Mahasiswa Minta Rektor dan Direktur STT Setia Dibebaskan

Mahasiswa STT Setia berunjuk rasa di PN Jaktim, meminta Rektor STT Matheus Mangentang dibebaskan oleh Pengadilan, Senin (4/5/2018) siang.
_

Pekikan permintaan agar Rektor Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar (STT Setia), Matheus Mangentang dan Direktur STT Setia, Ernawaty Simbolon dibebaskan, terdengar berulang-ulang di luar halaman gedung Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) Senin (4/6/2018) siang tadi.

Beberapa orang lainnya melakukan orasi menggunakan pengeras suara. Beberapa spanduk putih dengan tulisan cat merah dan pataka STT Setia bergambar salib dan bendera merah putih dikibar-kibarkan.

Siang itu, puluhan mahasiswa STT Setia menggelar unjuk rasa di depan pengadilan, meminta agar pengadilan membebaskan Matheus Mangentang dan Ernawaty Simbolon. Keduanya dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan hukuman penjara 9 tahun dan denda Rp,1 mikyar, dengan tuduhan menjalankan pendidikan tanpa ijin dan mengeluarkan ijazah palsu.

Agenda persidangan Senin siang ini adalah pembacaan pembelaan dari pihak terdakwa. Selain pembacaan pembelaan oleh kuasa hukum terdakwa, Dr. Tomy Sihotang, SH, LLM, Matheus dan Ernawaty Simbolon juga membuat nota pembelaan sendiri. Keduanya membacakan nota pembelaan pribadi masing-masing, sebelum tim kuasa hukumnya membacakan pembelaan.

Dalam pembelan pribadinya Matheus Mangentang S.Th menyatakan, STT Setia bersama sekolah sekolah teologia yang lain sudah melahirkan 12 ribu alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan banyak yang menjadi pemimpin, pejabat, guru, PNS dan TNI.

“Sangat ironis upaya mencerdaskan bangsa justru dituduh dengan perbuatan kriminal dengan tuntutan 9 tahun penjara dan denda satu miliar rupiah, “ katanya.

Dalam perjalanan 30 tahun di dunia pendidikan, Matheus Mangentang menyataan, dia hanya berpikir bisa mengangkat harkat dan martabat masyarakat melalui jalur pendidikan. Dia tidak berpikir untuk memperkaya diri. Dirinya bahkan masih mengontrak rumah dan tidak memiliki apa-apa.

“Mengapa saya justru dikenai tuntutan yang melebihi koruptor dan bandar narkoba? ” tanyanya.

Sambil beberapa kali mengusap airmata dengan sapu tangan, Ernawaty Simbolon selaku Direktur STT Setia, mengemukakan, saksi-saksi yang memberikan keterangan palsu yang memberatkan tuduhan padanya dengan memberikan keterangan yang bertolak belakang dari kenyataan yang ada. Bahkan ada penyalahgunaan surat kuasa oleh si pelapor

Ernawaty yang juga alumni STT Setia 1995 dan mendapat ijazah tahun 2000 menegaskan, darinya tidak ada janji apa pun untuk penggunaan ijazah STT Setia untuk perluan diluar kepentingan di luar internal STT Setia.

Erna berharap Majelis Hakim membebaskan dirinya karena ia memiliki jemaat yang harus dilayani, orangtua dan anak angkat yang harus diurus.

Sedangkan Tommy Sihotang SH dari tim pembela menyatakan, ada banyak keanehan dalam perkara ini, yang dipaksakan terus menerus, kliennya dikejar terus, dilakukan penahanan.

“Kurang kerjaan ‘kah, polisi mengejar ngejar warga negara yang berpofesi sebagai pendidik dan pendeta, lalu Jaksa juga menuntut tidak masuk akal. Kok negara mencari-cari kesalahan warga negatanya,” katanya.

Tomy menegaskan akan melaporkan tindakan jaksa yang dinilai melampaui batas ke Kejaksaan dan ke Komisi Pengawas Jaksa. “Orang yang tidak bersalah, pernah dibebaskan dalam kasus yang sama, dituntut sembilan tahun. Teroris saja ada yang tidak dituntut begitu tinggi! Ada apa ini!?” kata Tommy.

Ditambahkan, tidak ada minimal dua alat bukti yang sah untuk menyatakan terdakwa menyelenggarakan kegiata pendidikan tanpa izin. Dengan demikian pasal pasal yang didakwakan tak bisa diterapkan.

Sidang akan dilanjutkan dengan tanggapan (duplik) dari pihak jaksa.
“Sangat ironis upaya mencerdaskan bangsa justru dituduh dengan perbuatan kriminal dengan tuntutan 9 tahun penjara dan denda satu miliar rupiah, “ katanya.

Dalam perjalanan 30 tahun di dunia pendidikan, Matheus Mangentang menyataan, dia hanya berpikir bisa mengangkat harkat dan martabat masyarakat melalui jalur pendidikan. Dia tidak berpikir untuk memperkaya diri. Dirinya bahkan masih mengontrak rumah dan tidak memiliki apa-apa.

“Mengapa saya justru dikenai tuntutan yang melebihi koruptor dan bandar narkoba? ” tanyanya.

Sambil beberapa kali mengusap airmata dengan sapu tangan, Ernawaty Simbolon selaku Direktur STT Setia, mengemukakan, saksi-saksi yang memberikan keterangan palsu yang memberatkan tuduhan padanya dengan memberikan keterangan yang bertolak belakang dari kenyataan yang ada. Bahkan ada penyalahgunaan surat kuasa oleh si pelapor

Ernawaty yang juga alumni STT Setia 1995 dan mendapat ijazah tahun 2000 menegaskan, darinya tidak ada janji apa pun untuk penggunaan ijazah STT Setia untuk perluan diluar kepentingan di luar internal STT Setia.

Erna berharap Majelis Hakim membebaskan dirinya karena ia memiliki jemaat yang harus dilayani, orangtua dan anak angkat yang harus diurus.

Sedangkan Tommy Sihotang SH dari tim pembela menyatakan, ada banyak keanehan dalam perkara ini, yang dipaksakan terus menerus, kliennya dikejar terus, dilakukan penahanan.

“Kurang kerjaan ‘kah, polisi mengejar ngejar warga negara yang berpofesi sebagai pendidik dan pendeta, lalu Jaksa juga menuntut tidak masuk akal. Kok negara mencari-cari kesalahan warga negatanya,” katanya.

Tomy menegaskan akan melaporkan tindakan jaksa yang dinilai melampaui batas ke Kejaksaan dan ke Komisi Pengawas Jaksa. “Orang yang tidak bersalah, pernah dibebaskan dalam kasus yang sama, dituntut sembilan tahun. Teroris saja ada yang tidak dituntut begitu tinggi! Ada apa ini!?” kata Tommy.

Ditambahkan, tidak ada minimal dua alat bukti yang sah untuk menyatakan terdakwa menyelenggarakan kegiata pendidikan tanpa izin. Dengan demikian pasal pasal yang didakwakan tak bisa diterapkan.

Sidang akan dilanjutkan dengan tanggapan (duplik) dari pihak jaksa.

Share This: