Akhirnya Ketua Umum KFT Mengambil Parfi

Ketua Umum KFT merangkap Ketua Umum Parfi 2017, Febryan Aditya (Foto: HW)
_
Febryan Aditya (kedua dari kanan) usai terpilih sebagai Ketua Umum Parfi (Foto: Ist)

Sejarah memang bisa tercipta di mana pun. Tak terkecuali di dunia film. Sebuah “sejarah” baru saja tercipta di dunia film: sejarah yang unik dan lucu, yakni terpilihnya Ketua Umum KFT (organisasi Karyawan Film dan Televisi) menjadi Ketua Umum Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia). Ketua Umum dua organisai film bersejarah di dunia perfilman itu kini dijabat oleh Febryan Aditya. Sebelum menjadi Ketum Parfi, Febryan menjabat sebagai Ketum KFT.

Febryan sendiri terpilih melalui Kongres Luar Biasa (KLB) Parfi yang diadakan pada hari Minggu (12/3) siang. Menurut beberapa sumber kepada balaikita, terpilihnya Febryan sebagai pimpinan puncak di Parfi secara tidak sengaja, karena sebelumnya ia tidak mencalonkan diri.

Menurut penuturan Kepala Sekretariat Parfi, Thamrin Lubis, ketika pelaksanaan KLB disepekati, ada dua orang yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum, yakni KP Norman dan aktor Sandy Nayoan. Keduanya sudah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh panitia, antara lain menyetor uang sebesar Rp.25 juta.

Namun ketika KLB yang diikuti oleh sekitar 280 anggota Parfi – di antara peserta ada aktor Tio Pakusadewo, Rima Melati dan Titik Puspa — itu berlangsung, menjelang pemilihan Sandy Nayoan menarik diri, sehingga tinggal KP Norman. Karena calon tunggal tidak diperbolehkan, panitia akhirnya membuka kesempataan kepada floor (peserta) yang berminat untuk mendaftarkan namanya ketika itu juga untuk mencalonkan diri sebagai Ketum Parfi. Mendaftarkan aktor Boy Tirayoh dan Febryan Aditya.

Febryan sendiri mengaku dicalonkan oleh peserta, bukan mencalonkan diri. “Waktu itu ada yang meminta saya mencalonkan diri. Lho saya ini kan Ketum KFT, saya harus minta ijin dulu dengan DPO (Dewan Pertimbangan Organisasi) KFT, boleh tidak saya mencalonkan diri menjadi Ketum Parfi? Ternyata diijinkan, makanya saya bersedia dicalonkan,” kata Febryan kepada balaikita, Senin (13/3) malam.

Dalam pemilihan, ternyata Febryan mendapat suara terbanyak (140 suara), Boy Tirayoh suara terbanyak kedua, dan Norman sisanya. Alhasil terpilihlah Febryan Aditya menjadi Ketua Umum Parfi, meski pun ia masih menjabat sebagai Ketum KFT.

Tentu banyak yang mempertanyakan, apakah boleh seorang ketua umum sebuah organisasi film merangkap jabatan menjadi ketua umum organisasi film lainnya?

“Tidak apa-apa. Ini kan bukan organisasi sejenis. Parfi itu kan organisasi aktor, sedangkan KFT organisasi karyawan. Tidak boleh kalau Ketua Umum Parfi dijabat oleh Ketua Umum Parsi (Persatuan Artis Sinema) misalnya, karena sama-sama organisasi artis,” kilah Thamrin Lubis.

Sekretaris DPO Piet Pagau juga menyatakan hal serupa. Menurutnya sejauh ini tidak ada larangan, karena bukan organisasi sejenis. “Kami di Parfi tidak mempersoalkan itu. Tetapi kalau di KFT jadi masalah, itu persoalan KFT, bukan persoalan Parfi,” kata Piet ketika ditemui di Plaza Festival Kuningan, Selasa (13/3) malam.

Ketika disinggung latar belakang Febryan yang kurang dikenal sebagai artis, Piet mengatakan bahwa Febryan sudah lama berkecimpung di organisasi Parfi, baik sebagai anggota biasa maupun pengurus. Berdasarkan catatan yang diterimanya, Febryan sudah beberapa kali main dalam film.

Febryan sendiri mengaku tidak asing dengan Parfi. Dia menjadi anggota Parfi sejak Parfi dipimpin oleh Eva Rosdiana Dewi. Dan ketika Parfi dipimpin oleh Yeni Rachman, dia aktif di Parfi Cabang Kaltim dan pernah menyelenggarakan akting course Parfi di Kalimantan Timur.

Terhadap dua organisasi film yang harus ditangani, Febryan merasa yakin tidak akan ada konflik kepentingan. Dia akan mengatur sedemikian rupa bagaimana mekanisme kerja di organisasi yang dipimpinnya. Apalagi dia sudah mengantongi restu dari DPO KFT sebelumnya.

“Tujuan saya ke masuk ke Parfi ini cuma pengabdian. Saya ingin membenahi Parfi yang sekarang ini berantakan. Salah satu cara membenahi Parfi adalah dengan memperbaiki manajemen di dalamnya. Dan saya tidak mau datang ke Parfi ini dengan mengiming-imingi uang,” kata Febryan yang dikenal pula sebagai pengusaha ini.

Salah satu cara untuk menghidupkan Parfi, menurutnya adalah dengan menciptakan program-program. Dia juga bertekad untuk menyatukan kubu-kubu yang bertikai di Parfi dan kini berserakan, seperti kubu Parfi 56 dan kubu Parfi Sultan Saladin yang mendapat mandat untuk menjalankan Parfi dari Aa Gatot Brajamusti.

“Bagaimana pun caranya saya akan menemui teman-teman yang kini berada di luar Parfi. Saya akan temui teman-teman di Parfi 56, dan Bang Sultan Saladin, saya sudah minta tolong kepada teman untuk dipertemukan dengan Bang Sultan. Dia responnya bagus,” kata Febryan.

Sultan Saladin yang dihubungi melalui pesan WA, Selasa (14/3) pagi tidak berkomentar banyak ketika ditanya mengenai terpilihnya Febryan sebagai Ketum Parfi.

“Bagus…makin gak jelas dan pasti terpuruk, karena sebagai artis dia tidak kredibel, walaupun buat Abang dia teman yaah menguntungkan….” Jawab Saladin melalui WA.

Kubu Sultan Saladin dan Parfi Kuningan saat ini sama-sama mengajukan permohonan legalitas organisasi ke Kemenkumkan, sejak Parfi Kuningan diketuai oleh Andryega da Silva. Pihak Kemenkumham meminta kedua kubu berdamai.

Keputusan PB Parfi menyelenggarakan KLB hingga terpilihnya Febryan tergolong cepat. Parfi menggambil keputusan KLB setelah memberhentikan aktris Wieke Widowati, sebulan setelah diangkat menjadi Ketua Umum Parfi menggantikan Andryega da Silva.

Wieke diangkat pada tanggal 18 Januari 2017 setelah Parfi memberhentikan Andryega yang dinilai tidak bisa menjalankan organisasi dan telah mencemarkan nama baik organisasi karena perbuatannya, antara lain tidak mempetanggungjawaban hutang sebesar Rp.460 lebih kepada Ketua KFT Febryan Aditya, yang kini mengambil posisinya sebagai Ketua Umum Parfi.

Andryega merupakan saingan Aa Gatot Brajamusti dalam mencalonkan sebagai Ketum Parfi di Kongres ke-15 Parfi di Mataram, Lombok, akhir Agustus 2016 lalu. Andrya yang kalah dalam pemilihan, kemudian ditetapkan sebagai Ketua Umum Parfi setelah Aa Gatot ditangkap Polres Mataram karena diduga mengkonsumsi narkoba.

Wieke diberhentikan setelah sebulan lebih ditetapkan sebagai Ketua Umum Parfi, karena dianggap tidak mampu menyusun kepengurusan. Selain itu sebagai Ketua Umum tidak mau bertanggungjawab untuk menanggulangi kebutuhan secretariat termasuk mambayar gaji karyawan di sekretariat. Yang paling fatal adalah ketika Wieke mengeluh hanya menerima uang Rp.2 juta saat melantik pengurus Parfi Cabang Sumbar.

Ketua DPO Parfi Aspar Patusuri mengakui dengan keputusan DPO memberhentikan Wieke Widowati akan menimbulkan pro dan kontra. Tetapi Wieke dinilai tidak bisa menjalankan amanat DPO. Wieke tidak mampu menyusun pengurus dalam waktu yang ditentukan, selama satu bulan. Bahkan sudah lewat satu minggu dari batas waktu yang ditentukan.

Hal yang memberatkan lainnya, meski pun belum memiliki susunan pengurus, Wieke sudah melantik pengurus di Sumatera Barat, dan bahkan sudah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, seperti dengan kementerian-kementerian. Sementara untuk kebutuhan sekretariat Wieke tidak mau menanggulangi.

“Yang mengecewakan kami ada pernyataan bahwa dia tidak mau melantik daerah kalau cuma dikasih dua juta (rupiah). Itu kan tidak pantas diucapkan oleh seorang ketua. Jaman Ratno Timoer dulu, pengurus pusat membiayai sendiri bila ingin melantik di daerah. Jangan dibebani daerah, kasihan. Saya ini kan pernah jadi pengurus di daerah, bagaimana sulitnya keuangan daerah,” papar Aspar.

Wieke Widowati sendiri tidak pernah bersedia diwawancarai. Ketika dihubungi usai pemberhentiannya dari Parfi, aktris senior ini mengaku sedang berada di bandara, hendak pergi ke luar kota bersama keluarganya. Informasi yang diperoleh balaikita, belakangan Wieke merapat ke kubu Sultan Saladin.

 

Ralat:

Anggota Parfi yang mendaftar ke KLB sebanyak 285 orang, ikut dalam KLB sebanyak 140 orang lebih, Febryan mendapat suara 86, Boy Tirayoh 46, dan KP Norman 8 suara.

Share This: