Lebaran Betawi, Lebaran Tanpa Tradisi Maaf Maafan

_

Umat muslim di seluruh dunia umumnya mengenal ada dua lebaran, yakni Idul Fitri 1 Syawal Hijriah dan Idul Adha (Lebaran Haji). Tetapi masyarakat Betawi memiliki tiga kali lebaran. Selain Idul Fitri dan Idul Adha, ada satu yang khusus, yakni Lebaran Betawi.

Selama tiga hari berturut-turut, 27 -29 Juli 2018, Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Situ Babakan di Jagakarsa menjadi tempat pelaksanaan Lebaran Betawi 2018. Ribuan pengunjung datang dari berbagai penjuru, utamanya masyarakat Jabodetabek. Pemprov DKI menyediakan busway gratis dari berbagai tempat tujuan Situ Babakan.

Lebaran Betawi dihadiri oleh Gubernur DKI Anies Baswedan pada tanggal 28 Juli, dan Wagub DKI Sandiaga Uno sehari sebelunnya. Sejumlah tokoh-tokoh Betawi juga datang, berbagai hiburan ditampilkan, segala macam kuliner bertebaran. Masyarakat umum bisa menikmatinya, tentu saja dengan merogoh kocek yang lebih dalam dari biasanya.

Musik Tanjidor

Dibanding dua hari raya umat muslim yang kerap disebut lebaran, usia Lebaran Betawi relatif muda, yakni baru 10 tahun. Lebaran Betawi sendiri pertama kali digagas oleh Amarullah Asbah. Dia adalah Wakil Ketua Umum Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi pada 2008.

Amarullah mengusulkan dibuat ‘Hari Raya Lebaran betawi’ sebagai ajang silaturahmi masyarakat Betawi yang tinggal di berbagai daerah, tidak hanya di Jakarta, agar masyarakat saling mengenal dan mencintai budaya Betawi.

Melihat Lebaran Betawi 2018 di Situ Babakan, kesan yang tertangkap adalah semacam sebuah festival, sebuah event budaya Betawi. Masyarakat datang untuk berekreasi, menikmati pertunjukkan, kuliner atau memberi barang-barang lain yang banyak dijajakan.

Kuliner Betawi Kerak Telor

Jadi berbeda dengan kedua hari raya umat muslim — Idul Fitri dan Idul Adha — yang namanya Lebaran Betawi lebih kepada acara “kriyaan” semata. Tidak ada aksi bersalam-salaman antarsesama pengunjung. Kalau pun ada salam-salaman antarorang-orang yang sudah saling mengenal, tidak terucap kata maaf memaafkan.

Dalam acara Lebaran Betawi di Situ Babakan, kesan “kriyaan” / pesta / festival sangat menonjol. Bangunan-bangunan yang ada di Situ Babakan, terutama yang mengelilingi arena pertunjukkan seperti ampiteater dihias oleh berbagai jenis tanaman dan bunga yang indah. Bila melihat banyaknya tanaman dan bunga yang memenuhi jalan, pintu masuk hingga badan bangunan, pasti biayanya cukup mahal.

Semua bangunan yang ada dinamai dengan keenam wilayah di Jakarta, yakni Jakarta Selatan, Jakarta, Barat, Jakarta Utara, Kepulauan Seribu, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. Abang dan None dari setiap wilayah bersiaga di setiap pintu masuk wilayah tempat tinggalnya.

Pada hari terakhir Lebaran Betawi, Minggu (29/7/2018), yang merupakan puncak Lebaran Betawi, suasana di Situ Babakan lebih ramai. Gubernur DKI datang, meski agak terlambat.

Menjelang kedatangannya pintu gerbang sudah dijaga oleh Satpol PP dan beberapa Ormas Betawi. Kesenian Tanjidor sudah mulai memainkan musiknya; sejumlah anggota beberapa perguruan silat Betawi berbaris berjejer di depan pintu masuk gedung utama.

Di tempat terbuka yang terletak di bagian kiri depan bangunan utama, puluhan pedagang kuliner Betawi seperti kerak telor, gado-gado, bir pletok, dodol dan asinan Betawi, soto dan toge goreng, souvenir dan lain sebagainya sudah menjajakan dagangan mereka sejak pagi. Sebagian pengunjung sudah mulai menikmati makanan dan minuman yang disediakan.

Di sekeliling pinggir situ berbajar pedagang makanan dan minuman, terutama di sisi Timur dan Utara yang bisa dilalui oleh kendaraan bermotor dan pejalan kaki.

Pengunjung datang dari berbagai wilayah Jabodetabek

Di bangunan utama dan beberapa bangunan lain berbemtuk rumah Betawi yang menghadap arena pertunjukkan seperti ampiteater, sudah dipenuhi oleh pengunjung yang ingin menonton berbagai pertunjukkan.

Hari itu, setelah qori melantunkan ayat suci Al Quran, Ketua Panitia membuka acara; Ketua Majelis Tinggi Masyawakat Betawi Edi Nalapraya menyampaikan sambutan; tausyah dan fashion show kain tenun dan songket Betawi, Gubernur berpidato, acara dilanjutkan dengan berbagai atraksi kesenian.

Selesai pemberian cendera mata untuk Gubernur dari Disainer batik dan tenun Betawi Anna Mariana, kemudian persembahan dari slurih Walikota di DKI Jakarta kepada gubernur, Gubernur Anies Baswedan lalu meninjau bangunan-bangunan yang dijadikan stand sementara keenam wilayah di Jakarta.

Selesai berkeliling dan menikmati makan siang yang disediakan, gubernur meninggalkan kawasan PBB Situ Babakan. Berbagai pertunjukan masih berlangsung di arena, karena banyaknya pengisi acara yang ingin tampil.

Menurut penulis, Lebaran Betawi hanya istilah yang digunakan. Pada hakekatnya ini adalah sebuah event untuk memperlihatkan eksistensi masyarakat Betawi, penduduk asli Jakarta, yang kini justru menjadi minoritas di tanah kelahannya sendiri. Selamat Lebaran.

PBB Situ Babakan mungkin akan menjadi tempat terakhir situs Betawi yang bertahan, di tengah maskin sedikitnya populasi masyarakat Betawi di ibukota. Semoga ini tidak menjadi Condet kedua, Cagar Budaya yang musnah digerus pertumbuhan Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: