kini berada di tribun penonton untuk memimpin dukungan teman-teman sekolahnya. Salah seorang wartawan sekolah, Bening (Chelsea Agatha), datang ke kehidupan Dewa dan aktif mendokumentasikan tim sekolah SMA Wijaya.

Kurang Detail

Andibachtiar Yusuf Siswo adalah seorang sutradara yang memiliki ketertarikan dengan dunia olahraga, khususnya sepakbola. Dia juga dikenal sebagai komentator / pengamat sepakbola.

Andi pernah membuat film panjang mengenai kehidupan supporter sepakbola di Jakarta yang berjudul Jakarta is Mine, lalu The Jak, Romeo Juliet dan The Conductors. Film dokumenter pendeknya dipilih sebagai elemen resmi di Piala Dunia Sepakbola pada tahun 2006.

Dua buah film dokumenter panjangnya, The Jak (2007) dan The Conductor (2008) telah diputar di berbagai festival dan penggemar sepakbola di seluruh dunia. Ia jugamembuat film Romeo Juliet (2009), Hari Ini Pasti Menang (2013) dan Garuda 19 (2014) sebagai penulis skenario dan sutradara.

Dari beberapa film cerita panjang yang dibuatnya (feature film), Romeo Juliet merupakan yang paling memikat. Ia berhasil menggabungkan antara dokumenter dan drama (dokudrama). Film-film karyanya yang lain setelah itu, terasa kurang gregetnya. Kurang dalam dan tidak masuk ke dalam persoalan yang lebih dramatis dari para tokoh yang ada di dalamnya.

Kelemahan itu terulang lagi dalam film Mata Dewa. Entah karena dunia bola basket bukan domainnya atau ini hanya sekedar memenuhi pesanan pemilik modal. Andibachtiar Yusuf tidak berhasil mengangkat aspek dramatik yang kuat dari kehidupan para pebasket dan nuansa kompetisi yang membangkitkan emosi.

Judul film ini Mata Dewa diambil dari kondisi mata pemain bernama Dewa yang mengalami cedera sehingga menghambat kariernya sebagai pemain. Sayangnya Yusuf tidak masuk ke dalam pergulatan batin tokoh Dewa ketika ia mengalami cedera, dan bagaimana ia kemudian bangkit lagi. Andi hanya mengangkat kulit-kulitnya saja dari kehidupan Dewa.

Hal yang sama juga terjadi pada penggambaran tokoh-tokoh lain, seperti tokoh Bening (Chelsea Agatha), wartawati sekolah yang memiliki peran penting membangkitkan dukungan supporter melalui media social dengan film-film yang dibuatnya; atau tokoh Bumi (Brandon Salim) yang bekerja keras mengumpulkan supporter untuk mendukung tim basket SMA Wijaya. Peran mereka tidak digarap lebih detil, seolah hanya pelengkap saja.

Arena kompetisi yang semestinya bisa menggiring emosi penonton ke dalam eforia, rasa marah, penasaran, was-was atau deg-degan, tidak tergarap dengan baik.

Andi gagal memasukan elemen-elemen dramatik. Atmosfir di lapangan kurang bergemuruh, angle-angle pengambilan gambarnya monoton; kurang sekali shot-shot dramatis atau permainan efek gambar yang kreatif. Ilustrasi musik yang digarap oleh Thoersi Ageswara juga kurang berhasil medukung suasana kemeriahan di lapangan.

Sementara itu tokoh pelatih yang diperankan oleh Nino Fernandes, terkesan terlalu lembut, dialog-dialognya tidak menggugah. Potongan-potongan gambar kisah nyata para pebasket yang ditampilkan menjelang credit title justru lebih menarik.

 

 

 

Share This: