Alasan Gubernur Lampung Bikin Film “Keira”

_

Lampung, provinsi di bagian paling Selatan Pulau Sumatera, kembali akan menjadi tempat lokasi syuting film nasional. Tidak hanya menjadi tuan rumah, Pemerintah Provinsi Lampung juga memiliki saham atas pembuatan film tersebut.

Film berjudul “Keira” akan disutradari oleh Harry Dagoe Suharyadi, dengan pemeran antara lain Angelica Simperler, Ray Sahetapy dan Gubernur Lampung Ridho Ficardo sendiri berperan sebagai seorang polisi.

“Keira” bercerita tentang seorang gadis yang memiliki multi kepribadian. Ada enam kepribadian dalam dirinya, sehingga ia sering bersikap dan berpenampilan berbeda-beda dalam beberapa kesempatan. Penyebab dari semua itu adalah trauma yang dialami sejak mengalami peristiwa yang mengguncang jiwanya di masa kecil.

Film ini bergenre thriller. Akan ada adegan kekerasan dan drama mencekam di dalamnya. Gubernur Lampung Ridho Ficardo berharap film ini dapat mengangkat dan mempopulerkan pariwsata Lampung.

Namun dalam jumpa pers di Hotel Novotel Bandar Lampung, Senin (29/1/2017) malam, muncul pertanyaan dari wartawan yang terkesan menggugat keputusan Pemerintah Provinsi Lampung untuk bekerja sama dengan Tujuh Rumah Produksi.

“Pak Gubernur mengatakan pembuatan film ini untuk mengangkat promosi pariwisata di Lampung. Tetapi genre film ini kan thriller penuh kekerasan. Apa nanti tidak kontraproduktif dengan tujuan tersebut, karena itu akan menimbulkan kesan buruk?” begitu pertanyaan seorang wartawan.

Namun Gubernur termuda di Indonesia itu dengan santai menjawab. Menurutnya pihaknya akan mengembangkan pariwisata dari sudut apapun. Apalagi film, yang menurutnya akan banyak dilihat orang dan meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.

“Dulu ada film yang mengangkat tentang Lawang Sewu, laku kok. Saya jadi kepingin melihat Lawang Sewu yang ada di Semarang setelah menonton film itu. Lalu ada film tentang Rumah Pondok Indah, lalu orang ramai-ramai ingin melihat rumah yang seram tersebut. Jadi kita harapkan film Keira ini juga akan mendorong masyarakat luar untuk datang ke Lampung,” kata Ridho.

Menurut Ridho, pariwisata itu yang penting ada sisi halalnya. Asalkan tidak menonjolkan judi dan narkoba. Soal film itu bukan sesuatu yang terlarang meski pun temanya horor sekali pun. Tetapi destinasi wisata yang ditampilkan di film itu diharapkan akan tertinggal di memori penonton, dan mereka yang berasal dari daerah lain, akan terdorong untuk mendatangai lokasi wisata yang ditampilkan di film.

Saat ini pariwisata Lampung menggeliat dengan hebat. Setiap musim liburan, hotel-hotel di Lampung dan berbagai lokasi wisata yang ada di provinsi ini ramai didatangi pelancong dari daerah-daerah lain di Indonesia maupun luar negeri.

Seperti diketahui, Lampung memiliki banyak obyek wisata menarik, seperti tempat konservasi gajah di Way Kambas, tempat melihat lumba-lumpa di Pulau Kiluan, Gunung Anak Krakatau, tempat surving dengan ombak besar di Liwa dan lain sebagainya.

“Tiap tahun puluhan ribu turis asing datang ke Liwa. Dan banyak turis local yang mengunjungi Lampung. Pariwisata Lampung mengalami peningkatan dua kali lipat dibandingkan pariwisata nasional. Nah buat saya, kalau pariwisata bagus kan hotel-hotel penuh, orang makan di restoran-restoran. Tentu saja perekonomian Lampung juga akan bagus,” kilah Ridho.

Share This: