Afnan akan Laporkan Penganiayanya ke Badan Kehormatan DPD

Anggota DPD Afnan (kiri) dan Kuasa Hukumnya Toni, S.H (kanan)
_

Insiden yang terjadi pada Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Senin (3/4) lalu berbuntut panjang. Pasca pelaporan yang dilakukan oleh Anggota DPD RI Muhammad Afnan Hadikusuma, atas dugaan kekerasan yang dilakukan oleh anggota DPD lainnya yakni, Benny Rhamdani dan Jelis Julkarson Hehi, Kuasa Hukum Afnan rencananya juga akan melaporkan Benny dan Jelis ke Badan Kehormatan DPD.

“Saat ini kami sedang menunggu proses penyidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian, dalam hal ini Polda Metro Jaya, untuk mengusut kasus ini. Senin besok (10/4) kami berencana akan melaporkan yang bersangkutan (Benny dan Jelis) ke badan kehormatan di DPD,” ungkap Kuasa Hukum Afnan, Toni SH kepada balaikita saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (9/4/2017). 

Dugaan penganiayaan terhadap Afan terjadi dalam Rapat Paripurna DPD tanggal 3 April lalu. Peristiwa bermula dari kekisruhan dalam sidang yang dipimpin oleh GKR Hemas dan Farouk Muhammad, di mana sebagian anggota memaksa agar Tata Tertib (Tatib) baru perihal penggantian masa jabatan pimpinan DPD dari 5 tahun menjadi 2,5 tahun dibacakan. Namun sebagian lainnya menolak, lantaran Mahkamah Agung sudah mengeluarkan perbaikan putusan (renvoi) yanng isinya agar DPD kembali menjalankan Tatib No. 1 /2014 yang menjelaskan Pimpinan DPD bertugas selama 5 tahun.

Perdebatan antara pihak yang menginginkan pembacaan Tatib baru dan pihak yang minta agar perbaikan putusan (renvoi) MA dibacakan, mamin memanas. Beberapa anggota dari dari kubu berlawanan sama-sama maju ke depan Pimpinan sidang, dan terlibat keributan. Belakangan diketahui anggota DPD dari Yogyakarta, Afnan mengalami luka-luka karena ada yang memukul. Beberapa saksi melihat pemukulnya adalah Benni Ramdhani dan jelis julkarson Hehi. Afnan lalu melaporkan keduanya ke polisi.

Tony mengungkapkan pelaporan lalu merupakan buntut dari tindakan kekerasan yang dialami oleh kliennya pada 3 April lalu. Dimana kekerasan yang terjadi pada saat itu, kliennya menegur salah satu Anggota DPD dari Dapil Jawa Timur yakni Nawardi.

“Waktu itu klien kami mendekati Nawardi, Senator dari Jawa Timur, yang saat itu berada di podium. Klien kami memgingatkan agar Nawardi jangan maju ke atas podium untuk menyampaikan aspirasinya. Mengingat saat itu rapat pleno itu belum dibuka. Namun, seketika datang BR. Dalam rekaman video itu dia langsung menarik klien didorong, ditarik dilempar dan membentur meja pak Afnan sendiri. Akibat perbuatan itu Pak Afnan mengalami memar di kepala bagian kanan. Kami melaporkan pelaku tersebut ke Polda Metro Jaya atas dugaan kekerasan secara bersama-sama sebagai mana dimaksud dalam pasal 170 KUHP ,” ungkapnya.

Mengetahui dirinya dilaporkan ke polisi, Benny tidak tinggal diam, dan berencana melaporkan balik Afnan. Anggota DPD RI Dapil Sulawesi Utara itu, membantah melakukan pengeroyokan kepada Afnan, pada Senin (3/4) lalu saat Rapat Paripurna berlangsung. Benny membenarkan saat kejadian mendatangi Afnan yang tengah meminta Achmad Nawardi turun dari podium, namun tidak melakukan kekerasan.

“Semangatnya adalah untuk menghalangi agar tidak terjadi chaos dengan pak Nawardi,” kata Benny.

Menurut Benny, dirinya hanya menarik Afnan karena di atas podium banyak orang yang ingin ikut turun dari podium.

“Kebetulan paling depan saya dan beliau kemudian ada tangga juga. Kalau enggak salah beliau melewati 2 tangga, beliau salah menjejakan kaki. Tidak ada pemukulan, kalau terdesak dari arah belakang mungkin iya,” ungkapnya.

Mengenai, rencana Benny ingin melaporan balik, Kuasa Hukum Afnan, Toni mengatakan tidak khawatir. ia percaya pihak kepolisian yang dapat bekerja secara profesional dalam menangani penganiayaan yang dialami kliennya. Pihaknya sudah menyiapkan serangkaian bukti pendukung seperti hasil visum atas kliennya, hingga rekaman video dari berbagai media di televisi, yang menurutnya itu menceritakan dengan gamblang peristiwa yang terjadi.

Toni tidak menutup kemungkinan terjadi perdaiamain antara kliennya dengan Benny maupun Jelis,
Tetapi saat ini dia belum berkoordunasi dengan kliennya.

“Ya kemungkinan-kemungkinan itu bisa terjadi. Akan tetapi ini jadi suatu pelajaran orang terhormat berada di tempat terhormat mempertontonkan suatu tindakan yang tidak etis dilihat, mudah-mudahan ini jadi pelajaran,” bebernya.

Afnan sendiri pun, selaku korban belum mengutarakan keinginannya untuk berdamai. Dan tidak bertekad untuk meneruskan kasusnya sesuai hukum yang berlaku. “Gak akan sayav cabut. ini jadi pembelajaran untuk kita semua dari sisi penegakan hukum!” tegasnya.

Share This: