Asmara Abigail: Dari Setan ke Setan

Foto: HW
_

Film Indonesia telah lama kehilangan wajah Indonesia dalam arti sebenarnya. Bukan hanya cerita yang jauh dari gambaran masyarakat Indonesia sebenarnya, mayoritas bintang utama di Indonesia rata-rata berdarah campuran. Itu mungkin karena secara antatomi, fisik orang Indonesia umumnya masih belum mencapai level yang dibutuhkan untuk keindahan gambar. Atau gambara selera umum seperti itu. Kalau pun ada, popularitas mereka masih kalah dibandingkan artis-artis blasteran.

Asmara Abigail barangkali bisa mewakili keinginan untuk melihat wajah asli Indonesia di film. Terutama jika kelak kariernya moncer, dan dia mendapatkan peran-peran penting di sebuah film. Kalau melihat dari darahnya, gadis berdarah Manado – Jawa ini, dipastikan asli Indonesia, meski pun belum diurut sampai jauh ke atas, apakah ada darah lain yang mengalir dalam tubuhnya.

Asmara Abigail adalah bintang yang mulai mendapat tempat di panggung film nasional. Tidak tanggung-tanggung ia debutnya dimulai bersama dua sutradara top Indonesia, Garin Nugroho dan Joko Anwar. Jarang seorang pemula mendapat kesempatan seperti yang diperoleh Abigail.

“Saya sangat bersyukur mereka maestro-maestro dan terlebih secara personal sejak saya SMP, SMA karya-karya mereka favorit saya. Jadi saya suka nonton film-film mereka. Jadi bisa bekerjasama dengan mereka menurut saya tuh mimpilah. Luar biasa banget,” kata dara kelahiran Jakarta, 3 April 1992 ini, saat ditemui dalam selamatan film Pengabdi Setan di Studio Rapi Film Jakarta, baru-baru ini.

Asmara menuturkan proses pertemuan dengan kedua sutradara tekrenal itu. “Kalau ketemu Mas Garin karena waktu itu kita ketemu ada Screening Tjokroaminoto di Paviliun 28. Kita ketemu, dikenalin sama Paul Agusta. Tapi Mas Garin memang sudah lama mencari untuk karakter Asti itu sekitar 1, 5 tahun tapi belum ketemu-ketemu. Akhirnya Paul bilang kenapa tidak coba Asmara aja. Akhirnya kita kontak-kontakan, lalu casting. Setelah itu baru dikabarin kalau saya dapat filmnya,” katanya.

“Kalau dengan Abang Joko sendiri karena pertemanan sih. Karena abang kenal saya, danw aktu itu saya belum focus ke akting karena masih bekerja di bidang lain. Jadi abang juga enggak tahu kalau saya in to acting,” tambah Asmara.

Uniknya bersama kedua sutradara itu ia bermain dalam film yang ada hubungannya dengan setan. Dengan Garin Nugroho ia main dalam film Setan Jawa, sedangkan bersama Joko Anwar untuk film Pengabdi Setan, yang saat ini tengah menjalani proses syuting.

“Sebenarnya dengan Mas Garin bukan film tentang setan, bukan film horor,” kata Asmara. Mungkin karena pertamanya dari Setan Jawa, jadi ada imej horornya. Walau pun Setan Jawa itu bukan film horor, tapi karena namanya jadi identik dengan horor. Dan ketika pertama kali syuting dengan Abang Joko ketika itu Film pendek Jenny, itu film horor, mungkin Abang Joko puas dengan performance saya, jadi dianggap cocok,” tuturnya.

Pengabdi Setan merupakan film keempat Asmara. Tetapi kalau masuk kategori film cerita, itu adalah film kedua. Yang pertama “One to Jaga” film Malaysia bertema action dramatik. Film kedua  Setan Jawa, lebih ke art, karena cara bertuturnya yang berbeda.

Keanehan kedua bagi Asmara sebagai pendatang baru adalah, mendapat kesempatan untuk main film horor. Padahal gadis berkulit sawo matang ini mengaku penakut.

“Karena saya takut film horor, karena tidak pernah nonton film horor. Jadi ekspresi seperti benar-benar di film, karena saya memang penakut. Walau pun penakut, tapi saya mau ikut karena itu karyanya abang,” ujar Asmara yang mengaku sebagai pengaggum karya-karya Joko Anwar, walau pun saya ditawarin genre horor,

Memang baru sedikit film yang dibintangi Abigail, karena dia memang pendatang baru.Jadi kalau mencari wajah Abigail dalam film Indoesia yang sudah mencapai produksi 100 judul lebih, agak sulit. “ Kan aku baru main film. Baru 2016. Ini baru awal 2017, sedikit sekali peran yang dimainkan,” kilahnya.

Dasar yang dimiliki Abigail juga bukan akting. Dia memiliki keahlian di bidang fesyen. Ia mengaku sejak kecil menyukai fesyen. Abigail lalu kuliah di Jakarta Fashion Bussines, setelah itu ke Itali, mengambil master di Lassale College Jakarta, Old Feature Academy di Milan, jurusan marketing branding for luxury product. Dari Itali ia kembali ke Jakarta bekerja di perusahaan e-commerce, start-up, tapi sampai sekarang menurutnya belum launching juga.

“Dan itu bentuk art form juga. Dan di mata kuliah saya itu ada mata kuliah contemporary art, history of fashion. Dan menurut saya itu penting buat karir saya di sini, walau pun dari dulu, mulai kuliah memang saya pinginnya di film. Dari dulu ada keinginan, tapi belum masuk. Saya sekarang ingin masuk di industri film,” tutur Abigail. “Kalau fashion bisa saya terapkan pada diri sendiri. Itu kan yang saya pelajari kan marketing branding dan luxury product. Itu luas, bisa diterapkan ke mana saja,” tambahnya.

Selain fesyen, Abigail juga memiliki kecintaan pada tari-tarian. Untuk memperdalam keahliannya menari, ia mengikuti kelas dansa yang lebih mendekati ke tarian tango sama flamengo. Abigail mengaku ikut kelas tari bukan untuk menjadi professional. Cuma karena badannya sudah terbiasa menari, ototnya sudah kebentuk walau pun tidak dalam tingkat professional. Di film “Setan Jawa” ia merupakan satu-satunya pemain yang menari.

“Saya cinta, saya suka tari-tarian. Karena sejak kecil suka nonton film-film yang bertema tarian, seperti Dance With Me, Dirty Dancing. Jadi lebih ke tari-tarian latin ya. Jadi ah memang pengen banget menari. Tapi baru bisa dieksekusi setelah lulus kuliah, karena lebih banyak waktunya setelah lulus kuliah,” tutur Abigail.

Bisa bekerja sama dengan dua orang sutradara besar merupakan keuntungan bagi Abigail. Bukan saja namanya langsung terkatrol, tetapi ia mendapat pelajaran penting dari mereka. Ia melihat Garin dan Joko memang dua sutradara yang memiliki pola kerja yang patut diteladani.

“Yang pertama, segala sesuatu dikerjakan dengan hati. Memang betul-betul apa yang mereka rasakan, mereka pikirkan, mereka komunikasikan dalam bentuk art form yang bentuknya film, untuk disampaikan kepada orang lain, supaya orang lain bisa melihat cara pandang tersebut. Dan kayaknya semakin tinggi ilmunya semakin down to earth, semakin santai. Berkarya itu tidak ada beban. Memang ingin berkarya, bukan karena keinginan lain,” pendapatnya tentang Garin Nugroho dan Joko Anwar.

Mereka, lanjut Abigail, berkarya dengan jujur, berkarya dengan hati. “Mengapa Mas Garin bisa bikin Setan Jawa, itu inspirasinya dari dia sendiri, dari lingkungan terdekat dia, dari keluarga dia. Mas Joko juga bikin “Pengabdi Setan” karena masa kecilnya. Jadi bagaimana kita mengenal lebih dalam. Karena kalau kita mengenal segala sesuatu kita bisa mengeksekusinya lebih baik,” kata gadis kelahiran Jakarta, 3 April 1992 ini.

Puteri dari pasangan Prasetyono Sumesku dan Mairana Theresia Tumewu ini mengaku masih ingin mendalami dulu dunia akting, dan menelusuri kedalamannya. Abigail belum memikirkan tentang masa depannya.

“Belum tahu ke depannya mau ngapain, tapi saya optimis bisa mendapatkan tempat di dunia film,” Abigail mengakhiri bincang-bincang.

 

Share This: