Agar Penyanyi dan Pencipta Lagu Mendapat Kepastian Atas Royaltinya

Penyanyi Dian Piesesha dan gitaris Jubing Kristanto, dua pengguna software JK Royalti, dalam launching software tersebut di Jakarta, Kamis (7/6/2018) - Foto: HW
_

Bagi pencipta lagu, penghasilan dari royalti lagu-lagunya yang digunakan secara komersil oleh pihak lain, merupakan semacam “harta karun” yang mampu memberinya rejeki untuk menopang kebutuhan hidup. Bagi pencipta lagu yang sudah tua, royalti menjadi seperti uang pensiun tak terduga.

Pertanyaannya berapa nilai royalti yang diperoleh dari karya ciptanya, itu yang tidak pernah diketahui sebelumnya.

“Kadang saya diberitahu YKCI untuk memgambil royalti saya. Berapa saja yang diberikan saya terima. Saya tidak tahu hitung-hitungannya seperti apa,” kata pencipta lagu Wahyu OS, yang pernah menciptakan sebuah lagu hit berjudul “Senandung Doa” (Nur Afni Octavia).

Wahyu hanyalah satu dari sekian banyak pencipta lagu di Indonesia yang tidak pernah tahu berapa jumlah royalti yang akan diterimanya dari tahun ke tahun. Selain pemakaian lagu-lagunya juga fluktuatif, hitung-hitungannya tidak pernah bisa dirinci. Selama ini pemungutan royalti oleh pengguna (users) dilakukan oleh YKCI (Yayasan Karya Cipta Indonesia).

Kini kebingungan itu hendaknya tidak perlu terjadi, setelah sebuah software berhasil diciptakan untuk mendeteksi pemakaian lagu oleh para users. CEO perusahaan rekaman JK Record, Leonard Nyo Kristanto yang menciptakan alat dimaksud. Tidak berlebihan jika ia menamakan alat ciptannya “JK Royalti”.

Dalam software ini pengguna dapat melihat detail laporan Royalti atas penjualan lagu per bulan, melihat besaran Royalti, dan menerbitkan lnvoice secara otomatis. Laporan tersebut dapat dibaca baik dalam bentuk grafik bar maupun dalam bentuk tabel, yang dapat di down

“SOFTWARE JK ROYALTI® adalah aplikasi karya anak bangsa yang mampu membaca Report dan melaporkan Royalti Artis, Pencipta Lagu, dan Revenue Share untuk Partner JK dari penjualan YouTube, digital download, RBT, dan penjualan fisik (Kaset, CD, VCD dan DVD) yang dapat diakses melalui website,” papar Leonard atau biasa dipanggil Nyonyo ketika memperkenalkan software ciptaannya di Metro Cafe Jakarta, Kamis (7/6/2018).

Leonard Nyo Kristanto. (Foto: HW)

Nyonyo adalah Putra sulung dari judi Kristianto, produser dan pendiri JK  Records, perusahaan rekaman yang populer di era 1980-90an.

Nyonyo adalah lulusan Berkeley College of Music, dual majoring in Music Production & Sound Engineering and Music Synthesis, Boston, USA. Nyo mengerjakan software tersebut bersama Tim lT LK Records selama kurang lebih hampir setahun lamanya.

Software ini adalah yang pertama di lndonesia, dan yang kedua di dunia setelah Kobalt Leonard ‘Nyo’ Kristianto berinisiatif men-develop software ini dalam upaya mewujudkan “Keadilan sosial bagi seluruh pekerja seni Indonesia”.

“Saya ini musisi, belajar musik. Music is my life. Saya harus perbaiki ekosistemnya. Saya harus menciptakan softwarentanpa ada campur tangan manusia,” kata Nyo tentang latar belakang software ciptaannya.

Software ini sifatnya simpel. Dia akan memberi report kepada penggunanya tiap bulan. Kedua kalau nakal angkanya dipermainkan, software ini akan memposting ke website JK, laporan pemakaiannya. Website ini hanya bisa dibuka oleh orang-orang yang bekerjasama dengan JK Record.

Saat ini software JK Royalti baru diterapkan untuk Artis, Pencipta Lagu dan Partner yang bekerja sama dengan JK Records. Sementara baru gitaris Jubing Kristanto dan penyanyi Dian Piesesha. Namun dalam waktu dekat  software ini juga bisa digunakan untuk label atau LMK (Lembaga Manajemen Kolektif) lainnya.

“Sebagai produser saya ingin memberikan hak seniman secara benar dan transparan. Sebagai umat beragama kita tidak boleh mengambil hak orang lain, apalagi hak anak yatim, karena para pencipta lagu lndonesia yang sudah tiada meninggalkan janda dan anak yatim, “ tegasnya.

Sebelum meneruskan jejak ayahnya sebagai produser dan penerus label ]K Records, Nyo Kristianto sempat berprofesi sebagai Sound Engineer, Electronic Musician dan DJ. Beliau pernah di-endorsed oleh Apple, DigiDesign, dan Shure Microphone.

Kini sebagai CEO [K Records dia adalah salah satu yang mendapat sertifikasi MFiT (Mastering For iTunes] mastering engineer dari Apple iTunes di indonesia.

Dengan adanya software ini, tidak akan ada lagi rasa saling curiga antara produser dengan penyanyi atau pencipta dengan lembaga yang mengurus royaltinya, atau antara lembaga pengurus royalti dan users

“Dulu seperti ayam dan telur. Pencipta tidak percaya kepada produser,” kata Nyo.

 

 

Share This: