“Aisyah” Bicara Toleransi Tanpa Basa-Basi

Kiri-kanan: Penulis Skenario Jujur Prananto, sutradara Herwin Novianto, wartawan fim Yan Widjaya, moderator Budi Sumarno dan DoP Monod. (Foto: HW)
_

Toleransi begitu mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dipraktekkan.  Hampir setiap hari kita mendengar ajakan untuk bersikap toleran dengan orang lain yang berbeda, baik warna kulit, suku maupun agama, tetap tetap saja ujaran-ujaran kebencian, memandang orang lain yang berbeda sambil memvonis, sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di media sosial.

Film “Aisyah – Biarkan Kami Bersaudara”, merupakan contoh bagus, bagaimana toleransi itu hendaknya tidak hanya sebatas kata, tetapi harus langsung dipraktekkan.
Film “Aisyah” yang dikerjakan oleh sutradara Herwin Novianto, skenario ditulis oleh Jujur Prananto, mengisahkan tentang seorang guru muslimah yang mendapat tugas mengajar di sebuah perkampungan miskin dan gersang di Atambua, NTT.

Di lingkungan yang penduduknya beragama Katolik, Aisyah (diperankan oleh Laudya Cinthia Bella) menemukan makna toleransi yang tinggi. Sikap saling menghormati dengan pemeluk agama lain, memahami kondisi dan adat kebiasaan orang lain, tanpa harus berpura-pura menyerupai orang lain. Sebaliknya “Asiyah” juga menunjukkan bagaimana seorang muslimah menghormati orang lain yang berbeda kepercayaan.

Dalam film itu digambarkan bagaimana Aisyah yang seorang muslimah tetap bisa menjalankan ibadah puasa, dan pemilik rumah yang ditinggalinya, beragama Katolik, memperhatian kebutuhan Aisyah dalam menjalan ibadah. Aisyah sendiri ikut merasakan kegembiraan masyarakat setempat merayakan Natal.

Aisyah sempat membiayai pengobatan muridnya yang cedera di rumah sakit, padahal anak itu, Loris Defam, adalah keponakan dari lelaki yang sangat membenci keradaan Aisyah. Tetapi ketika Aisyah tidak punya uang untuk pulang saat lebaran, masyarakat setempat ramai-ramai mengumpulkan uang, untuk membelikan tiket pesawat baginya. Betapa indahnya toleransi yang digambarkan dalam film ini, tanpa mengumbar kata-kata yang berbusa-busa.

Latar belakang pembuatan film itu dibahas dalam forum diskusi yang berlangsung di kantor Kemendikbuda Jumat (19/5) siang. Diskusi menampilan pembicara sutradara Herwin Novianto, penulis skenario Jujur Prananto, Director of Photografi Monod dan wartawan film Yan Widjaya.

Dalam diskusi penulis skenario Jujur Prananto memaparkan, ide cerita itu berasal dari seseorang bernama Gunawan Rahardja, dalam bentuk sinopsis. Ceritanya tentang seorang guru muslimah yang mengajar di masyarakat Katolik. Ketika lebaran dia mau pulang tidak punya uang,

“Setelah saya baca, saya merinding. Ya sudah kita buat. Tapi saya tidak mau berhenti sampai situ, saya kembangkan lagi ceritanya. Kita meminjam konflik agama. Waktu itu kita nekad, apakah film itu bisa aman, diloloslan sensor, tidak diprotes,” kata Jujur.

“Apalagi dalam film itu ada dialog seorang anak yang menuding gurunya orang muslim yang suka perang dan menghancurkan gereja. Tapi saya pikir karena yang mengucapkan anak-anak, jadi tidak teralu masalah. Anak-anak kan jujur. Bayangkan kalau diucapkan oleh orang tua, bisa repot!” tambahnya.

Jujur mengungkapkan, dirinya menyampaikan trik pengadegan dan dialog yang entertaining dan tidak membuat orang marah. Apa yang ditampilkan dalam film itu adalah miniaturaisasi dari permasalahan kita sekarang.

“Seperti kondisi saat ini, orang yang vokal sediikit. Tapi kalau terlalu vokal, yang mayoritas bisa terpengaruh. Contohnya tokoh lelaki sangar yang berperan sebagai pamannya Lordis Defam, murid Aisyah. Dia adalah orang yang terkontaminasi konflik dan masuk ke daerah damai. Itu bisa rusak!” tandas Jujur.

Sutradara Herwin Novianto menjelaskan, film “Aisyah” dibuat selama 6 bulan mulai dari penulisan skenario hingga editing. Lokasi syuting berlangsung di daerah yang sangat gersang, sulit air, dan tidak ada listrik.

Sebelum syuting seluruh tim bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat tentang pembuatan film dan ide yang ada di dalamnya, termasuk sikap masyarakat setempat bila daerahnya dimasuki oleh orang yang memiliki kepercayaan berbeda.

“Saya ketemu mantan kepala desa, saya tanya soal itu. Menurut dia siapapun yg datang ke desa kami, asal membawa manfaat, akan kami terima. Itu yg saya pegang,” kata Jujur.

Pada kenyataannya, menurut sutradara Herwin Novianto, orang NTT memang sangat toleran dan baik hatinya. “Jika saya punya jempol lima, akan saya acungkan semuanya. Mereka sangat baik,” katanya.
Namun untuk menjaga perasaan semua orang, tidak semua ide yang sudah diejawanatahkan ke dalam adegan dimasukan ke dalam film.

“Setelah kami konsultasi dengan pastor, dia menyarahkan agar adegan-adegan tertentu tidak usaha dimuat, karena akan menyakiti perasaan orang lain. Banyak scene-scene yang kami delete, agar film kami bisa diterima oleh semua orang,” ujar Herwin.

Film Aisyah- Biarkan Kami Bersaudara sendiri sudah beredar pada Mei tahun 2016 lalu. Film ini berhasil mendapat banyak penghargaan dari beberapa festival film, dan mendapat apresiasi yang tinggi.

Namun dalam peredaran, perolehan penonton film ini masih belum seimbang dengan kualitas dan pesan film ini. Film ini hanya memperoleh kurang dari 80.000 penonton.

Minimnya jumlah penonton film Aisyah diterima dengan perasaan legawa oleh produser, sutradara maupun mereka yang terlibat langsung dalam pembuatan film ini. Jujur Prananto bahkan sudah membayangkan kemungkinan keberhasilan film ini di pasaran, jauh sebelum film ini diedarkan.

“Ketika saya ke NTT, melihat daerah gersang, saya pikir apa film ini laku. Cuma saya enggak enak kalau ngomong film ini laku apa tidak. Tapi saya yakin film ini akan bagus,” ungkap Jujur.

Menurutnya, orang datang ke bioskop karena ingin terhibur, bisa ketawa, takut atau berdebar debar. Sedangkan film seperti ini (Aisyah), orang baru tahu ini film bagus setelah menonton.

“Harus ada pre condition. Misalnya Laudya Shinta Bella selama 6 bulan sebelumnya ngomong terus saya main film di NTT. Berulang ulang, sehingga orang jadi penasaran,” tandasnya.

Menurut wartawan film Yan Wijdjaya, bagaimana pun film itu adalah bisnis. Memang ada film yang bertahan lama, sampai dua bulan. Tapi ada yang cuma 2 – 3 hari. Agar penonton tahu, film itu harus diprimosikan dengan baik.

Jumlah bioskop di Indonesia sendiri, menurut Yan, sangat kurang. Dengan jumlah penduduk 250 juta lebih, Indonesia hanya mempunya 2000 layar bioskop. Itu pun mayoritas ada di kota-kota besar. Tidak dari Sabang sampai Merauke, karena di Kota dan Kota Merauke tidak ada bioskop. Bahkan di seluruh provinsi Nangroe Aceh Darussalam tidak ada bioskop.

“Kita usulkan bagaimana di tiap kota kabupaten harus ada bioskop. Dulu Kemendikbud ada mobil keliling, jumlahnya sampai 50 – 100, harusnya film ini bisa diputar di situ,” kata Yan.

Mengenai mobil keliling yang dipunyai Kemendikbud, salah seorang karyawan Pusbang Film yang hadir dalam diskusi mengatakan, kendaraan itu berada di bawah penguasaan direktorat lain, bukan di bawah Pusbang Film, sehingga penggunaannya secara prosedural agak repot.

Sutradara Herwin Novianto berharap pemerintah turun tangan untuk film-film seperti ini, agar orang masih punya semangat dan keinginan membuat film bagus, walau tidak komersil.

“PH itu seperti restoran. Kita, sineas, ibarat koki. Kita hanya membuat masakan yang enak. Resotarannya, produser yang mau jual harus memiliki strategi bagaimana menjualnya,” kata Herwin.

Share This: