Beleq Kecimol, Musik Pengiring Arak-arakan Pengantin di Lombok

Gendang Beleq, salah satu alat musik yang digunakan dalam acara "Nyongkolan" atau mengiringi pengantin. (Foto-foto: HW)
_

Bila suatu saat Anda melewati jalan-jalan di Pulau Lombok, jangan kaget bila tiba-tiba laju kendaraan tersendat karena ada iring-iringan panjang yang diramaikan dengan bunyi-bunyian musik dan joget serampangan. Itulah tradisi nyongkolan, atau mengiringi pengantin di Lombok.

Biasanya rombongan terdiri dari sejumlah lelaki yang memukul gendang besar khas Lombok (beleq) dan kecimol. Kecimol merupakan kesenian cilokak modern Lombok yang menggabungkan antara musik tradisional dengan musik modern, kecimol ini juga yang menyebabkan mulai tergusurnya musik tradisional khas Lombok yaitu gendang belek.

Nyongkolan merupakan kegiatan mengiring pengantin dari suatu tempat ke rumah istri/suami. Jika suatu keluarga di Lombok yang melakukan pernikahan mengadakan nyongkolan umumnya hanya dilakukan oleh pihak keluarga si Pria. Atau bisa juga pihak keluarga wanita yang menjemput pengantin pria namun biasanya hal ini jarang dilakukan, kecuali jika dana mencukupi atau dengan alasan lain yang menyebabkan pengantin harus diiring dua kali.

Nyongkolan diramaikan oleh pengiring yang sebagian besar sebagai anak muda. Mereka ikut untuk meramaikan kegiatan nyonkolan dengan menari nari mengikuti music yang dibawakan oleh artis-artis nyonkolan. Untuk pengiring wanita biasanya berada di bagian depan rombongan.

Mereka mengenakan pakaian adat khas Lombok.
Sedangkan laki-laki yang masih muda yang posisinya berada didepan musik berjoget sesuka hati. Para pengiring ini harus rela berjalan antara 2 sampai tiga kilometer, itu merupakan jarak yang umum ditempuh oleh orang yang mengikuti acara nyongkolan.

Rombongan nyongkolan yang diiringi musik beleq kecimol bisanya cukup panjang dan susah dilewati oleh kendaraan. Kendaraan-kendaraan yang berpapasan dengan rombongan ini biasanya terpaksa mengurangi kecepatan. Yang paling gawat adalah bilan kita harus mengejar penerbangan ke bandara, seperti yang dialami penulis ketika melakukan perjalanan dari Pelabuhan Kayangan menuju Bandara Lombok.

Perkembangannya saat ini, gendang beleq sudah jarang sekali terlihat digunakan dalam adat nyongkolan, alat musik tradisional sasak ini sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Lombok, sebagian masyarakat Lombok lebih senang menanggap kecimol dari pada gendang beleq, karena tarif kecimol lebih murah dan lebih bervariatif.

Belakangan ini ramai diberitakan musik kecimol mulai mengalami pergeseran nilai termasuk dalam tata caranya. Tidak jarang para anak muda bahkan anak kecil berjoget dengan sesukanya didepan kecimol, hal-hal seperti itu sangat mengurangi nilai-nilai dari prosesi nyongkolan tersebut.

Selain itu juga menimbulkan kemacetan oleh remaja yang berjoget. Terkadang juga nyongkolan bisa menimbulkan aksi brutal dari para penjoget karena mereka dipengaruhi oleh minuman keras yang mereka minum sebelum berangkat nyongkol.***

 

Share This: