Alangkah Lucunya, Organisasi Artis di Indonesia

Artis-artis senior penolak Kongres Parfi Lombok, cikal bakal Parfi 56 yang kini dipimpin Marcella Zalianti ketika ziarah ke makam Suryo Sumanto, Juni 2016. (Foto: HW)
_

Rasanya tidak ada negara lain di dunia selain Indonesia, yang memiliki organisasi artis demikian banyak. Baik artis seni peran maupun kelompok artis (seniman) lainnya.

Banyaknya organisasi artis itu menunjukkan kesadaran kalangan artis yang semakin tinggi untuk berkumpul dan berserikat, sebagai implementasi Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi: “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.”

Juga terdapat dalam UU Hak Azasi Manusia (HAM) Pasal 24 yang bunyinya hampir sama: “Setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud-maksud damai.”

Namun di sisi lain, organisasi yang berserakan itu menunjukkan betapa sulitnya mempersatukan manusia, meski dari kelompok atau profesi yang sama. Jadi untuk apa organisasi itu didirikan, bagi orang yang berdiri di luar organisasi itu, malah membingungkan.

PARFI

PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) adalah organisasi artis tertua di Indonesia. Didirikan tahun 1956 yang menggabungkan antara artis seni peran dan pekerja film. Belakangan pekerja film memisahkan diri dan membentuk organisasi sendiri bernama KFT (Organisasi Karywan Film dan Televisi).

Dalam sejarahnya PARFI beberapa kali mengalami masalah internal, terutama setiap kali menjelang kongres. Selalu muncul kubu-kubu yang mendukung Calon Ketua Umum. Perseteruan antara Ratno Timoer dan Dicky Zulkarnaen pada tahun 1983 tercatat menjadi konflik paling mencekam dalam tubuh Parfi. Pemilihan Ketua Umum Parfi akhirnya dimenangkan oleh Ratno Timoer.

Sejak itu nyaris Parfi selalu diwarnai oleh konflik yang panas, baik menjelang kongres mau pun ketika kepengurusan berjalan. Tahun 90-an sejumlah artis terkenal menggembosi Ratno Timoer, dengan cara membentuk Gabungan Artis Nusantara (GAN). Kelompok ini sengaja mempermalukan Ratno Timoer dengan mengadakan gerak jalan di Surabaya pada saat FFI berlangsung.

Perseteruan antara Sys NS dengan Wakilnya Eva Rosdiana Dewi juga tak kalah panas. Konflik bermula dengan adanya surat Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang meminta Parfi mengirimkan nama untuk duduk di MPR. Sys NS yang semula menyatakan tidak berminat akhirnya mengisi formulir, padahal pada saat yang sama Eva Rosdiana Dewi sudah siap menggantikan. Akhirnya Sys NS yang duduk di MPR.

Sys NS (Foto: hw)

Pasca Reformasi.

Reformasi yang terjadi di Indonesia seperti membuka kotak Pandora. Keinginan-keinginan yang selama ini terkekang – karena di pemerintahan masa Orde Baru mewajibkan setiap organisasi membentuk wadah tunggal – berhamburan tanpa kendali.

Sejumlah artis yang merasa eksis di dunia akting, walau hanya dalam sinetron karena film sedang terpuruk, lalu membentuk Persatuan Artis Sinetron Indonesia (PARSI). Anwar Fuady diberi kepercayaan menjadi Ketua PARSI periode 19982006.

Anawr Fuady (Foto: HW)

Dalam sebuah konperensi Pers di Jakarta tahun, Roy Marten menggugat kedudukan Anwar Fuady sebagai Ketua Umum. Roy menuduh Anwar tidak pernah benar-benar mengurus organisasi, kecuali menangani artis bermasalah yang berpotensi mendapat porsi pemberitaan dari media. Selain itu Roy menuduh Anwar menilap dana pembuatan sinetron “Kutemukan Cinta” sebesar Rp.900 juta.

Tidak lama setelah konperensi pers itu Roy Marten ditangkap karena kepemilikan narkoba. Ada kecurigaan Anwar Fuadi yang memberi informasi kepada polisi atas kebiasaan Roy Marten mengkonsumsi narkoba. Sebab ketika perang kata-kata di media berlangsung, Anwar Fuady mengatakan tahu banyak tentang “kartu” Roy Marten.

Sejak itu PARSI terpecah. Tetapi organisasi ini tetap berdiri, tanpa aktivitas anggota dan tanpa kegiatan. Organisai artis ini pun tak pernah terdengar mengadakan Kongres atau Munas. Anwar Fuadi menjadi pimpinan abadi di situ.

Tahun 2016 PARSI baru terbentuk. Masih tetap memakai singkatan PARSI tetapi kata sinetron diganti menjadi sinema. Dan lagi-lagi Anwar Fuady menjadi Ketua Umumnya. Program yang dijalankan sementera, masih berupa kegiatan menyantuni korban bencana alam.

Meski pun sebagian anggotanya sudah berpindah ke PARSI, PARFI yang sempat disebut organisasi artis tua oleh anggota PARSI, masih tetap bertahan. Tahun 2006 Yenni Rachman terpilih sebagai Ketua Umum Parfi setelah melalui persaingan yang sengit dengan aktor Soultan Saladin.

Di bawah Yenni Rachman PARFI juga tidak berjalan baik sebagai organisasi artis. Organisasi ini kurang dilirik oleh kalangan artis-artis muda yang eksis di dunia perfilman. Sementara itu Yenni Rachman sendiri justru sibuk mengurus Tagana, organisasi sosial yang bergerak dalam penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang berbasiskan masyarakat.

Tidak puas dengan kepemimpinan Yenni Rachman, sejumlah artis mengusung calon baru pada kongres berikutnya, yakni Aa Gatot Brajamusti, artis dari Sukabumi, Jawa Barat yang lebih dikenal sebagai paranormal ketimbang artis. Nama Gatot Brajamusti mencuat setelah penyanyi Reza Arthamevia dan Elma Theana merapat ke padepokannya di Sukabumi untuk mencari ketenangan. Kedua artis itu tengah mengalami kemelut dalam rumahtangga masing-masing.

Dengan kekuatan finansialnya Aa Gatot berhasil menjadi Ketua Umum Parfi Periode 2011 – 2016. Setelah periode kepengurusannya berakhir, Gatot Brajamusti kembali mencalonkan diri dalam Kongres Parfi ke-15 di Lombok, Agustus 2016. Dia terpilih mengalahkan satu-satunya saingan, Andryega da Silva.

Sehari setelah terpilih, Gatot Brajamusti ditangkap aparat Polres Mataram di Hotel tempatnya menginap. Pasca penangkapan Gatot Brajamusti, Dewan Pertimbangan Organisai (DPO) Parfi yang dipimpin Aspar Patturusi langsung mengangkat Andryega menjadi Ketum Parfi melalui Surat Keputusan bernomor 001.SK/PB.PARFI/PENGURUS/IX/2016 tertanggal 21 Agustus 2016. Tanggal surat itu agak janggal, karena Kongres Parfi ke-15 di Lombok berlangsung tanggal 26 – 28 Agustus.

Andryega (putih) dan Gatot Brajamusti usai Konfres Parfi di Lombok, 28 Agustus 2016. (Foto: HW)

Sementara itu para pengikuti Aa Gatot Brajamusti tidak mau bergabung dengan kubu Parfi Andryega di PPHUI Kuningan. Aa Gatot memberi mandat kepada Soultan Saladin untuk menjalankan roda kepengurusan Parfi, dengan menghimpun beberapa pengurus daerah. Secara bergerilya Parfi versi Soultan Saladin juga tetap bergerak dan mendaftar ke kantor Kemenmkumhan RI.

Sejak memimpin Parfi Andryega memang selalu menjadi pergunjingan di kalangan pengurus maupun anggota yang lain. Terutama sejak utangnya sebesar Rp.463 kepada Ketua Umum KFT Febryan Aditya, terkuak di media massa. Andre telah melakukan wanprestasi, bahkan dituding melakukan penipuan terhadap Febryan, sehingga Ketua KFT memperkarakannya secara hukum, dan menyita mobilnya.

Sejak masalah utang-piutangnya dengan Ketum KFT terkuak, Andre jarang muncul di kantor Parfi di Lt. 4 Gedung PPHUI Kuningan, Jakarta. Bahkan beberapa pengurus inti sulit menghubunginya. Akhirnya para pengurus membuat mosi tidak percaya.

Dewan Pembina Organisasi (DPO) Parfi kemudian memutuskan untuk mengangkat artis senior Wieke Widowati yang selama ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Parfi, untuk menjadi Ketua Umum PB Parfi yang baru, menggantikan Andreanus Dedi Darmawan alias Andryega da Silva. Keputusan itu diambil setelah DPO mempelajari mosi tidak percaya 30 Pengurus PB Parfi terhadap kepemimpinan Andryega.

Kepemimpinan Wieke Widowati juga tak bertahan lama. Sebulan setelah “diangkat”, tidak ada tanda-tanda Wieke melakukan konsolidasi dan membiaya organisasi, akhirnya Parfi mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB) pada tanggal 12 Maret 2017. Dalam KLB itu terpilih Febryan Aditya sebagai Ketua Umum.

Febryan Aditya (Foto: HW)

Uniknya pada saat yang sama Febryan masih menjabat sebagai Ketua Umum Organisasi KFT (Karyawan Film dan Televisi) yang kantornya satu lantai dengan PARFI di Gedung PPHUI Kuningan Jakarta. Dalam sejarah, inilah pertamakali Ketua Umum PARFI dijabat oleh Ketua Umum KFT.

Febryan sendiri terpilih melalui Kongres Luar Biasa (KLB) Parfi yang diadakan pada hari Minggu (12/3) siang. Menurut beberapa sumber kepada balaikita, terpilihnya Febryan sebagai pimpinan puncak di Parfi secara tidak sengaja, karena sebelumnya ia tidak mencalonkan diri.

PARFI 56

Sebelumnya, pengangkatan Adreanus Deddy Darmawan alias Andryega da Silva sebagai Ketum Parfi mendapatkan resistensi dari sebagian anggota senior Parfi. Mereka yang sebelumnya juga tidak menyukai kepemimpinan Gatot Brajamusti lalu mendeklarasikan terbentuknya Parfi 1956. Angka itu diambil sesuai dengan tahun berdirinya organisai Parfi pertama kali.

Artis-artis yang memiliki gagasan lahirnya Parfi 1956 antara lain Darti Manulang, Lela Angraeny, Debby Cinthya Dewi, Kamel Marvin, Soultan Saladin, Pong Hardjatmo dan banyak lagi. Pong sendiri dalam Kongres Parfi di Lombok merapat ke kubu Gatot Brajamusti. Begitu pula Soultan Saladin.

Dengan terpilihnya Andryega, keinginan untuk membentuk Parfi 1956 makin mengkristal. Terlebih belakangan bergabung pula artis-artis senior lain seperti Ray Sahetapy, Gusti Randa, Amoroso Katamsi, Deddy Sutomo, Leroy Osmani dan lain-lain. Melalui sebuah pemilihan secara aklamasi di sebuah rumah makan di Kemang, Marcella Zalianty terpilih sebagai Ketua Umum dan Ray Sahetapi menjadi wakilnya. Pada 1 Oktober 2016.

Marcella Zalianti dan Ray Sahetapi, Ketua dan Wakil Ketua Umum Parfi 56. (Foto: HW(

Pengurus Parfi 56 (bukan 1956) dikukuhkan pada tanggal 24 Oktober 2016 lalu di Hotel Four Season Jakarta. Acara pengukuhan dihadiri oleh Kepala Bekraf Triawan Munaf dan Kepala Pusbang Perfilman Dr. Maman Wijaya. Hanya nama Debby Cinthia Dewi yang masuk ke dalam pengurusan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO).

Konon sebelum pengukuhan pengurus sudah ada semacam skrining untuk menentukan kemurnian dalam tubuh Parfi 56. Hanya mereka yang benar-benar berprofesi sebagai artis dan masih eksis yang bisa menjadi anggota maupun pengurus. Keanggotan dan Pengurus Parfi 56 didominasi anak-anak muda.

Pasca terpilihnya pengurus Parfi 56 sebagian besar pendiri langsung mengundurkan diri. Mereka kecewa karena setelah pengurus dikukuhkan, keberadaan mereka diabaikan. Mereka yang kecewa adalah Lela Angraini, Darti Manulang, Ki Kusumo dan Kamel Marvin. Keempatnya adalah penggagas dan pendiri Parfi 56 (sebelumnya menamakan diri Parfi 1956).

RAI dan Pafindo

Di luar PARFI, PARFI 56 dan PARSI masih ada dua organisasi artis lainnya, yakni Rumah Aktor Indonesia (RAI) dan Pafindo (Perkumpulan Artis Film Indonesia).

RAI berdiri pada 2 September 2013 berbarengan dengan berdirinya organisasi film lainnya seperti APROFI (Asosiasi Produser Indonesia), IFDC (Indonesian Film Directors Club), Indonesian Motion Pictures and Audio Association (IMPAct), Penulis Indonesia Untuk Layar Lebar (PILAR), Sinematografer Indonesia (SI), Indonesian Film Editors (INAFeds), Indonesian Production Designer (IPD) dan Asosiasi Casting Indonesia (ACI).

Lukman Sardi (Foto: HW)

Diketuai oleh aktor Lukman Sardi, RAI lebih mengesankan seperti lembaga intelijen ketimbang organisasi artis, karena informasi tentang organisasi ini tidak terlalu banyak, sehingga tidak diketahui apa saja aktivitasnya.

Organisasi artis termuda adalah Pafindo (Perkumpulan Artis Film Indonesia) yang diketuai oleh seorang pengacara yang juga dikenal sebagai produser dan anggota Badan Perfilman Indonesia (BPI) Bagiono SH. Sejauh ini Pafindo lebih banyak bergerak di bidang sosial, dengan menyantuni korban bencana alam dan anak-anak yatim, serta aktif dalam penyuluhan anti narkoba.

Artis-artis yang bergabung di Pafindo antara lain Ronny Dozer, Rizal Jibran, Rita Hasan, Yanti Yaseer, Rency Milano, Ronny Bo, produser film Letsman Tendy, Sartana, Angelica Simperler dan ratusan artis dan pekerja film lainnya.

Artis-artis yang tergabung dalam Pafindo mengadakan bakti sosial ke korban bencana alam di Sumedang. (Foto: HW)

Melihat begitu banyaknya organisasi artis film yang ada di Indonesia, profesi ini sebebarnya cukup berpotensi untuk memiliki posisi tawar yang kuat, sehingga pada gilirannya mampu memberdayakan dan mensejahtarakan artis sebagai pilar penting dalam industri perfilman.

Sayangnya masing-masing memilih jalan sendiri-sendiri dengan karakteristik masing-masing, walau pun terkadang tidak sesuai dengan profesi mereka. Alangkah lucunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: