APROFI Minta Masyarakat Jernih Melihat Film “Naura”

_

Ketua Umum Asosiasi Produser Indonesia (APROFI), Fauzan Zidni menyayangkan tuduhan yang disampaikan terhadap sutradara Eugene Panji yang dianggap menistakan agama lewat filmnya.

“Saya cuma berharap pihak yang ramai membuat ini menjadi kontroversi untuk menonton kembali filmnya, lalu menilai dengan pikiran jernih. Jangan apa-apa langsung dituduhkan penistaan agama. Tolonglah bisa lebih bijak dengan memisahkan antar karya seorang filmmaker dengan pilihan politik yang pernah dia pilih.” Kata Fauzan.

Kata Ketua Umum Indonesian Film Director Club (IFDC) Lasja F. Susatyo mengatakan “Naura dan Geng Juara” adalah film yang sehat untuk tontonan anak-anak. Apalagu sudah lama Indonesia tidak memiliki film musikal.

“Eugene sudah membuat karya yang sangat baik. Harus kita apresiasi. Marilah kita tetap menjadi bangsa yang toleran dan tidak menjadi bangsa pemarah. Penggunaan dalil penistaan agama untuk hal yang paling innocent seperti tontonan anak malah menyuburkan bibit kebencian dari rasa curiga sejak usia dini. Ibu yang bijak adalah kunci dari pendidikan toleransi di negara ini.” papar Lasja.

Film Naura & Genk Juara berkisah tentang rombongan anak2 sekolah yg cerdas dan kreatif yang berkegiatan di sebuah hutan konservasi. Di tengah kegiatan itu ada 3 orang penjahat yg melakukan pencurian hewan dari kandang konservasi yg ternyata di dalangi si petugas penjaga konservasi itu sendiri.

Tiga orang penjahatnya bercambang dan bertampilan agak kasar, sebagaimana layaknya tampilan penjahat pada umumnya. Satu di antaranya memakai celana pendek bukan celana cingkrang.

“Oleh karena itu jauhlah dari gambaran saudara-saudara kita yg sering dipandang sebagai radikal/ teroris, karena jenggot dan model celananya,” kata Ketua LSF Ahmad Yani Basuki.

Sebagai film setting Indonesia yg mayoritas penduduknya muslim, menurut Yani, bisa saja penjahatnya dalam film beragama Islam. Sama wajarnya jika dalam negara yang mayoritas penduduknya non muslim penjahat non muslim.

Ketua LSF memberi contoh film “Home Alone”. Dalam film itu ketika si penjahat di tengah malam di hutan sedang ketakutan karena mengira ada hantu, salah satunya berdoa.

Dalam film “Naura” karena tokoh jahatnya muslim dia berdoa doa secara Islam. Tetapi yang dibaca salah, yaitu doa mau makan. Karena itu ditegur temannya, doanya salah, doa makan.

“Ketahuan penjahatnya muslim ya karena dia baca doa itu, yang cenderung latah-latah juga. Tapi tidak ada penggambaran spesifik atau kesan penegasan bahwa muslim itu jahat. Tidak bedanya jika ada film tentang kasus korupsi, lalu koruptornya di dalam bui berdoa atau shalat, itu sama sekali tak berarti merepresentasikan Islam/umat Islam itu jahat,” jelas Yani.

“Bagi LSF, tidak terlihat adanya bagian yang secara jelas mendiskreditkan Islam!” tandas Yanu.

Petisi.

Film musikal anak-anak berjudul “Naura & Genk Juara” menuai suara kontroversial karena memuat konten yang dinilai menyudutkan Islam.

Situs berbagi informasi yang populer seperti chirpstory.com, memuat beberapa ulasan netizen yang mengkritisi film tersebut. Situs itu mengutip ulasan netizen bernama Nina Asterly di akun Facebook-nya.

Menurut Nina, dia bersama anaknya telah menonton film tersebut dan hasilnya di luar perkiraannya bahwa film anak-anak itu seperti film Petualangan Sherina.

“Ternyata jauh dari sebuah film yang epik dan tidak cocok untuk anak-anak,” tulisnya.

Yang lebih menggemaskan, paparnya Nina, di dalam film itu para penjahat digambarkan sebagai orang yang berjenggot, brewokan selalu mengucapkan Istighfar dan mengucapkan kalimat-kalimat Allah lainnya.

“Anak saya yang baru berumur 8 tahun saja dari mulai kemunculan si penjahat itu sampai film selesai terus-terusan bilang ke saya, Ma, itu orang itu Islam tapi kok jahat tapi kok pencuri, gimana sih? Saya bilang ke anak saya, tidak ka itu salah, Islam tidak begitu,” tuturnya.

Karena tulisan Nina di facebook, kemudian muncuk petisi yang minta agar penayangan film itu dihentikan. Petisi sudah ditandatangani lima puluh ribu orang lebih.

 

 

Share This: