Film “Banda The Dark Unforgotten Trail”: Menyisir Sejarah Dengan Remah-Remah

_

Kepulauan Banda (Pulau Banda Besar, Pulau Neira, Run, Ai, Rozengain dan Gunung Api) – yang kini menjadi bagian dari Provinsi Maluku — pada masanya pernah menjadi mozaik mengkilau di Maluku. Buah pala yang tumbuh di kepulauan ini merupakan yang terbaik di dunia.

Pala bisa dimanfaatkan semua bagiannya. Mulai dari daun, kayu, daging buah, lapisan luar biji (fuli) hingga ke bijinya. Kosmetik, obat-obatan hingga makanan adalah produk turunan buah pala.

Sejarahwan Spanyol dari abad ke-17, Argensola yang mempelajari laporan orang-orang Portugis pada tahun 1609, antara lain menggambarkan buah pala sebagai berikut:

Bila berbunga, pala menyebarkan bau yang sangat sedap……kakaktua yang tak terbilang banyaknya dan burung-burung lain dari aneka warna bulu, amat mengesankan untuk dipandang, bertengger di atas dahan-dahan, tertarik oleh bau yang semerbak itu.

Buah pala – bila kering – menanggalkan kulit yang melingkupinya, dan merupakan fuli….

Dari fuli ini, yang tahap kedua menjadi panas dan kering, pada tahap ketiga orang Banda membuat minyak yang tinggi nilainya untuk mengobati segala penyakit pada saraf dan rasa sakit akibat hawa dingin.

Mereka memilih buah pala yang paling segar, berat, gemuk, berair dan tak berlubang. Dengan pala itu mereka mengobati dan mengusir nafas berbau busuk, membersihkan mata, menyehatkan perut, hati dan limpa serta mencernakan daging. Pala merupakan obat untuk banyak penyakit lainnya, dan untuk menambah kecemerlangan wajah. (Kepuluan Banda: Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala, Willard A. Hanna, Gramedia, 1983).

Bau harum buah pala itu tercium hingga jauh ke benua Eropa. Keharuman itu mengundang bangsa-bangsa asing dari Eropa untuk mendatangi Kepulauan Banda. Setidaknya ada 3 bangsa petualang Eropa yang sampai ke Banda, yakni Portugis, Inggris dan Belanda.

Jauh sebelum Agensola melukiskan buah pala dengan begitu indah dan menarik perhatian, bangsa-bangsa Eropa sudah berlayar menuju Indonesia Timur, untuk mencari buah pala dari Banda.

Bukan semata-mata bau harum itu yang membuat bangsa asing berkulit putih dan berbadan besar itu datang ke Kepulauan Banda, melainkan harga rempah-rempah yang seperti emas di pasaran Eropa, membuat mereka berlomba untuk mendatangkannya, meski pun dengan resiko yang sangat tinggi. Harga fuli di pasaran Lisabon akan meningkat seribu persen dibandingkan harga yang dibeli oleh orang-orang Portugis di Kepulauan Banda sendiri.

Willard A Hanna menggambarkan situasi tahun 1958 – 1959 ketika kedatangan Laksamana Muda Jacob van Heemskerk bersama 200 pedagang, serdadu dan pelaut bersama kapalnya Geelderland dan Zeeland.

Kedatangan orang-orang asing ke Banda merupakan bencana bagi masyarakat yang hidup tenang – kecuali terjadi keributan antarsesama mereka sendiri atau masyarakat di pulau lain.

Mulanya orang Banda tidak senang melihat orang asing yang tinggi besar dan berambut pirang itu. Mereka menyambutnya dengan hati-hati. Seabad kontak dengan orang Eropa membuat mereka hati-hati. Orang Eropa membuat mereka curiga.

Selain itu, tempo kedatangan mereka kurang menguntungkan. Gunung Api, sebuah gunung berapi yang sudah lama tidak bekerja, mulai memasuki taraf aktifnya yang baru dan mengisyaratkan akan adanya bahaya lain yang lebih gawat.

Penduduk diingatkan pada suatu ramalan, yang diucapkan lima tahun sebelumnya oleh seorang suci beragama Islam, bahwa sekelompok orang kulit putih yang kuat dan baik persenjataannya suatu ketika akan datang dari negara yang jauh untuk menaklukkan Kepulauan Banda.

Kepulauan Banda yang terkenal dengan buah palanya yang harum akhirnya menjadi jarahan bangsa-bangsa asing. Meski pun penduduk setempat melakukan perlawanan, tetapi mereka kalah kuat dengan bangsa Eropa yang memiliki persenjataan kuat dan taktik lebih baik.

Dan puncak penderitaan itu terjadi ketika Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen pada awal tahun 1621 mendarat di Kepulauan Banda, berhasil menguasai Pulau Lonthor (Banda Besar) dan menaklukkan perlawanan masyarakat setempat.

Kepulauan Banda memiliki catatan sejarah yang luar biasa. Baik di masa kolonial Belanda maupun sesudahnya. Di tempat inilah, di Pulau Neira para pendiri bangsa seperti Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, Dr. Tjiptomangunkusomo dan beberapa pejuang lain termasuk ulama-ulama penentang Belanda yang tidak dikenal, diasingkan.

Sejarah itulah yang coba disisir oleh sutradara Jay Subiyakto melalui film dokumenter berjudul  Banda – The Dark Forgotten Trail. Bekerja di bawah bendera Lifelike Pictures, Jay menggandeng penulis naskah Irfan Ramly dan pembaca narasi aktor Reza Rahadian. Departemen kamera dipegang oleh Ipung Rahmat Sjaiful, dibantu oleh dua fotograger terkenal Oscar Motuloh dan Davy Linggar.

Dalam film berdurasi 80 menit itu Jay Subiyakto membagi filmnya menjadi tiga bagian, yakni ketika Banda Neira di awal kedatangan bangsa-bangsa asing hingga berada bawah cengkeraman bangsa-bangsa Eropa; Kepulauan Banda di masa pembuangan para pendiri bangsa, dan Kepulauan Banda sesudah kemerdekaan.

Gambaran Banda Neira di awal kedatangan bangsa-bangsa asing Eropa hingga menguasai kepulauan pala itu mendapat porsi terbanyak.

Seperti apakah Jay dan timnya yang hebat menggambarkan sejarah Kepulauan Banda yang penuh dengan drama kemanusiaan itu?

Kekuatan sebuah film dokumenter pertama-tema adalah pada narasi. Sejauh mana penulis naskah menggambarkan obyek yang akan diangkat ke dalam tulisan memiliki akurasi data dan menyusunnya ke dalam sebuah alur yang mengalir, sehingga enak diikuti.

Apalagi dalam film dokumenter sejarah, di mana literatur yang dijadikan rujukan sangat banyak. Kesalahan mengutip data dalam naskah, akan berakibat fatal, meski pun penonton pada umumnya kadang kurang teliti juga memperhatikan isi narasi.

Tak kalah penting dari penulisan naskah adalah narator yang membacakan naskah itu. Pengaturan tempo membaca, kualitas vokal dan intonasi suara sangat berpengaruh terhadap keasyikan penonton untuk mengikuti pergerakan film. Narator yang baik akan mampu menambah nilai dramatik sebuah film dokumenter.

Dalam film yang dibesut oleh Jay Subiyakto ini penulis naskah Irfan Ramly dan pembacanya, aktor Reza Rahadian telah menunjukkan kualitas kerja yang baik. Irfan Ramly menggambarkan sejarah Kepulauan Banda dengan runtut.

Pengaturan tempo dan intonasi suara Reza Rahadian sangat bagus, membuat bobot narasi film ini terasa kuat, mampu mengajak penonton masuk ke suasana di mana peristiwa yang digambarkan terjadi.

Namun sebuah film dokumenter sejarah yang menggugah – tidak semata-mata menarik – adalah bagaimana gambar-gambar yang ditampilkan bisa mendukung narasi film itu sendiri. Nah di sinilah kelemahan Jay Subiyakto sebagai pembuat film dokumenter.

Jay, dengan dukungan sinematografer dan dua fotografer terkenal yang mendampinginya hanya asyik berakrobat membuat gambar-gambar artistik dari remah-remah sejarah yang ada di Kepulauan Banda.

Nyaris tak ada angle terbaik dari Kepulauan Banda Neira yang luput dari rekaman kamera tim pembuat film ini. Gambar-gambarnya luar biasa. Baik dalam pencahayaan, angle, maupun teknis pengambilan. Penggemar fotografi akan sangat dimanjakan bila melihat film ini.

Akan tetapi sebuah film dokumenter yang baik tidak melulu soal gambar-gambar indah. Yang terpenting adalah bagaimana gambar bisa mendukung narasi. Gambar usang yang otentik dan terkait dengan sejarah langsung yang diceritakan, syukur-syukur oleh para pelaku atau saksi sejarah itu sendiri, akan memiliki nilai yang lebih kuat dibandingkan gambar indah hasil rekayasa, apalagi dibuat saat ini.

Gambar otentik dan terkait dengan sejarah langsung itulah yang tidak muncul dalam film Banda, The Dark Forgotten Trail karya Jay Subiyakto ini. Jay seolah terpaku pada jargon sineas masa kini yang kerap mengatakan “Sejarah adalah hari ini”. Sehingga ia dan timnya hanya menangkap gambar-gambar yang ada di depannya saat ini. Akibatnya gambar dalam film seringkali tidak singkron dengan narasi.

Selain merekam obyek-obyek sisa sejarah, Jay juga membuat alegori gambar-gambar rekayasa peristiwa masa lalu. Misalnya anak-anak yang berlarian di benteng, bermain-main di lorong gelap membawa obor, atau cipratan darah di tembok untuk menggambarkan peristiwa kekejaman pada kerusuhan rasial tahun 1998.

Rekayasa gambar semacam ini lebih mendekati konsep pembuatan video klip musik – yang memang keahlian Jay Subiyakto – ketimbang menggambarkan sebuah film dokumenter sejarah.

Untuk membuat film dokumenter sejarah, banyak pembuat film yang mengaduk-aduk perpustakaan untuk mencari gambar-gambar yang, paling tidak, dibuat sangat dekat dengan peristiwa terjadi. Selain itu dibuat pula rekonstruksi peristiwa untuk memberikan gambaran yang mendekati peristiwa.

Keduanya tidak dilakukan Jay. Jay hanya asyik merekam remah-remah sejarah yang ada di Kepulauan Banda. Jay memang memasukan sedikit animasi yang menggambaran kapal-kapal asing berlabuh di lepas pantai Banda, tetapi itu jauh dari memadai.

Membaca buku tentang sejarah Kepulauan Banda seperti ditulis oleh Willard A Hanna atau penulis lainnya, jauh lebih asyik ketimbang menyaksikan film ini karena imajinasi akan mengembara ke masa lalu.

Buku bisa menggambarkan bagaimana sulitnya pasukan Jan Pieterzoon Coen menaklukan Pulau Lonthor; peperangan antara pelaut-pelaut Portugis dengan bajaklaut; kekejaman serdadu Belanda yang dibantu prajurit-prajurit bayaran dari Jepang, membantai rakyat Banda Neira; penebangan-penebangan pohon pala dan kenari dan digantikan dengan pohon singkong, ketika masyarakat kelaparan; dan banyak peristiwa dramatis lainnya yang terjadi di Kepulauan Banda.

Banda The Dark Forgotten Tral tidak menampilkan itu semua dalam bahasa gambar. Jay gagal menggiring imajinasi untuk mengembara ke masa lalu secara semiotika. Menonton film ini dengan memejamkan mata mungkin akan jauh lebih asyik, karena imajinasi tidak dikacaukan dengan gambar-gambar yang tidak mendukung.

Penyambungan gambar (editing) dan musik yang terlalu cepat di masa transisi juga membuyarkan imajinasi yang kadang terbangun ketika melihat remah-remah masa lalu ditampilkan. Maksudnya apa dengan editing dan musik yang cepat itu? Untuk membangun nuansa dramatik? Kurang pas.

Penggambaran situasi kekinian di Banda, melalui cerita lelaki korban konflik SARA tahun 1998 dan anak-anak Banda yang kembali untuk membangun kampung halamannya, makin membuat film ini ngelantur ke mana-mana.

Apalagi Jay hanya membuat wawancara-wawancara statis yang tidak didukung dengan stock shot (vootage) yang terkait dengan cerita, sehingga gambar-gambar terasa kering. Bagian ini mungkin dibuat setelah Jay Subiyakto dan timnya sudah lelah.

Terlalu banyak cerita yang bisa diangkat ke film dari sejarah panjang Kepulauan Banda, tetapi tidak mudah untuk menggambarkannya. Apalagi jika terlalu banyak yang ingin disampaikan. Sesuai dengan judulnya The Dark Forgotten Trail, jejak sejarah Banda dalam film ini memang masih gelap. Kita hanya melihat “kolase” gambar-gambar indah dari remah-remah sejarah Kepulauan Banda, yang masih tersisa.

Share This: