Kemiskinan, Membuat Kanker Payudara Neneng Tak Terobati Bertahun-tahun

_

Neneng duduk di atas plastik yang dijadikan tempat tidur sambil menutupi payudara kanannya yang sudah membusuk. Sesekali ia meringis menahan sakit. Sementara kedua anaknya, Maulana (9 tahun) Herdiansyah (8), hanya bisa melongo memandangi ibunya yang kesakitan.

Kedua anak yang sudah tidak sekolah lagi itu, tidak bisa berbuatn apa-apa. Jangankan kedua bocah itu; ayahnya saja, Hendra Setiawan (36), juga tidak mampu berbuat apa-apa. Hendra hanya seorang buruh lepas yang tidak memiliki penghasilan menentu.

“Mau dibawa ke mana, Pak? Saya tidak punya uang untuk membawa isteri ke dokter. Pasrah sajalah,” kata Hendra ketika ditemui Tim Relawan Kesehatan dari Pandeglang, Banten.

Neneng Safitri (33), bersama suami dan kedua anaknya adalah Kampung Baru, RT 03 RW 01, Desa Kramatwatu, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana.

Maklum, dengan penghasilan sekitar Rp.1 juta sebulan, Hendra harus mengatur semua pengeluaran untuk kontrak rumah Rp 400 ribu per bulan dan kebutuhan sehari-hari. Bahkan kedua anaknya pun tidak bisa disekolahkan lagi. Ardiansyah Maulana hanya menginjakkan kaki hingga kelas tiga SD. Sedangkan sang adik, Arpan Herdiansyah hanya bersekolah hingga kelas dua SD.

Neneng bercerita, awalnya, ia mengira penyakit tersebut akibat teluh (guna-guna), sehingga mengharuskan dirinya untuk berobat ke orang pintar atau dukun. Namun, usaha itu sia-sia. Bahkan orang pintar menganjurkan Neneng berobat ke dokter.

“Sudah dibawa berobat kemana saja tak berhasil. Berobat ke tabib, dan orang pintar. Mau berobat ke dokter, gak punya uang karena harus dioperasi. Sedang kartu BPJS tidak punya,” kata Neneng, saat ditemui dikamar kontrakannya, Kamis (04/08/2017).

Karena keterbatasan ekonomi, Neneng hanya bisa membeli obat-obatan dari warung dekat tempat tinggalnya, ketika penyakitnya itu kambuh.

“Terus beli obat warung aja sekarang, kalau nyut-nyutan (nyeri) minum obat warung,” tuturnya sembari menitikkan air mata menahan rasa sakit.

Kondisi sakit tersebut mengakibatkan aktivitasnya sebagai Ibu rumah tangga tergangu. Untuk mencuci, mengepel dan memasak, dilakukan oleh kedua anaknya. Anak-anak yang seharusnya bersekolah, memilih berhenti agar bisa merawat Ibunya yang sedang sakit, selain orangtuanya tak mampu membiayai.

Neneng dan sumainya tak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengobati payudaranya yang terus digerogoti kanker. Mau ke rumah sakit tak punya biaya, selain tidak memiliki kartu BPJS. Neneng dan keluarganya tidak tahu harus minta tolong kepada siapa, sampai akhirnya 3 Agustus 2017 lalu Relawan dari Dewan Kesehatan Rakyat Pandeglang (DKP) datang menemui.

“Tadinya kami akan mengadakan aksi pencarian dana untuk membawa Ibu Neneng ke rumah sakit. Tetapi pihak Kelurahan dan Kecamatan yang mendengar rencana aksi kami akhirnya turun tangan membantu Bu Neneng,” kata Mohammad Rohim, Pembina DKR Pandeglang.

“Pak Eeng Kosasih selaku Kabag Keuangan Kecamatan Kramatwatu juga langsung menanggapi laporan warga, langsung membawa Bu Neneng ke Puskesmas dan dirujuk langsung ke RSUD,” Rohim menambahkan.

Setelah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Banten, akhirnya Neneng dibawa ke RSUD Serang, dan untuk pengobatan lebih lanjut, rencananya Neneng akan dibawa ke Jakarta. Apakah ke RS Dharmais atau RSCM.

Mendengar isterinya akan dirawat di Jakarta, Hendra mengaku gembira, meski ia bingung, siapa nanti yang menunggui isterinya selama dirawat.

“Kalau saya yang nugguin istri di rumah sakit, siapa nanti yang menjaga dan ngasih makan anak-anak? Kalau saya di rumah, siapa yang menjaga isteri saya?” kata Hendra, bingung. (kiriman M.Rohim, Pandeglang).

Share This: