Areng Widodo dan Tya Subiyakto, Berkolaborasi di Film “Stadhuis Schandaal”

_

Ilustrasi musik merupakan elemen penting dalam sebuah film. Sulit membayangkan sebuah film tanpa ilustrasi musik. Sutradara film “Stadhuis Schandaal”, Adisurya Abdi sangat memahami tentang pentingnya peranan musik dalam film, sehingga ia merasa perlu untuk memakai jasa orang-orang terbaik dalam pembuatan musik film, untuk “Stadhuis Schandal”.

“Ilustrasi musik sangat berperan untuk memperkuat suasana pengadeganan. Terutama untuk adegan-adegan yang tidak menggunakan dialog,” kata Adi.

Mengingat pentingnya unsur musik itu Adi ingin unsur musik dalam filmnya kelak memiliki kekuatan yang dapat memberi nilai lebih dalam filmnya. Tidak tanggung-tanggung, ada melibatkan dua nama terkenal yang kualifaid dalam menangani ilustrasi musik film. Keduanya adalah Areng Widodo dan Tya Subiyakto.

Areng, lelaki kelahiran Salatiga yang pernah bergabung di Bengkel Teater WS Rendra, adalah seorang pemusik yang telah menangani ilustrasi musik untuk belasan judul film dan sinetron.

Beberapa kali masuk nominasi Penata Musik Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) dan meraih 2 Piala Citra sebagai Penata Musik Terbaik FFI, masing-masing melalui film “Malioboro” (1989) dan “Jangan Renggut Cintaku” (1990).Tidak hanya menjadi Penata Musik, lagu karya Areng berjudul “Syair Kehidupan”, menjadi theme song dalam film “Stadhuis Schandaal”.

“Cuma untuk film ini saya aransir ulang, disesuaikan dengan tema film. Agak sedikit bernuansa mistis, dan dinyanyikan oleh perempuan,” jelas Areng.

Penata Musik kedua, Tya Subiyakto juga memiliki prestasi tak kalah mengkilap, selain memiliki jam terbang yang tinggi di bidang musik. Tya adalah Penata Musik Terbaik Festival Film Asia Pasifik (FFAP) ke-57 di Pnom Penh, akhir Juli 2017 lalu, melalui filmnya “Rudy Habibie”.

Selain itu Tya menjadi Pemenang pada Festival Film Bandung ke-21 tahun 2008, dan Penata Musik Terpuji untuk film “Ayat-Ayat Cinta”. Penata Musik Terpuji untuk film “Sang Pencerah”pada Festival Film Bandung ke-24 tahun 2011.Kini kedua pemusik handal itu harus bertemu di dalam sebuah film.

Pertanyaanya, bisakah keduanya bekerjasama mengingat setiap pemusik memiliki visi dan ego masing-masing.

“Tidak ada masalah ya. Setting film ini kan menggambarkan dua masa yang berbeda, yakni masa kolonial dan era sekarang. Kami berbagi tugas. Saya mengerjakan untuk bagian masa lalu, dan Tya untuk era sekarang. Kami bekerja sendiri-sendiri, tetapi tetap berkolaborasi, ” kata Areng, ketika ditemui di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, belum lama ini.

“Stadhuis Schandaal” mengisahkan tentang seorang mahasiswi yang bertemu dengan sosok wanita cantik, ketika melakukan penelitian untuk skripsinya.

Ternyata wanita cantik misterius berwujud Noni Belanda adalah leluhurnya sendiri.Film ini menggambarkan konflik yang kuat, baik di masa lalu hingga saat ini. Film ini antara lain dibintangi oleh Tara Adia, Amanda Girly, Volland Humonggo, Anwar Fuady, dll.

 

Share This: