Becak Telah Menyelamatkan Keluarganya…

Pak Adin, penarik becak (becak motor) dari Kota Banda Aceh. (Foto: HW)
_

Namanya mungkin panjang. Tapi dia hanya ingin dipanggil Pak Adin saja.

Lelaki gempal berkulit hitam ini adalah seorang pengemudi becak yang biasa mangkal di depan Hotel Hermes dan Hotel Medan di Banda Aceh. Biasanya dia tidak hanya mengantar penumpang ke tempat-tempat tujuan tertentu di Kota Banda Aceh, dia juga akan menawarkan untuk keliling melihat-lihat obyek wisata yang ada di Banda Aceh.

“Kalau bapak ingin melihat lihat bukti kedahsyatan tsunami, saya bisa antar. Bukan cuma di kota Banda Aceh, bahkan sampai ke Lhok Nga sana,” kata lelaki berusia 52 tahun itu ketika bertemu penulis di depan Hotel Hermes, Banda Aceh, tanggal 21 Februari 2017 lalu.

Sambil mengemudikan becak bermotor khas Aceh miliknya, Pak Adin banyak bercerita sepanjang perjalanan. Ceritanya berhenti bisa sampai tujuan, dan dia akan bercerita lagi ketika perjalanan berlanjut.

“Saya membawa becak sejak tahun 1980,” katanya dengan mata tetap mengawasi jalan. “Sampai sekarang saya tidak pernah berganti pekerjaan. Kecuali waktu diberlakukan DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh, saya bekerja di Medan.”

Di awal menarik becak ia menggunakan motor merek BSA, buatan Birmingham Inggris. Namun karena kesulitan suku cadang, motor antik itu digantikan dengan motor Honda CB Gelatik buatan Jepang. Ketika tsunami terjadi, motor BSAnya yang teronggok di rumah, hilang diterjang banjir.

Dengan becak itulah dia menghidupi keluarga, yang terdiri dari seorang isteri dan empat anak. Dua orang anaknya sudah dewasa, dan sekarang bekerja di kilang minyak di Malaysia. Seorang masih duduk di bangku SMA, dan seorang lagi kelas 6 SD.

Sebagai penarik becak, penghasilnya diakui tidak menentu. Kadang jika sedang beruntung, terutama bila mengantar turis keliling, dia bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp.400 ribu per hari.

“Tapi kalau lagi sepi, untuk makan siang pun terpaksa hutang,” katanya.

Untuk mendapatkan penumpang, dia memiliki tempat mangkal strategis. Pagi hingga sore dia mangkal di depan Hotel Hermes Palace di Jalan T Pangilma Nyak Makam Banda Aceh, lalu pada sore hari hingga malam dia bisa ditemui di depan Hotel Medan, di Jl. Ahmad Yani, Banda Aceh.

“Kalau malam di depan Hotel Medan ramai. Di sana banyak tukang makanan, warung kopi dan sebagainya. Jadi banyak orang yang datang dan pergi. Tapi kalau di dekat Hotel Hermes cuma kedai-kedai kopi saja yang banyak,” katanya.

Banyak peristiwa menarik yang dialaminya selama menarik becak. Ketika terjadi konflik di Aceh, yakni ketika Gerakan Aceh Merdeka (GAM) masih mengangkat senjata melawan pemerintah RI, Pak Adin justru meraih keuntungan dari becaknya.

“Waktu itu orang-orang takut ke luar malam. Saya tetap narik. Penumpang saya macam-macam, ada aparat, tentara dan Brimob, ada juga orang-orang GAM. Mereka semua kenal saya, jadi saya aman kalau ke mana-mana. Waktu itu penghasilan saya lumayan,” tuturnya sambil tertawa.

Namun peristiwa yang tidak terlupakan baginya tentu saja saat Aceh diterjang tsunami tahun 2004. Ketika di Aceh jatuh korban yang sangat besar karena terjangan tsunami, dia berhasil menyelamatkan seluruh anggota keluarganya dengan becak.

Pak Adin menuturkan, ketika terjadi gempa berkekuatan 9,3 skala richter di Banda Aceh, dia sebenarnya sedang mencari nafkah dengan becaknya. Setelah gempa besar, laut surut. Dia melihat orang-orang banyak yang memunguti ikan di laut karena pantai kering. Di Pantai Cermin dekat pelabuhan Ule Lheue puluhan orang yang sedang rekreasi – waktu itu hari Minggu – banyak yang bergembira melihat air surut dan ikan-ikan menggelepar.

“Waktu itu saya berpikir, kok aneh. Ini pasti ada apa-apa. Saya lalu pergi dari tempat itu. Saya baru sadar ada tsunami setelah melihat dari kejauhan kok laut ada di tengah jalan. Saya langsung memacu becak saya lari ke rumah, lalu mengajak anak dan isteri saya ke arah Jantho,” tuturnya.

Keluarganya berhasil diselamatkan. Setelah menitipkan keluarganya di suatu tempat, ia kembali lagi ke Kota Banda Aceh. “Tapi jalan sudah sulit dilalui. Di mana-mana puing dan mayat manusia berserakan. Saya hanya bisa pasrah memandangi itu semua,” kata Adin sambil menatap jauh.

Di usianya yang tidak muda lagi, Pak Adin tidak berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Menjadi penarik becak, menurutnya, akan terus dijalani semampunya. Entah sampai kapan, walau pun diakuinya, ia mulai merasa lelah.

“Mungkin suatu saat saya akan berhenti, tapi tidak tahu kapan. Sekarang masih ada anak yang harus dibesarkan,” ujar Pak Adin.

 

Share This: