“Ati Raja”, Film Tentang Ho Eng Djie, Seniman Makassar Peranakan Tionghoa

Foto: Ist.
_

Makassar merupakan kota terbesar di Timur Indonesia yang banyak melahirkan seniman. Baik di bidang sastra, musik maupun film.

Salah satu seniman besar di Makassar adalah seniman berdarah Tionghoa, Ho Eng Djie (1906 – 1960). Dialah pencipta kelong (lagu) berjudul Sailong, Ati Raja dan Ammacciang yang cukup populer di Masyarakat.

“Waktu saya masih di Unhas (Universitas Hasanuddin) lagu Ati Raja selalu dinyanyikan pada saat wisuda. Betapa sakralnya lagu itu,” kata anggota Lembaga Sensor Film (LSF) kelahiran Sulawesi Selatan, Syamsul Lussa.

Syamsul hadir dalam pemutaran trailer film Ati Raja di Losari Roxy Hotel, Jakarta, Rabu (30/10/2019).

Film Ati Raja yang mengisahkan perjalanan hidup Ho Eng Djie, seniman Makassar berdarah Tionghoa, diproduksi di Makassar oleh produser, sutradara, kru dan seluruh pemain dari Makassar.

Film yang disutradarai dan skrnario ditulis oleh Shaifuddin Bahrum dengan pemain terdiri dari Fajar Baharuddin (Ho Eng Djie), Jeniffer Tungka (Soang Kie), Stephani Vicky Andries dan lainnya ini akan beredar di bioskop mulai 7 Novembet 2019 mendatang.

Meskipun Ho Eng Djie seorang seniman besar, dan karya-karyanya banyak dimainkan / dinikmati masyarakat, sayangnya banyak masyarakat yang tidak tahu kalau lagu-lagu itu diciptakan oleh Ho Eng Djie.

“Bahkan banyak karya beliau yang ditulis no name, sebagai penciptanya. Ketika saya mempertanyakan masalah ini kepada seorang seniman yang dihormati di Dewan Kesenian Makassar, dia bilang biarkan saja, karena kalau nama penciptanya ditulis akan merepotkan banyak pihak terkait hak cipta dan sebagainya,” kata Shaifuddin Bahrum yang juga seorang sastrawan dan peneliti, di Jakarta, Rabu.

Sekilas tentang Ho Eng Djie. Saat masih kanak-kanak, Ho Eng Dji (1906-1960), mengikuti orang tua­nya merantau dari daratan China ke Makassar.

Ia terjun langsung ke dalam budaya Makassar dan ia dikenal sebagai sosok China perantauan yang mampu beradaptasi, bahkan melebur dalam budaya setempat.

Pada dekade tahun 1930-an hingga 1960-an, nama Ho Eng Dji sangat terkenal. Ia lebih banyak dikenal sebagai musisi yang melahirkan lagu-lagu daerah Makassar yang populer hingga saat ini. Hanya sedikit orang yang tahu kalau Ho Eng Dji juga banyak menulis syair-syair dalam bahasa Makassar.

Syair-syair itu disimpannya dalam sebuah kotak kayu. Pada tahun 1950 kumpulan syair itu ditemukan oleh Njoo Cheng Seng, yang lalu menjadikannya sebagai ilustrasi cerita roman “Tjilik”nya.

Cerita ini terbit dua kali dalam sebulan pada saat itu di Jakarta. Roman Tjilik menggunakan bahasa Indonesia dan syair-syair Ho Eng Dji ditulis dalam bahasa daerah Makassar yang diterjemahkan Njoo Cheng Seng ke dalam bahasa Indonesia.

Latar belakang Ho Eng Djie menyatu dalam seni musik daerah Makassar di awali oleh rasa prihatinnya melihat persoalan diskriminasi di Makassar tentang perlakuan sikap buruk warga pribumi pada umumnya terhadap warga peranakan Cina.

Ho Eng Djie juga mendirikan Orkes bernama Kullu-Kulluwa. Orkes ini, adalah orkes lagu-lagu daerah Makassar, beberapa yang direkam di atas piring hitam (dahulu belum ada pita kaset). Ho Eng Djie berupaya membaur dengan warga asli melalui seni suara.

Saat ini nama Ho Eng Dji oleh Pemerintah Kota Makassar (sejak tahun 2012) ditetapkan sebagai sebuah nama jalan, menggantikan nama Jalan Jampea.

Anggota LSF Syamsul Lussa mengatakan, film Ati Raja merupakan sebuah karya yang patut diapresiasi dengan baik. Pemerintah dan masyarakat, khususnya di Makassar, harus mengetahui dan memahami siapa Ho Eng Djie.

Film Ho Eng Djie, menurut Syamsul, jangan dipandang sebagai hiburan dan karya kreatif semata, tetapi bisa dijadikan sebagai media perekat bangsa.

“Ini merupakan momentum ketika bapak presiden atau menkopolhukam, sebagai culture assimilator,” katanya seraya berharap film ini juga bisa disaksikan oleh anak-anak.

Syamsul Lussa (kiri) dan Shaifuddin Bahrum. (Foto: HW)

Share This: