Ahli Kandungan dan Kebidanan Dr. Bramundito, Bermusik Untuk Keseimbangan.

Dokter Bramundito, Sp.Og (Foto: Dudut Suhendra Putra)
_
Kesibukan sehari-hari adalah menangani wanita, terkait masalah kandungan, karena dokter Bramundito Abdurrachim, Sp.Og, adalah dokter ahli kebidanan dan kandungan, dari rumah sakit Pondok Indah Jakarta. Namun di tengah kesibukannya menangani pasien, dokter ganteng ini ternyata banyak menciptakan lagu.
Satu demi satu lagu digubahnya, selama ini. Lewat piano, ia menghasilkan lagu demi lagu. Dan catat ya, ini rasanya jelas menambah keunikannya. Yaitu, sejauh ini ia telah menghasilkan 3 buah album rekaman! Lalu apa yang mendorong dokter kelahiran
Jakarta, 6 Mei 1962 itu menciptakan lagu di tengah kesibukanya yang padat?
“Buat saya musik itu merupakan passion. Sejak SMP dulu saya senang bermusik, bahkan saya pernah bermain musik bersama Shandy Luntungan,” kata dokter Bramundito ketika ditemui di sebuah kafe di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (8/2) sore.
Walau lebih suka mengaku sebagai pemusik amatir. Artinya, tak berpengalaman tampil serius di jalur musik, ia senang menulis lagu. Mencorat-coret cerita-cerita, lalu memperoleh notasi, jadilah lagu. Itu dilakukannya sudah sejak lama, sejak ia sekolah dulu. Lagu-lagu yang ditulis itu lalu dikumpulkan dan dibuat album.
Album perdana dirilisnya pada tahun 2008. Judul yang dipilihnya, Dunia Baru. Dari album itu, muncullah beberapa lagu yang cukup nge-hits. Seringkali diputarkan banyak stasiun radio swasta nasional. Seperti lagu, Lama Kunanti yang dibawakan penyanyi muda, Matthew Sayersz. Lalu lagu, Bersemi di Bali dibawakan oleh Ivan Nestorman. Satu lainnya, Jangan Harap yang dibawakan Tompi.
Dalam album tersebut, ia mengajak serta beberapa musisi berpengalaman, untuk bertindak sebagai produser musiknya. Ada nama-nama seperti Yudhistira Arianto, Andy Bayou, almarhum Ade Hamzah. Dan juga, Tohpati Ario.
Kemudian pada 3 tahun setelah album pertama dirilis, iapun menghasilkan album kedua. Judulnya yang dipilihnya kali ini adalah, Perjalanan Panjang. Kalau album pertama ada 12 lagu yang dimasukkannya, maka pada album kedua, ada 11 tracks yang disuguhkannya.
Untuk album kedua ini, ia mengajak serta musisi seperti Rio Moreno, Yudhistira Arianto, Barry Likumahuwa, Harry Goro, Andy Bayou, almarhum Ade Hamzah. Juga mengajak serta Tohpati Ario sebagai produser, atau yang selama ini lebih dikenal sebagai, arranger.
Dan sampailah di penghujung 2016. Pas di minggu terakhir Desember 2016, album ketiganya dirilis resmi. Yang ini bertajuk, La Rambla. Ada sekurangnya 2 lagu, yang mulai diputarkan beberapa stasiun radio terkemuka. Yaitu, lagu yang judulnya diambil menjadi judul album, La Rambla yang dibawakan Soulmate. Serta lagu yang dibawakan penyanyi muda, Latinka, Takkan Nyata.
Album ketiga ini, terbilang lumayan panjang dan makan waktu paling lama, dalam proses penggarapannya. Sekitar 2 tahun diperlukan untuk menyelesaikan album ini. Penyebabnya antara lain, kesibukan dari para produser atau arranger yang telah dipilihnya.
Kali ini, ia kembali lagi mengundang Andy Bayou, Yudhistira Arianto, Barry Likumahuwa dan Tohpati Ario. Ada nama lain yang kali ini dilibatkannya juga, Ari Darmawan. Sementara kedua lagu yang mulai kerapkali terdengar itu, sektor musiknya keduanya ditangani oleh Tohpati Ario.
La Rambla sendiri, menurutnya dituliskan dan digubahnya saat ia berada di kota Barcelona. Ia memang terkesan dengan kawasan yang jadi destinasi turis dari mancanegara, saat mengunjungi kota Barcelona. Maka keceriaan yang dirasakannya saat berada di La Rambla itulah, yang lantas menjadi idenya membuat sebuah lagu.
Bagi suami  dari dr. Wigati Purbarini ini, membuat lagu merupakan hanya untuk menyalurkan bakat dan hobi, bukan untuk kepentingan komersil atau mendapatkan uang.
“Bahkan untuk biaya produksi saja sebenarnya tidak akan kembali. Tapi saya bahagia, karena aktivitas ini memberi keseimbangan hidup bagi saya,” kata ayah 3 orang putra dan putri ini.
Dari ketiga anaknya,  masing-masing adalah, Apsari Anindita, putri sulungnya, yang baru saja menikah, di awal Desember silam. Lalu, Amarrhendhra Abbirama, masih kuliah. Dan si bungsu, Pandya Praharsa, yang masih kelas 1 SMA, hanya si bungsu yang mengikuti jejaknya bermusik.
Melalui lagu-lagu yang diciptakannya, ia berharap bisa memberi kebahagiaan buat orang lain. “Memang penggemar lagu saya agak terbatas ya, karena saya menyukai warna jazz. Tetapi dengan musik kegemaran saya ini, saya bersyukur masih bisa berkontribusi bagi dunia musik Indonesia. Selebihnya saya senang bisa berteman dengan para pemusik, yang dulu untuk dekat dengan mereka saja tidak bisa,” kata dokter Bramundito mengakhiri pembicaraan. ***

Share This: