Berburu Takjil di Bendungan Hilir

_

Kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang di Jakarta Pusat, setiap Ramadhan selalu ramai oleh para pemburu takjil atau menu berbuka puasa lainnya. Pasar tradisional sebelum dibongkar merupakan tempat berbagai kuliner enak, terutama masakan Padang. Tidak jauh dari pasar juga terdapat rumah makan Aceh terkenal, Seulawah.

Beberapa tahun lalu sepanjang jalan Benjil Raya dari arah jalan Jenderal Sudirman menuju Pejompongan ramai oleh para pedagang makanan, setiap bulan puasa. Para pedagang membuka dagangannya di pinggir jalan. Meski pun makanan pinggir jalan, kue-kue yang dijajakan maupun makanan lain bukan sembarangan, umumnya makanan di Benhil berkelas dan memiliki rasa yang lezat.

“Pokoknya setiap Ramadhan saya selalu menyempatkan diri beli kue-kue di Benhil. Kue-kue di sini beda ya, meskipun kaki lima rasanya enak. Banyak kue yang tidak ada di tempat lain, ada di Benhil,” kata Ida seorang karyawan bank yang berkantor tidak jauh dari Benhil.

Tahun ini pedagang makanan berbuka di Benhil tidak lagi berjejer di pinggir jalan, tetapi menempati area kosong bekas bongkaran Pasar Benhil. Sepanjang jalan yang dulu penuh pedagang, kini bersih. Hanya beberapa kios pembuat kunci imitasi yang masih menempati bahu jalan. Belasan petugas Satpol PP terlihat-lihat berjaga.

Para pedagang makanan yang dulu berjejer di pinggir jalan, kini berkumpul di dalam, di bawah dua buah tenda berukuran 4 X 15 meter di tanah kosong yang nampaknya akan didirikan bangunan . Terdapat sekitar 30 pedagang makanan di tempat itu. Calon pembeli yang membawa kendaraan bisa memarkir kendaraannya tidak jauh dari tenda.

“Sekarang kita memang enggak boleh jualan di pinggir jalan. Dikumpulin di sini, bayar sewa,” kata salah seorang pedagang.

Namun demikian di luar tenda juga ada beberapa pedagang yang menggelar dagangannya, seperti pedagang mendoan, pedagang es, kerupuk dan peyek. Yang berada di luar umumnya membayar kepada koordinator. Kecuali Sugito, seorang tunanetra pedagang kerupuk.

“Yang lain sih harus bayar, saya enggak dimintain bayaran,” kata Sugito.

Mulai pukul 16.00, calon pembeli mulai berdatangan. Umumnya karyawan yang berkantor di seputar Jl. Jenderal Sudirman dan Benhil, meski pun ada pula yang datang dari jauh.

Tempat kuliner di Benhil tidak menyediakan kursi untuk pembeli makan di tempat. Rata-rata pembeli membungkus makanan untuk dibawa pulang, atau berbuka di kantor. Mendekati Maghrib pembeli makin ramai, dan berangsur-angsur surut ketika Maghrib tiba. Para pedagang sendiri masih membuka dagangannya hingga malam.

Tidak jauh dari tempat ini, terdapat rumah makan Padang Sederhana dan satu lagi yang lebih terjangakau bernama Bofet Mini. Di tempat ini selain ada menu masakan Padang dalam bentuk prasmaman, pengunjung juga bisa menikmati kue serabi dengan gula siramnya, bubur kampiun, sumsum campur kolak yang manis

Di tempat ini pengunjung sudah memenuhi tempat makan di ruang atas. Ada yang sudah membawa piring berisi surabi, bubur sumsum atau kue-kue meski pun waktu berbuka puasa masih sekitar 40 menit. Ketika saat berbuka tiba, tempat makan sudah penuh. Kendati begitu masih banyak yang antri memesan makanan.

Share This: