Achmad Irfangi, 40 Tahun Berdagang Cobek Demi Keluarga.

Achmad Irangi, 60 tahun, berkeliling di beberapa wilayah ibukota untuk menjajakan cobek dan lumpang batu . (Foto: HW)
_

Usianya sudah 60 tahun. Tetapi ia masih lincah melangkahkah kakinya dari gang ke gang, dari pasar ke pasar sambil membawa beban pikulan berisi beberapa buah cobek dan lumpang batu di pundaknya. Bahkan kalau harus turun naik tangga sambil membawa beban, masih mampu dilakukan. Cobek adalah peralatan dari batu untuk menghaluskan cabe, untuk membuat sambel atau racikan bumbu untuk memasak.

Begitulah aktivitas sehari-hari Achmad Irfangi, lelaki asal Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Ia membawa cobek-cobeknya dari tempat penampungan – sekaligus tempatnya tinggal selama di Jakarta – menuju pasar-pasar di ibukota. Tidak selalu harus berjalan menjajakan dagangannya, kadang ia mangkal di pasar-pasar, di pinggir jalan yang kerap dilalui orang.

“Kalau pagi ya mangkal, kadang di Pasar Pesing, kadang di Kebayoran Lama,” kata Achmad ketika ditemui sedang membawa barang dagangannya di Pasar Tanah Abang Jakarta, Rabu (15/2) siang.

Tidak terlihat lelah di wajahnya atau merasa terbebani dengan pikulan cobek yang beratnya sekitar 25 kilogram itu. Setiap kali berjalan Achmad melenggang dengan ringan. Apalagi di usianya yang seharusnya sudah tinggal di rumah sambil bermain dengan cucu, ia terlihat sehat.

“Alhamdulillah selama ini tetap sehat,” kata Achmad sambil tersenyum.

Achmad datang ke Jakarta sejak tahun 1976 untuk berjualan cobek. Pekerjaannya itu ditekuni sampai sekarang. Dia tidak pernah berganti-ganti pekerjaan. Barang diambil dari pengepul, yang mengambil peralatan rumahtangga sederhana itu dari Desa Seruweng, Karang Anyar, Kebumen.

Seluruh peralatan memasak dari batu itu lalu ditampung di sebuah tempat di kawasan Joglo, Jakarta Barat. Selain tempat penampungan peralatan memasak dari batu, tempat itu juga dijadikan penampungan pedagang – termasuk Ahcmad – yang setiap hari membawa barang dagangannya ke berbagai tempat di Jakarta.

Rata-rata sehari Achmad membawa cobek dan lumpang batu sebanyak 10 hingga 12 buah, yang diambil dengan harga Rp.5 ribu untuk cobek, dan Rp.15 ribu untuk lumpang batu. Lalu Ahcmad menjualnya kepada konsumen langsung seharga Rp.20 – 25 ribu untuk cobek, dan Rp.50 ribu – 70 ribu untuk lumpang batu.

Langganan Achmad kebanyakan ibu rumahtangga, meski pun ia juga memiliki pelanggan pemilik warung yang menjual peralatan rumahtangga. Untuk kedua konsumen itu dia menjualnya dengan harga berbeda. Karena untuk pemilik warung akan dijual lagi kepada konsumen langsung, dan harus mendapat untung.

“Kemarin juga baru nganter ke warung. Kalau stok di warung udah habis, saya nganterin,” kata Achmad dengan logat Banyumansannya yang belum hilang.

Isteri dan anaknya tinggal di kampung. Sang isteri, Siti Rohiyah, bertani mengolah sawah mereka yang tidak seberapa. Luasnya hanya sekitar 50 ubin atua setara dengan 700 m2. Setiap panen rata-rata menghasilkan 6 kwintal padi, setiap tahun dua kali panen.

Achmad memiliki 3 orang anak, masing-masing seorang lelaki dan dua perempuan, yakni Idris Fadjri, Sutiyanti, dan Nani Budiyanti.

Yang seorang, perempuan sudah menikah, tetapi anak bungsunya masih sekolah. Hasil jerih payahnya digunakan untuk membiayai keluarganya di kampung, termasuk membiayai anaknya yang masih sekolah.

“Tidak berniat membeli sawah lagi dari hasil penjualan cobek ini?” tanya penulis.

“Ya oralah! Ngo anak sekolah bae orang cukup!” jawab Achmad singkat.

Achmad menengok keluarganya di kampung setiap sebulan atau dua bulan sekali, tergantung rejeki yang bisa dikantonginya dari penjualan cobek dan lupang batu.

Di usianya yang terus beranjak tua, Achmad ingin beristirahat, meninggalkan pekerjaannya menjual cobel dan lumpang batu, meninggalkan beban berat di pundaknya.

“Kepengennya sih pulang ke kampung, istirahat. Paling di kampung nanti tani aja,” kata Achmad sambil mengangkat pikulannya, dan kembali melanjutkan perjalanan menelusuri gang-gang di ibukota untuk menjajakan dagangannya.

Kita patut bersyukur masih ada orang seperti Achmad Irfangi, sehingga kita masih bisa menikmati sambal dan makanan dengan bumbu yang enak.

 

 

 

 

 

Share This: