Ada apa Dengan 10 Nominasi “Posesif” di FFI 2017?

Putri Malino dan Adipati Dolken, dalam jumpa pers usai pemutaran fim "Posesif" di Senayan City XXI Jakarta, Kamis (12/10). Foto: HW
_

Setelah menimbulkan kontroversi berkepanjangan soal keikutsertaannya dalam FFI 2017 hingga mendudukan 10 nominasi, film Posesif akhirnya siap untuk diedarkan di bioskop-bioskop berjaringan dalam waktu dekat ini. Sebelumnya film ini telah ditayangkan di beberapa bioskop mikro di Jakarta, Tangerang Selatan, Bandung, Bukitinggi, Padang dan Samarinda.

Di beberapa bioskop mikro itu Posesif ditonton oleh anggota asosiasi profesi dan komunitas perfilman yang akan memberikan rekomendasi kepada Panitia FFI untuk penyusunan daftar Nominasi FFI 2017. Tidak dijelaskan berapa banyak asosiasi atau komunitas perfilman yang menonton, karena panitia FFI tahun 2017 ini memang sama sekali tidak mau tahu bagaimana cara asosiasi atau komunitas bekerja.

Bagi panitia yang penting adalah, masuknya rekomendasi dari mereka sebagai dasar penyusunan Nominasi FFI 2017.

Usai pemutaran film Posesif di Senayan City XXI Jakarta, Kamis (12/10/2017) kemarin, dalam jumpa pers dengan produser, sutradara dan pemain sempat muncul pertanyaan seputar pemutaran film di bioskop mikro. Pertanyaannya adalah berapa banyak anggota asosiasi yang menonton?

Pertanyaan itu sebenarnya penting untuk dijawab, untuk menjawab keraguan wartawan selama ini, kelompok profesi yang sebagian besar anggotanya termasuk kategori “kurang sehat” menurut pandangan seorang pengurus Badan Perfilman Indonesia (BPI), jika menyimpulkan statusnya pada facebook dan unggahan di twitter yang berbunyi: “Akhirnya ada juga wartawan yang sehat…”

Unggahan itu muncul setelah sebuah media online memuat keterangan Ketua Sub Komisi II LSF Rommy Fibri tentang keabsahanan sensor film Posesif. Walau pun menurut Rommy dalam wawancara dengan balaikita.com, Rommy tetap bersikukuh bahwa Posesif telah melanggar undang-undang, dan wartawan dari media yang menuliskan keterangannya bias dalam bertanya. Tapi sudahlah.

Dalam tanya jawab dengan wartawan kemarin, produser Posesif memilih jalan aman, dengan memberikan jawaban normatif bahwa film itu sudah ditonton oleh asosiasi perfilman dan telah diterima keikutsertaannya oleh Panitia FFI 2017.

Balikita.com sendiri mendapat informasi bawah tanah, bahwa persoalan Posesif sebenarnya tidak berhenti sampai di sini, karena masih ada “urusan” yang harus diselesaikan antara Panitia FFI 2017 dengan Lembaga Sensor Film (LSF).

Posesif sendiri sebuah film yang menarik. Meski pun genre yang dipilih roman remaja, kehidupan cinta anak-anak SMA (disebut juga SMU supaya terkesan ada pembaruan dalam dunia pendidikan), tetapi cerita tidak stereotype dengan cerita tentang anak-anak SMA dalam Indonesia kebanyakan, yang melulu mengurai kulit luar kisah cinta anak-anak SMA yang cengeng, membosankan.

Posesif menceritakan kisah cinta Lala (Putri Marino) dengan Yudhis (Adipati Dolken). Dua-duanya bintang kelas dalam soal fisik. Yang cowok ganteng, yang gadis cantik, atlit loncat indah pula.

Keduanya bertemu, lalu berpacaran. Dan kebetulan, dua-duanya anak tunggal. Lala hanya hidup berdua dengan ayahnya yang pelatih loncat indah (Yayu Unru) dan Yudhis tinggal berdua dengan ibunya yang sudah menjanda (Cut Mini). Latar belakang mengapa kedua orangtua mereka hanya tinggal sebelah, cukup dijelaskan secara verbal, termasuk bagaimana sebagai janda ibu kandung bisa menjalani kehidupan yang cukup mewah.

Lala dan Yudhis adalah pasangan ideal dalam pandangan orang lain. Memiliki penampilan fisik yang sama-sama menarik lawan jenis, dan saling mencintai. Namun ada satu yang tidak diketahui oleh orang luar, Yudhis ternyata lelaki yang posesif (terlalu ingin menguasai). Akibatnya ia menjadi orang yang mudah cemburu, dan takut kehilangan. Perasaan-perasaan itulah yang sering diekspresikan dalam bentuk tindakan yang kasar, bahkan terhadap Lala sendiri.

Hubungan sepasang kekasih yang selalu pasang surut itulah yang diurai dalam film ini. Meski pun ada derai air mata, tetapi film ini tidak bisa disebut sebagai sebuah roman yang cengeng. Menelisik problem psikologis yang diidap oleh Yudhis jauh lebih menarik dibandingkan melihat film ini sebagai sebuah roman cinta remaja.

Film ini memang pantas untuk meraih beberapa nominasi dalam FFI 2017. Tetapi 10 nominasi? Rasanya terlalu berlebihan. Entah asosiasi / komunitas perfilman yang menonton film ini di bioskop mikro sangat terpukau ketika menonton film ini sehingga memberikan rekomendasi yang “membabi buta”, atau pihak lain yang menentukan daftar Nominasi FFI 2017 punya peran besar dalam memasukan 10 kategori film ini ke dalam daftar nominasi.

Seperti diketahui, dalam Daftar Nominasi FFI 2017 yang diumumkan tanggal 5 Oktober 2017 lalu, Posesif mendapat 10 Nominasi. Masing-masing untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Asli Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penata Rias Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik.

Dari kesepuluh Nominasi yang diraih Posesif, dua kategori agak meragukan untuk masuk ke dalam daftar, yakni Penata Rias Terbaik dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik.

Tata rias dalam film ini tidak terlalu istimewa. Penata Rias nampaknya tidak terlalu bekerjakeras untuk menghasilkan make-up karakter yang “mengubah” wajah atau penampilan para pemain menjadi satu karakter yang baru. Penonton masih tetap melihat sosok Adipati Dolken, Cut Mini Teo dan Yayu Unru dalam film ini sebagai mana dalam film-film lain kebanyakan yang mereka perankan.

Kalau pun ada sesuatu yang berbeda dari mereka – terutama Adipati Dolken dan Cut Mini – adalah karena karakter yang mereka perankan dan kekuatan akting mereka dalam memainkan karakter itu. Lalu make-up yang dibuat untuk menggambarkan cedera Lala dan Yushis setelah perkelahian di depan minimarket, tidak meyakinkan.

Sedangkan Yayu Unru, peraih Piala Citra Pemeran Pendukung Pria Terbaik FFI 2014 melalui film Tabula Rasa, tidak berhasil mengembangkan kemampuan aktingnya dalam film ini. Persoalannya bukan Yayu yang tidak mampu, karena kemampuannya jelas tidak diragukan lagi. Sebab selain aktor dia juga coach acting untuk para aktor.

Persoalannya terletak pada karakter yang diperankan Yayu dan juga keterbatasan peran yang harus dimainkannya, sehingga Yayu terkesan biasa-biasa saja. Dalam pembuatan film, peran sutradara juga tidak kecil dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan seorang aktor.

Jika anggota asosiasi profesi / komunitas perfilman menonton atau serius mencermati para Pemeran Pendukung Pria dalam banyak film peserta FFI lainnya, akan ada banyak aktor yang berhasil menunjukkan kualitas akting mereka. Pertanyaannya apakah semua film peserta FFI 2017 ini ditonton? Siapa yang menonton? Apalagi untuk film-film yang dibuat oleh produser, sutradara dan diperankan oleh aktor-aktor medioker. Stigma itu selalu ada dari tahun ke tahun.

Kembali pada keikutsertaan Posesif dalam FFI 2017 yang kontroversial ini, seharusnya ada banyak hal yang perlu dijelaskan secara gamblang oleh panitia. Panitia FFI 2017 bisa lebih intens mengkomunikasikan kinerja dan kebijakan yang mereka lakukan untuk FFI 2017 ini.

Roadshow yang dilakukan panitia ke media-media besar bukan tidak berguna, tetapi siapa yang ingin disasar? Lantas bagaimana dengan media-media yang dihuni oleh para wartawan yang “tidak sehat”, tetapi belum pernah mendapat penjelasan memadai, khususnya mengenai keikutsertaan film Posesif.

Kalau penjelasan panitia di media-media — yang menurut mereka — besar, sudah cukup menjelaskan, atau merasa tidak perlu memberi penjelasan kepada media-media yang tidak penting, tidak bisa juga disalahkan jika pertanyaan-pertanyaan seputar film Posesif terus berputar-putar di angkasa, seperti drone yang bekerja untuk menghasilkan gambar terbaik.

Sebab, jangankan wartawan. Orang film sendiri banyak yang mempertanyakan. Salah satunya seperti komentar aktor Ronny Chandra di sebuah media online, “Ada apa dengan Posesif? Mengapa harus dipaksakan untuk ikut serta dalam FFI 2017 ini. Semoga panitia tidak FFI tidak menganggap menangani FFI sebagai bussines as usual atau memegang prinsip “Badai Pasti Berlalu”.

Putri Malino dan Adipati Dolken, dalam jumpa pers usai pemutaran fim “Posesif” di Senayan City XXI Jakarta, Kamis (12/10). Foto: HW

Di jaman yang sangat canggih ini, apa susahnya memberi penjelasan secara komprehensif melalui siaran pers ke sebanyak-banyaknya media, melalu siaran pers panitia. Apalagi ada Bidang Humas yang seharusnya bekerja menjadi kepanjangan mulut panitia inti.

Sayangnya dalam pelaksanaan FFI beberapa tahun terakhir ini, fungsi Bidang Humas sangat terbatas: hanya melayani wartawan saat launching, Malam Nominasi dan pada Acara Puncak. Tobat!

Share This: