Ada Mufidah Kalla, Retno Marsudi, GKR Hemas, Zulkifli Hasan dan Sandiaga Uno di Acara Baca Puisi

_

Perempuan adalah keperkasaan

Yang sengaja disembunyikan Tuhan

DI balik cindai lemah lembut pesona personanya

Keperkasaannya adalah magma . Tak berhenti bergelora bersama semangatnya.

Hanya sekali sekali membuncahkan lahar

Menembus permukaan kehudupan berbangsa bernegara

Tanpa mereka kita selalu sulit mencari makna hakiki

Atas kata : semangat, kesabaran, keikhlasan, keteguhan, dan keberanian untuk hidup dalam pengabdian

Perempuan adalah akal budi bersulam pekerti

Hampar tenun kasih sayang dan tanggungjawab

Bukan lagi tempat mereka sansai tanpa daya

Bukan lagl tempat alr mata mengalir dan seduh memburai

Pada mereka segala perasaan dibebankan

Segala pengertian dan kepahaman diwajibkan

Karena di relung sukma mereka, kita belajar tentang hakikat keadilan dan kearifan

Merekalah pemandu arah, kala perahu bangsa hilang arah.

Merekalah penentu tujuan kala kapal patah kemudi…

Merekalah, ibu kebangsaan kita

Perempuan adalah angi  menderu di samudera raya.

Memacu perahu kehidupan melaju, menantang siapa saja…

Itulah penggalan puisi karya N. Syamsuddin Ch. Haesy yang dibacakan oleh Koordinator Presidium Majelis Nasional Forum Alumni HMI Wati (MN Forhati), Hanifah Husen, dalam acara “Malam Budaya Baca Puisi – Perempuan Untuk Indonesia” yang diadakan oleh MN Forhati di Perpustakaan Nasional Jakarta, Minggu (29/4/2018) malam.

Malam baca puisi itu diadakan untuk memperingati Hari Kartini, Hari Hari Baca Puisi dan Hari Pendidikan Nasional sekaligus.

“Kami mengaitkan acara baca puisi malam ini dengan hari-hari penting itu karena bagi Forthati, perempuan adalah sekolah pertama. Kami ingin merefleksikan bahwa para pejuang wanita dapat memeri inspirasi kepada kita bahwa begitu kuatnya wanita. Ada Malahayati yang heroik, seorang laksamana wanita pertama di dunia. Ada Kartini yang memberikan literasi, ada Christina Martha Tiahahu dan banyak lagi,” papar Hanifah Husen.

Dengan bangga Hanifah Husen mengatakan bahwa wanita adalah mahluk yang hebat, bukan mahluk lemah. “Menurut Kartini bahwa wanita dan pria di mata Tuhan sama kedudukannya. Tapi harus disadari, setinggi apapun perempuan, tetap ada kodratnya,” tambah Hanifah.

Ada beberapa tokoh wanita terkenal yang tampil dalam malam baca puisi tersebut, yakni isteri Wakil Presiden, Mufidah Kala yang membacakan puisi berjudul Ibu Pertiwi karya Syamsuddin C. Haesy, GKR Hemas membacakan Airmata Shandyakala (Syamsuddin C. Haesy), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dengan puisi berjudul Perempuan Indonesia Telangkai Nusa (Hasyienna Fatimah Az Zahra), dan Siti Zuhro  membacakan puisi karya Gus Nas (Nasrudin Anshary) berjudul Melipat Gelap, Membentang Terang.

Tak hanya tokoh wanita, malam pembacaan puisi ini juga diramaikan oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan yang membacakan puisi berjudul Berjuta Mereka, Berkuta Ibunda Kita IV (karya Taufik Ismail), Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno yang membacakan Wanita Cantik Sekali di Multazam (Mustofa Bisri) dan Penyair Taufik Ismail yang membacakan karyanya sendiri berjudul Mereka Berjuta Ibunda Kita.

Artis Olivia Zalianti juga sempat berduet dengan Gus Nas membacakan puisi karya Gus Nas sendiri. Menteri Kehutanan Siti Nurbaya Bakar yang dijadwalkan hadir, batal tampil karena ada acara penting mendadak.

“Sebenarnya selain ibu menteri kehutanan, kami juga ingin mengajak Menteri Pemberdayaan Perempuan, tetapi keduanya berhalangan karena ada acara yang sangat penting ” kata Hanifah.

Selain pembacaan puisi, acara juga dimeriahkan oleh tari-tarian dan grup musik Melayu.

 

 

 

 

Share This: