Areng Widodo Membuat Musik Berbeda untuk Stadhuis Schandal.

Areng Widodo (kiri)
_

Sudah puluhan judul film dan sinetron yang menggunakan jasa Areng sebagai Penata Musik. Yang terakhir ia menjadi Penata Musik untuk film Stadhuis Schandal produksi Xela Film, dengan sutradara Adisurya Abdi.

“Ini merupakan film kesekian saya bekerjasama dengan Mas Adi. Saya sudah bekerjasama dengan beliau sejak film Macan Kampus tahun 80-an jadi sampai sekarang sudah 40 tahun lebih,” kata Areng dalam diskusi tentang cerita film Stadhuis Scandal di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail Jakarta, Jum’at (13/7/2018).

Diskusi yang dipimpin moderator Maman Suherman ini juga menghadirkan budayawan Remy Silado, sutradara Adisurya Abdy, produser Aco Rahman dan youtuber Andriani.

Areng menuturkan, dia dihubungi oleh Adisurya Abdi untuk ke kantornya, lalu diberikan skenario film “Stadhuis Schandal”. Dia lalu membawa skenario itu pulang dan membacanya.

“Saya pikir ini luarbiasa. Ceritanya tidak biasa karena menggabungkan kisah masa lalu dan masa kini. Ceritanya mengandung sejarah yang terkait penjajah Belanda. Tentu akan sulit eksekusinya. Saya pikir orang yang mau mengerjakan film seperti ini orang gila!” kata Areng sambil tertawa.

Areng merasa mendapat tantangan untuk mengerjakan musik yang berbeda dari apa yang dilakukannya selama ini. “Bukan berarti musik saya hebat. Tapi saya akan membuat musik yang berbeda. Apalagi Mas Adi sebagai sutradara memberikan kebebasan buat saya. Biasanya kan sutradara suka mendikte,” tambahnya.

Stadhuis Schandal adalah sebuah film yang mengisahkan percintaan seorang puteri jenderal Belanda dengan perwira rendahan. Pada akhirnya hubungan itu dianggap aib dan sang perwira dihukum mati.

Dalam setting modern, hadir seorang mahasiswi yang melakukan penelitian dan bertemu dengan arwah gadis Belanda tersebut.

Nama Areng Widodo di dunia musik sudah sangat dikenal. Areng adalah pemusik serba bisa, bukan dalam memainkan alat musik, tetapi dia bisa memainkan beberapa alat musik, mencipta lagu dan bertindak sebagai penata musik untuk film.

Lahir di Salatiga. Dari Bengkel Teater/Rendra (1969-1974), ke Palembang main band (1975). Juga bikin lagu, mendapat BASF award untuk lagu Nona Manis. Karya lagu lainnya, Jarum Neraka sukses dibawakan Nicky Astria.

Setelah diunggulkan lewat karya musik film Malioboro pada FFI 1989, meraih Citra pada FFI 1990 dalam Jangan Renggut Cintaku. Cuma masuk unggulan untuk Boss Carmad dan Lagu untuk Seruni pada FFI 1991.

Pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1994 jadi calon pemenang untuk Salah Asoehan. Yang memulai penataan musik film pada 1980-an ini belakangan juga terjun ke sinetron. Termasuk dalam Noktah Merah Perkawinan (1996).

Share This: