Akhlis Suryapati: Sinematek Tak Pernah Terancam Bangkrut

_

Pusat Arsip dan Data Film Sinematek Indonesia tidak pernah terancam bangkrut, karena masih
mempunyai sumber dana untuk membiayai kelangsungannya. Demikian ditegaskan Kepala
Sinematek Indonesia Akhlis Suryapati, Rabu (3/6) di Jakarta.

“Di awal berdirinya, Sinematek yang dirintis oleh Asrul Sani dan Misbah Yusa Biran,
mengandalkan modal dari dua tokoh itu, dengan para sukarelawan yang dihonor seadanya. Kini karyawan Sinematek bisa mendapatkan gaji layak, jaminan kesehatan, jaminan  ketenagakerjaan, juga jaminan pensiun,” kata Akhlis Suryapati.

“Tentu saja para karyawan itu selama ini, dari dulu sampai sekarang, terus melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan
pengarsipan film dan data perfilman,” tambahnya.

Akhlis Suryapati, 57 tahun, Selasa (2/7/2019) diangkat menjadi Kepala Sinematek Indonesia menggantikan Adisurya Abdy yang telah berakhir masa tugaanya.

Akhlis mengawali kariernya sebagai wartawan di Majalah Zaman dan Harian Terbit. Pernah menjadi Ketua Festival Film Indonesia tahun 2016, meminpin Sekretariat Kine Klub Indonesia (Senakki), menjadi anggota Lembaga Sensor Film (LSF) dan menyutradarai film.

Saat ini  SI tidak lagi menjadi yang terbesar di Asia Tenggara,  karena negara lain, seperti Thailand, membangun pusat arsip dan data perfilman dengan dibiayai uang negara.

Sinematek Indonesia adalah pusat arsip dan data film yang dikelola oleh swasta, Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail (YPPHUI).

“Saya kira YPPHUI mempunyai sumber dana yang membuat Sinematek tidak pernah
terancam bangkrut. Masyarakat perfilman juga banyak partisipasi untuk
kelangsungan Sinematek,” kata Akhlis.

Sinematek Indonesia sebagai pusat arsip dan data perfilman satu-satunya di Indonesia, serta
yang pertama di Asia Tenggara.

Menurut Akhlis, Sinematek sangat
penting dan dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional untuk riset, penelitian, referensi, pembelajaran, dan lain sebagainya.

 

Share This: