Semalam di Hotel EDC Chow Kit, Kuala Lumpur

_

Chow Kit adalah sebuah kawasan  kota di Kuala Lumpur yang cukup ramai. Bagi orang Indonesia, Chow Kit nyaris seperti kampung halaman sendiri, karena di banyak imigran dan TKI yang bekerja di sektor perdagangan. 

Kawasan ini dekat dengan gedung terpenting di Kuala Lumpur, yaitu PWTC (Putra World Trade Centre) yang menjadi sebuah pusat perdagangan sekaligus markas UMNO, sebuah fraksi khusus ras Melayu dari partai terbesar di Malaysia yang bernama Barisan Nasional (BN).

Tepat di depan PWTC adalah Sunway Putra Mall, sebuah mall besar yang dimiliki oleh Sunway Group yang bisa diibaratkan sebagai Ciputra atau Serpongnya Malaysia. Di arah timur dua bangunan bisnis tersebut, terbentang sebuah jalan raya menuju Chow Kit.

Chow Kit adalah tempat yang menampung banyak pekerja dan pendatang luar negeri seperti dari Bangladesh, Myanmar, dan Indonesia. Chow Kit menjadi semacam “miniatur” Indonesia dengan berbagai pernak-perniknya mulai dari kuliner hingga gaya hidup.

Di Chow Kit kita dengan mudah menemukan makanan yang sesuai dengan lidah Indonesia, karena di sana banyak rumah makan Jawa, Minang, atau masakan khas Indonesia lainnya.

Jika bisa menyempatkan diri masuk ke pasar tradisional Chow Kit yang membentang dari Jalan Chow Kit hingga Jalan Raja Bot, kita akan mendengar orang-orang berbicara dengan bahasa Jawa. Suasana di pasar tersebut tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional di Indonesia.

Tidak sulit mencapai Chow Kit, karena ada jalur LRT (Light Rapid Transport, kereta listrik di Kuala Lumpur) dan terus berjalan ke arah timur, dan yang kedua adalah turun di stasiun monorell, dan bus kota yang nyaman.

Bertahun-tahun nama Chow Kit dikenal sebagai kawasan hitam di Kuala Lumpur. Di kawasan ini tetdapat banyak penjaja seks dan pengguna dadah (narkoba).

“Tetapi sekarang tak ada lagi. Kerajaan sudah melarang itu semua, sehingga Chow Keat menjadi kawasan yang aman, nyaman dan bersih,” kata Mokhtar Osman, Manajer Operasional EDC Hotel, di Jl. Raja Laut, Chow Kit.

Hotel EDC adalah hotel yang dimiliki University of Utara Malaysia. Hotel ini bertaraf tiga bintang. Walaupun tiga bintang,  fasilitas hotel ini melebihi tiga bintang.

Foto: HW

BALAIKITA mendapat kesempatan untuk menginap di hotel yang baru dibuka itu, difasilitasi oleh Malaysia Tourism Information Center (MaTIC). Setelah mengikuti travelling di Johor Island, BALAIKITA dan dua orang wartawan dari MNC Grup langsung diantar ke hotel tersebut.

Suasana baru benar-benar terasa. Pendingin ruangannya sangat kuat. Bahkan duduk di lobi saja membuat rasa dinginnya menyusup ke tulang. Masing-masing kami mendapatkan sebuah kamar deluxe. Meski pun EDC menempatkan diri sebagai hotel bintang tiga, kamarnya terasa mewah.

Ada televisi dengan 200 saluran, wifi, lemari pendingin dan kamar mandi yang nyaman. Sayangnya karena benar-benar masih baru, sambungan telepon belum bisa digunakan.

EDC memiliki lounge, 2 restoran:  Sudirman dan Raja Laut. Gym untuk tamu yang menjaga kebugaran, 7 meeting room dan 1 ballroom untuk 500 orang. Dari ketujuh meeting room yang paling besar  bisa menampung sampai 300 orang.

Foto: HW

“Saye nak buat hotel ini the best three stars hotel in Kuala Lumpur,” kata Mokhtar. “Walau pun hotel ini duduk di Chow Kit, seperti mana orang tahu Chow Kita adalah tempat yang kurang enak didengar, tetapi di Chow Kit sudah ada hotel internasional bernama Hilton. Dan sekarang Kerajaan nak merubah Chow Kit menjadi tempat bisnis yang aman dan nyaman,” tambahnya.

Penjelasan Mokhtar mungkin benar. Tetapi bayangan gelap Chow Kit masih tersisa sedikit. Malam ketika BALAIKITA datang, sempat keluar hotel sebentar untuk membeli makanan ringan. Sekitar 100 meter dari hotel, dekat minimarket milik pedagang keturunan India, masih terlihat ada wanita malam yang menawarkan diri.

Suasana di Chow Kit tidak seberapa dibandingkan beberapa kawasan merah di Indonesia atau beberapa negara lain. Malam itu suasana di jalan terasa sepi. Di atas jam 12 malam, di dekat hanya beberapa minimarket yang masih buka. Padahal di siang hari suasana di sana ramai sekali.

Apa pun wajah Chow Kit, Mokhtar sangat yakin hotel dikekolanya akan menjadi pilihan tamu-tamu, terutama wisatawan asing yang datang ke Kuala Lumpur. “Walau pun ada Hilton, kami boleh lawan. Karena dari segi harga, fasility, pelayanan dan hospitality terbaik yang kita berikan,” Mokhtar berpromosi.

Kehadiran EDC Hotel di Jalan Raja Laut bisa jadi akan merubah imej Chow Kit, dari kawasan bercitra suram menjadi kawasan yang menarik. Semoga.

 

 

 

Share This: