Apa Susahnya Main Ludruk?

Ketua Umum Pafindo RM Bagiono SH, MBA (kiri) dan Bendahara Umum Pafindo Yanti Yaseer (tengah) ketika latihan menjelang pementasan ludruk di Anjungan Jawa Timur TMII Jakarta beberapa waktu lalu. (Foto: Ist).
_

Dalam diksusi terkait acara Kampanye Film Nasional di Gelanggang Remaja Jakarta Utara tahun 1990, sutradara Nasri Cheppy (almarhum) sempat berdebat keras dengan seorang audiens. Pangkalnya adalah soal akting. Nasry Cheppy yang ketika itu sukses menyutradarai film Catatan Si Boy menyebut akting di film tidak gampang, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berakting.

Pendapat Nasri Cheppy dibantah dengan keras oleh seorang peserta diskusi, yang mengatakan di teaterlah, di atas panggung kemampuan akting seseorang diuji. Apakah dia benar-benar bisa berakting atau tidak, akan terlihat di teater. Perdebatan itu cukup panjang dan panas, walau akhirnya masing-masing pihak bisa menerima argumen pihak lainnya.

Masing-masing memang punya kelebihan dan kekurangan tersendiri, tergantung faktor yang mempengaruhinya. Tetapi sulitnya bermain di atas panggung, juga diakui oleh bintang film atau sinetron, karena berakting di atas panggung bukan hanya kesiapan mental yang diperlukan, juga kemampuan untuk mengucapkan dialog dan berimprovisasi bila ada kesalahan, mengingat “adegan” di panggung tidak bisa diulang dibandingkan berakting di depan kamera untuk film atau sinetron.

Beberapa aktor anggota Perkumpulan Artis Film Indonesia (Pafindo) dengan jujur mengakui betapa tidak mudahnya beraksi di atas panggung. Pengakuan itu diucapkan setelah mereka ikut bermain ludruk bersama Kumpulan Ludruk Jakarta (KLJ) di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah. Pafindo memang sedang bekerjasama membuat pementasan ludruk dengan KLJ untuk menyambut HUT Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang jatuh ada tangal 21 April. Lakon yang dipentaskan berjudul Pil Cabe.

“Meski pun sudah ratusan judul sinetron saya bintangi, ini pertama kali saya ikut main ludruk. Waktu pertama kali melihat, kelihatannya main ludruk itu enteng banget. Ternyata setelah kita jalanin, tidak gampang. Kalau di film atau sinetron kan harus berdasar naskah, di sini lebih banyak improvisasi. Apa saja bisa jadi properti. Dan itu hanya bisa dimainkan oleh orang yang punya kemampuan dan pengalaman tinggi,” kata artis sinetron Yanti Yaseer, yang juga menjabat sebagai Bendahara Umum Pafindo.

“Saya bilang sama sutradaranya saya boleh enggak ikut main walau tidak ada urusannya dengan Pafindo. Di ludruk ini pengalaman bertambah. Selama ini saya mendapat peranan antagonis atau apa, di sini kita bisa membanyol. Kadang kita suka lupa kita ini keluarga siap aya. Tapi karena par asenior ini selalu memberi support kita di panggung merasa enjoy,” tambah Yanti.

Antara sinetron dan ludruk jauh berbeda, menurut anggota Pafindo yang lain, Rita Hasan, di sinetron kita harus menghapal skrip. Walau pun kalimatnya bisa berimprovisasi, dialognya harus selarang dengan lawan main, tidak boleh belok jauh dari lawan main kita.

“Di ludruk ini improvisasi harus kita kuasai. Kita tidak boleh telat. Kalau lawan main mengucapkan sesuatu kita harus cepat menjawab. Beruntung saya pernah menjadi bintang tamu di Ludruk. Saya dulu ikut Srimulat. Kebetulan saya juga orang Jawa, jadi tidak terlalu sulit memahami dialognya,” tambah Rita.

Selain Yanti Yaseer dan Rita Hasan, anggota Pafindo lain yang terlibat dalam pementasan itu adalah RM Bagiono (Ketua Umum Pafindo), Mugi Elang Cakra, Robby Bo, Lily Dipa, Nita Yahya dll.

Ludruk merupakan kesenian yang sangat digemari di Jawa Timur, karena kesenian itu memang berasal dari Jawa Timur. Menurut Ketua Kumpulan Ludruk Jakarta (KLJ), Cak Batin, kesenian ludruk berasal dari Jombang Jawa Timur.

Tahun 1905, menurut Cak Batin, ada seorang buruh tani bernama Pak Santik. Suatu hari ketika dia sedang melakukan babat tamen atau membabat rumput, dia terkena ulat bulu. Badannya gatel semua. Kebiasaan orang sana, mengobati gatal kena ulat bulut adalah dengan tepung beras yang dicampur garam dan air. Ketika campuran tepung beras itu ditaburi di wajahnya, wajahya menjadi putih semua. Yang melihat semua tertawa, termasuk isteri, anak dan orang lewat ketawa semua.

Merasa lucu, Pak Santik lalu ngamen di pasar. Tahun 1907 bertemu Pak Pajiono, seorang panjank kendang, keduanya ngamen. Tahun 1915 ketemu Pak Besut yang asalnya dari Ploso Jombang, dipadukan lagi menjadi grup b ernama Lerok. Dikembangkan ludruk jadi senjata buat pahlawan revolusi jaman dulu. Akhirnya ada tentara yang menyamar jadi perempuan. Dulu tokoh perempuan dalam ludruk itu lelaki.

“Di ludruk juga ada tari Remo. Tarian itu merupakan isyarat. Kalau si penari dia bung sampur ke kanan itu artinya Belanda ada di sana. Dengan lenggut-lenggut, itu kode semua,” tutur Cak Batin.

Ludruk kemudian dipopulerkan di Surabaya, karena Surabaya ada RRI. Tahun 1930 ludruk itu berkembang. 1960-an ludruk dimasuki Lekra dengan tiap berita mengandung unsur politik. 1965 terjadi G 30 PKI, ludruk sudah hancur punah. Tidak ada orang yang berani main ludruk. Akhirnya para pemain ludruk dihimpun oleh TNI, sehingga ketika itu ada kelompok bernama Ludruk 521, ada Ludruk 510, sesuai nama batalion TNI yang menghimpunnya.

Lalu apa arti kata ludruk? Kata itu sendiri merupakan singkatan darai Lembaga Utama Dari Rakyat Untuk Kebudayaan. (Ludruk).

Terkaiat dengan pementasan lakok Pil Cabe yang akan dimainkan bersama oleh anggota Pafindo dan KLJ, sutradara Cak Basuki meminta agara ceritanya bisa dipahami oleh seluruh pemain.

“Ini cerita apa. Ada cerita sejarah, dongeng, perjuangan kekinian macam-macam. Dalam suatu pementasan. Mohon untuk membawakan dengan penghayatan. Ngerti cerita ini tujuannya apa. Karena ini adalah ludruk tidak lepas dari hukum panggung,” kata Cak Basuki.

Dalam ludruk, kalau adegan rumah, bagian kanan itu berarti luar, kiri itu dalam. Yang punya rumah selalu ada di kiri.

“Kepada teman-teman pemain kami mohon bicara harus lepas, mau salah mau benar, lepas saja tapi tetap terkontrol tapi dijaga emosinya. Banyol silahkan tapi sambil dipikir. Pengulangan kata jangan diulangin. Sekali dua kali enggak apa-apa,” pinta Cak Basuki.

“Yang ketiga saya minta tolong penghayatan. Kalau semuanya lucu, jatuhnya kaya extravaganza. Ini ada ceria sedih nangis beneran. Kalau kejam gagal, kejam beneran.

Kepada semua pemain jangan berusaha untuk mendagel. Kalau mendagel ini jadi extravaganza,” kata Cak Basuki menyebut tayangan ludruk yang ada di sebuah tivi swasta.

Dalam ludruk, tambah Cak Basuki, kemampuan pemain meman beda-beda. Umpama anak sekolah, ada kelas 1, kelas 2, dan seterusnya.

“Setelah kami jajaki ada yang sudah bisa, ada yang kurang. Anggota Pafindo karena pengalamannya sudah panjang, kami kira sudah bisa dan karakternya pas.
Ketua Pafindo RM Bagiono, SH MBA berharap kerjasama antara Pafindo dan KLJ bisa terus berlanjut ke depan. Ada komitmen dari Pafindo untuk kembali menjadikan ludruk sebagai kesenian yang dicintai masyarakat.

“Kerjasama Ini diharapkan dapat mengangkat kesenian ludruk agar dicintai lagi oleh masyarakat. Pafindo akan membantu untuk mengembalikan kesenian ludruk sebagai kesenian yang dicintai,” kata Bagiono.

Share This: