Begini Kondisi Korban Bom Kp. Melayu

Asap masih mengepul usai ledakan bom di Terminal Kampung Melayu Jakarta, Rabu (24/5) malam. - Foto: Ist.
_

 

Teror bom yang terjadi di Terminal Kampung Melayu pada Rabu malam lalu (24/5) menyebabkan jatuh beberapa korban tewas dan luka-luka berat maupun ringan. 3 anggota kepolisian gugur dalam tugas, 2 pelaku bom bunuh diri tewas dan sekitar 10 orang mengalami luka-luka berat dan ringan. Salah seorang  warga sipil menjadi yang menjadi korban adalah Jihan Thalib, mahasiswa Jurusan Management Universitas Azzahra yang kampusnya terletak di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Kepada balaikita Jihan menceritakan peristiwa yang dialaminya. Pada saat kejadian , menurut Jihan, dirinya tengah berada di kawasan Terminal Kampung Melayu, hendak pulang menuju rumahnya Otista, Jakarta Timur.

“Waktu itu saya lagi jalan sama temen saya, Susi, mau ke mikrolet 18 jurusan Kp.Melayu-Pd. Gede. Pas jalan ke arah angkot itu ngelihat banyak polisi duduk di sekitar toilet tempat ledakan pertama terjadi,” ungkapnya kepada balaikita di Rumah Sakit Bhayangkara TK I. R. Said Sukanto, Jakarta Timur, Jumat (26/5/2017).

 

Jihan salah satu Korban Bom Kp. Melayu

Ketika bom pertama meledak pada sekitar pukul 21.00 WIB dirasakan dirinya pun langsung lari menyebrang ke arah berlawanan, saat itu dirasakannya ledakan bom itu sangat kencang.

“Gak sempet pingsan, saya kaget dan langsung lari, kerudung saya sampai hilang. Saat bom meledak saya liat mata saya langsung gelap, terus pengang juga telinga saya,” bebernya.

 

Mahasiswa 19 tahun itu pun langsung diantar pulang ke rumahnya di kawasan Otista Kampung Melayu sebelum akhirnya langsung dibawa ke Rumah Sakit Premiere Jatinegara.

Akibat kejadian ini, Jihan masih mengalami dengungan di kedua telinga, serta mendapat 2 jahitan luka di punggung akibat terkena serpihan kaca, dan mengalami luka di bagian lengan kanan dan kirinya. Meski pun mengalami sendiri peristiwa mengerikan itu, Jihan mengaku tidak  trauma sama sekali.

“Ya gak takut, dan udah ikhlas sama kejadian ini,” paparnya.

Pada saat peristiwa terjadi, Amerila, ibu Jihan sempat histeris. Kebetulan waktu itu Amelia baru saja dari klinik di Klender, Jakarta Timur. Ia  pulang ke rumah melalui Kp. Melayu.  Saat itu keadaan sudah ramai. Tidak lama berada di Kp. Melayu, Amelia menerima telepon dari keluarganya yang mengabarkan kalau anaknya jadi korban.

“Saya jejeritan ngebayangin kondisi anak saya,” bebernya

Amelia berharap dengan adanya kejadian ini ia berharap orang-orang di belakang peristiwa ini cepat disadarkan, karena perbuatannya  salah.

“Ya semoga sadar. Kasihan kan orang yang tidak tahu apa-apa menjadi korban,” katanya.

Korban lain bom bunuh diri di Kampung Melayu adalah Muhamad Agung, sopir Kopaja 612 jurusan Kp. Melayu- Ragunan. Pemuda berusia 18 tahun ini harus menjalani operasi pada kaki kanannya.

 

“Saat itu saya lagi melihat polisi menggotong temannya yang kena bom, terus saya bantuin. cuma karena berat, saya minta tolong kepada orang lain supaya dibantuin. Pas saya nengok terdengar bom meledak. Saya langsung lari ke arah sebrang,” tuturnya.

 

Agung Sopir Kopaja yang menjadi salah satu Korban Bom Kp. Melayu

Agung juga mengaku tidak trauma atas peristiwa yang menimpa dirinya, dan akan tetap akan melalukan aktivitas seperti biasanya lagi setelah sembuh.

Tidak percaya.

Suwono, orangtuaBrigadir Muhammad Syukron Ryandi (Ryan) anggota kepolisian yang juga menjadi korban bom Kampung Melayu menjelaskan, pertama kali mendengar anaknya menjadi salah satu korban dari pemberitaan di media.

“Kalau cerita dari anak saya itu, dia pas lagi bantu angkat seniornya setelah ledakan pertama. Seniornya itu sudah terkapar.  Dia menyetop kendaran yang lewat. Saat itu yang berhenti truk. Agung berhenti mengangkat ketika terjadi ledakan kedua. Dia langsung lari,” jelas Suwono pria 58 tahun itu kepada balaikita.

Suwono menjelaskan, anaknya sempat menelepon sang ibunda, memberi tahu kalau dirinya terkena bom.

“Saya kaget, tumben dia nelpon saya malam-malam, dia bilang, ‘mah aku kena bom’. Tapi saya bilang bom dimana, orang gak ada bom. Dia bilang di Kampung Melayu. Saya langsung telpon kakaknya, anggota Polres Cilandak untuk cari tahu keberadaan dia. dia dibawa ke Rs. Hermina,” paparnya.

 

Dirinya berharap agar semua kejadian ini segera berakhir, dan kedamaian bisa tercipta di seluruh Indonesia.

“Biar Indonesia aman dan Nyaman,” paparnya.

Saat balaikita menyambangi korban di ruangan, Bripda Ryan tengah menjalani operasi kedua di bagian pundak sebelah kiri.

Seperti diketahui, telah terjadi tragedi bom bunuh diri di Kp. Melayu pada Rabu malam (26/5). Akibat kejadian ini 5 orang tewas, 3 orang dari pihak kepolisian san 2 orang yang diduga merupakan pelaku teror bom dan 10 lainnya mengalami luka dan tengah di rawat di beberapa rumah sakit seperti di RS. Polri, Rs. Budi Asih dan Rs. Premier Jatinegata

Share This: