Persatuan Dokter Muda Minta Ijazah Mereka Tidak Ditahan

Para dokter muda alumni dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, melakukan unjuk rasa di Jakarta, Kamis (19/7/2018) siang. Mereka meminta agar uji kompetensi dokter dihapuskan, (Foto: HW)
_

Sekitar 100 dokter muda lulusan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Dokter Muda Indonesia (PDMI), Kamis (18/7/2018 menggelar unjuk rasa di depan Istana Merdeka Jakarta. Unjuk rasa dilakukan untuk menuntut agar ijazah mereka yang ditahan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) dikeluarkan.

“Ijazah itu hak kami, harus dikeluarkan. Sekaramg ijazah kami ditahan, kami diwajibkan mengikuti uji kompetensi dulu. Itu akal-akalan Dirjen Dikti untuk mencari uang, karena untuk mengikuti uji kompetensi itu kami harus membayar antara 800 ribu sampai 1 juta rupiah,” kata Dayan S. Nasution, Dokter muda lulusan Universitas Sumatera Utara, Medan.

Ditemui di Jl. Merdeka Barat, rombongan tengah beiringan menuju Istana Merdeka untuk menemui Presiden Joko Widodo. Mereka berharap presiden dapat membantu masalah yang mereka hadapi.

“Harapan kami sangat tinggi kepada presiden, supaya bisa membantu masalah kami ini. Kami yakin presiden memahami masalah kami,” kata Dayan.

Dikutip dari tirto.id, Sejak 2014, uji kompetensi menjadi momok lebih dari 2.700 dokter yang menanti ijazah kedokteran. Beberapa di antara mereka bahkan mengikutinya lebih dari 20 kali. Hasilnya nihil.

Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dengan menggaet beberapa instansi dan organisasi profesi. Di antaranya Kementerian Kesehatan, Konsil Kedokteran Indonesia, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, dan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia.

Uji kompetensi terdiri dua jenis tes, yaitu Computer Based Test (CBT) dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Singkatnya, CBT merupakan ujian tertulis dan OSCE adalah ujian praktik.

Uji kompetensi dilakukan secara nasional dan serentak, empat kali dalam setahun: Februari, Mei, Agustus, dan November. Untuk dapat mengikuti tes ini, panitia nasional memungut biaya Rp1 juta per orang. Rinciannya: Rp400 ribu untuk CBT dan Rp600 ribu untuk OSCE.

Pasal 1 Peraturan (Permen) Kemenristek dan Pendidikan Tinggi No.11 tahun 2016, menyebutkan, Sertifikat profesi dokter atau dokter gigi merupakan dokumen pengakuan untuk melakukan praktik profesi yang diperoleh lulusan program profesi dokter atau dokter gigi setelah lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter atau Dokter Gigi, untuk selanjutnya mendapatkan sertifikat kompetensi dariĀ  Organisasi Profesi.

Pasal (2) Sertifikat profesi dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai pengganti ijazah dokter atau dokter gigi yang berlaku seumur hidup.

PDMI dalam unjuk rasa kemarin meminta agar Permen No.11 tahun 2016 dicabut, dan ijazah lulusan kedokteran yang masih ditahan, diberikan.

Share This: