Agi Sugiyanto: Antara Sukses dan Bayangan Masa Lalu

_

Bagi wartawan hiburan yang sudah berkarya sejak akhir tahun 80-an hingga 90-an pasti mengenal namanya. Agi Sugiyanto, mantan wartawan yang pernah bekerja di Harian Surya Surabaya, Persda Kompas dan terakhir di Warta Kota.

Agi Sugiyanto (kedua dari kiri) bersama artis senior Erna Santoso dan rekan seprofesi di masa lalu. (Foto: ist)

Tidak seperti kebanyakan wartawan seangkatannya yanb masih setia dengan profesi, Agi telah lama “hijrah”.

Sejak lima belas tahun terakhir Agi fokus pada bisnisnya di bidang industri rekaman dan menjadi manajer artis. Kelompok penyanyi dangdut Trio Macan berada di bawah asuhan manajemennya.

Berkat ketekunanannya, Agi berhasil dalam bisnis yang ditanganinya yang berlabel PT Media Musik Proaktif. Setiap tahun perusahaannya selalu menghasilkan lagu hit, atau yang disebutnya contact killer. Mulai dari Iwak Peyek (Trio Macan, 2013), Kereta Malam (Juwita Bahar, 2016), Buka Sitik Joss (Juwita Bahar, 2016), Oplosan ( Wiwik Sagita, 2013), Muara Kasih Bunda (Eri Susan, 2015), Edan Turun (Wiwik Sagita, 2015) dan Jaran Goyang (Nella Kharisma, 2017).

Kesuksesan lagu-lagu tersebut tentu saja membawa berkah bagi Agi, sehingga ia memiliki hampir semua yang diimpikan orang kebanyakan. Selain bisnis rekaman, Agi juga memiliki berbagai bisnis lain yang tersebar di tanah air, dan bisnis media online bernama Berita Enam.

Bergerak di dunia musik bukanlah awal sukses Agi sebagai pebisnis. Lelaki kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, pada 7 Juli 1965 ini awalnya menangani bisnis kecantikan dan pengobatan alternatif, yang sempat menjamur di tahun 80-an.

Ia memiliki beberapa klinik pengobatan alternatif yang memberikan layanan berbeda. Misalnya, klinik pengobatan tradisional Ustad Imam yang melayani pengobatan penyakit dengan berbagai teknik, seperti bekam, jilat mata, dan terapi lintah. Klinik ini sudah memiliki tiga cabang. Ada juga klinik Pasak Bumi yang memberikan layanan khusus keperkasaan pria dan sudah memiliki 20 cabang.

Layanan khusus kecantikan dan kewanitaan berada di bawah payung klinik Teh Mayang, Rumah Totok, yang memberikan layanan aneka pengobatan dan teknik pelangsingan Klinik pengobatan ala Timur Tengah: Ummi Siti Latifah dan lain-lain.

Omsetnya setiap tahun sangat besar.  Kini Agi dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses. Namun demikian kesuksesan itu tidak merubah sikapnya. Dia tetap menjadi orang yang rendah hati dan mau berbagi. Agi bahkan tak pernah melupakan teman-teman seprofesinya di masa lalu, yang selalu disebutnya sebagai “teman seperjuangan”. Rumahnya di Rafles Hill, Cibubur selalu terbuka, sesekali ia mengundang sahabat-sahabatnya ke rumahnya untuk sekedar ngobrol dan bersilaturahim.

Berbagi

Ia juga tak pernah lupa berbagi dengan orang-orang tak mampu, seperti anak-anak yatim dan dhuafa. Sabtu (2/6/2018) lalu ia terlihat di acara berbuka puasa dengan anak yatim yang digagas oleh artis dan produser film senior, Erna Santoso.

“Setiap acara berbuka puasa yang diadakan Mbak Erna saya berpartisipasi terus, sejak wartawan. Hari ini saya datang karena dipaksa. Katanya, tolong kamu datang, udah 10 tahun berpartisipasi terus tapi tidak pernah datang. Akhirnya saya datang. Sebenernya ya ini untuk silaturahim aja. Karena berbagi itu sifatnya personal. Kalau bisa sih apa yang kita berikan kepada orang lain, tidak ada yang tahu. Tapi karena diminta hadir, ya anggap saja silaturahim,” tutur Agi tentang kedatangannya di dalam acara yang berlangsung di Golf Jagorawi, Bogor itu.

Meski berbeda usia, Erna Santoso adalah sahabatnya. Dia tahu Erna sering berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu.

“Saya pernah ngajak Mbak Erna ke Palembang, jalan-jalan aja. Di sana dia menemui anak-anak nelayan di tepi sungai Musi. Ternyata dia begitu dekat dengan anak-anak. Ketika siang di Palembang dia menyempatkan diri ke pasar membeli peralatan sekolah untuk diberikan kepada anak-anak nelayan itu. Rupanya dia tidak asing dengan anak-anak itu. Mereka memanggilnya bunda,” tutur Agi.

Di luar acara yang digagas Erna Santoso, Rabu (6/6/2018) kemarin Agi juga menggelar acara berbuka puasa di rumahnya. Ada 150 anak yatim dari beberapa panti asuhan yang diundang. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang kurang beruntung itu.

“Kalau  melihat anak-anak yatim sebenarnya saya melihat diri saya di  masa lalu,” kata Agi.

Ia menuturkan, sejak usia 7 tahun ia sudah menjadi yatim, dan pada usia 10 menjadi yatim piatu. Umur belasan dia pergi dari kampunya menuju Jakarta. Sempat menjadi kuli bangunan, sebelum bertemu seseorang yang membantu menyekolahkannya hingga tamat SMA.

Setamat SMA ia sempat lontang-lantung dan bekerja serabutan karena tidak memiliki pekerjaan tetap. Nasib lalu membawanya menjadi wartawan, karena ia senang membaca dan menulis. Ketika menjadi wartawan itulah muncul keinginan untuk menjadi orang sukses, setelah mendapat inspirasi dari orang-orang yang diwawancarainya.

“Ketika itu saya bertekad untuk menjadi orang yang sukses, supaya saya bisa berbagi dan menolong keluarga saya. Karena kami kan orang miskin, saya berpikir bagaimana bisa hidup dengan layak di Jakarta ini. Ternyata ketika Allah berkehendak, tak ada yang mustahil,” katanya.

 

 

 

 

 

Share This: