Betulkah Negara Ini Tak Butuh Patriot Seperti “Gundala Putra Petir”?

_

Film “Gundala Putra Petir” karya sutradara Joko Anwar akhirnya muncul juga. Setidaknya ada dua hal yang membuat penonton penasaran: yang pertama adalah nama Joko Anwar itu sendiri, yang kedua adalah nama “Gundala Putra Petir”, yang diklaim sebagai “Patriot” yang dibutuhkan bangsa ini. Jika pertanyaan itu digabungkan, maka kalimatnya kira-kira seperti ini: Apa yang akan dilakukan Joko Anwar dengan tokoh “Gundala Putra Petir”?

Joko Anwar yang telah menciptakan rekor pencapaian film horor terlaris di Indonesia sepanjang masa, melalui “Pengabdi Setan”, yang berhasil meraup 4,2 juta penonton. Kini Joko Anwar menjanjikan tontonan yang hebat melalui film terbarunya, “Gundala Putra Petir”.

“Gundala Putra Petir” adalah komik karya Hasmi, komikus kelahiran Yogyakarta, 25 Desember 1946, yang bernama asli Ihsan Surasa Dharmaputra.

Komik karyanya itu dibuat tahun 1969, dan dinikmati oleh remaja, anak muda dan orang-orang dewasa yang pada masa itu akrab dengan bacaan, apakah brupa novel, cerita bergambar (populer dengan sebutan komik) atau buku-buku cerita lainnya.

Hasmi terinspirasi dari tokoh Jawa, Ki Ageng Selo, yang memiliki kesaktian menangkap petir. Sementara, kostum Gundala, ia ambil dari tokoh komik Flash Gordon.

Ki Ageng Sela disebutkan pernah mendaftar sebagai perwira di Kesultanan Demak. Ia berhasil membunuh seekor banteng sebagai persyaratan seleksi, namun ngeri melihat darah si banteng. Akibatnya, Sultan menolaknya masuk ketentaraan Demak. Ki Ageng Sela kemudian menyepi di desa Sela sebagai petani sekaligus guru spiritual.

Suatu hari Ki Ageng Sela menangkap petir ketika sedang bertani. Petir itu kemudian berubah menjadi seorang kakek tua yang dipersembahkan sebagai tawanan pada Kesultanan Demak. Namun, kakek tua itu kemudian berhasil kabur dari penjara. Untuk mengenang kesaktian Ki Ageng Sela, pintu masuk Masjid Agung Demak kemudian disebut Lawang Bledheg (pintu petir), dengan dihiasi ukiran berupa ornamen tanaman berkepala binatang bergigi runcing, sebagai simbol petir yang pernah ditangkap Ki Ageng.

Cerita itu oleh sebagian masyarakat Jawa dianggap benar-benar terjadi. Sampai saat ini apabila dikejutkan bunyi petir, masih ada yang mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Sela, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.

Menjelang hingga tahun 70-an produktivitas komikus Indonesia memang luar biasa. Pada masa itu muncul nama-nama terkenal menyusul karya-karya mereka yang digemari masyarakat seperti Serial “Si Jampang” (Ganes TH), “Panji Tengkorak” (Hans Jaladara), “Jaka Sembung” (Jair), dan banyak lagi termasuk Hasmi dan Wid NS yang menghasilkan komik-komil fantasi seperti Gundala Putra Petir, Godam dan Aquaman.

Saat itu, komik dari Hasmi mampu bersaing dengan komik-komik dari produk asing yang banyak beredar. Gundala Putra Petir yang saat ini masih memiliki penggemar fanatik terbit pertama kali pada tahun 1969. Hasmi juga membuat komik lain, seperti Kapten Mlaar dan Maza.

Meskipun setting cerita komik mereka berada di tanah Jawa, tak bisa dipungkiri bahwa karya-karya mereka terinspirasi — kalau tak ingin dikatakan meniru — komik-komik fantasi Amerika seperti Batman. Dari jenis kostum hingga kehebatan mereka menghadapi lawan, memiliki kemiripan disain.

Batman adalah tokoh fiksi pahlawan super yang diciptakan oleh seniman Bob Kane dan penulis Bill Finger dan diterbitkan oleh DC Comics. Tokoh ini pertama muncul di Detective Comics #27 (Mei 1939).

Berbagai komik populer pada masanya, kemudian diangkat ke layar lebar oleh sineas-sineas kreatif yang selalu mencari cerita dari berbagai sumber. Membuat film memang tidak semudah melukis di komik berdasarkan cerita yang dimiliki, karena visualisasi sebuah cerita memerlukan keahlian dan teknologi yang melibatkan banyak orang. Tetapi itu tidak menghalangi sineas untuk berkarya.

“Gundala Putra Petir” pertamakali difilmkan pada tahun 1981oleh sutradara Lilik Sudjio. Film ini dibintangi oleh Teddy Purba, Anna Tairas, Ami Prijono dan W.D. Mochtar.

Dalam film karya Lilik Sudjio, tokoh Sancaka digambarkan sebagai seorang peneliti. Karena kesibukannya ia sampai lupa jika kekasihnya berulangtahun, akibatnya sang kekasih marah dan memutuskan hubungan mereka. Dalam perjalanan pulang, di tengah kegaualan hatinya, ia tersambar petir dan bertemu dengan sosok aneh yang mengaku sebagai Dewa Petir. Olehnya Sancaka diberi kemampuan super dan diperintahkan untuk membasmi kejahatan.

Oleh Joko Anwar, kisah Sancaka dalam film “Gundala Putra Petir” dibawa ke dalam setting berbeda. Setelah ditempa oleh kehidupan yang keras, belajar beladiri dari seorang bocah gelandangan yang menolongnya, mempertahankan diri dari lingkungan yang keras, serta kata-kata seorang aparat yang mengatakan “hidup tidak berguna kalau kita tidak peduli” dengan orang lain, Gundala mulai masuk ke dalam konflik.

Dengan kemampuan beladiri dan ilmu petir yang dimilikinnya, Sancaka (Gundala) bergerak melawan kejahatan, ia membantu orang-orang yang dizolimi.

Bagaimana Joko Anwar mengemas adegan demi adegan dalam filmnya, memang luar biasa, memberikan kesan mendalam bagi penonton. Artistik film ini menonjol. Ia berhasil mengeksplorasi bangunan lama di kota tua, menjadi set-set yang sangat mendukung visualisasi film.

Warna sephia, kostum dan make-up pemain, membuat cerita film ini membawa penonton ke suatu masa yang kelam. Sebagai sebuah film, Gundala merupakan sebuah karya kreatif yang didisain dengan matang.

Seorang penulis menggambarkan film karya Joko Anwar ini adalah : Film bagus yang dibuat sepenuh hati, selebar pengetahuan, dan sedalam pehamanan…

Oleh produsernya film ini diberi tagline “Negeri ini butuh Patriot”. Bisa jadi yang dimaksud sebagai patriot adalah tokoh Gundala itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Patriot berarti pencinta (pembela) tanah air.

Mungkin karena ada kata patriot itu, maka Lembaga Sensor Film (LSF) meloloskan film ini untuk 13 tahun ke atas. Apa arti kategori “13 Tahun ke Atas”, artinya film ini boleh menampilkan kisah suka-duka peralihan anak jadi remaja alias fase ABG. Tapi tetap tidak boleh berisi adegan negatif yang rawan ditiru oleh generasi muda.

 

Selama ini kata pergaulan bebas sering ditafsirkan sebagai perbuatan yang mengarah kepada ativitas seks. Jadi perhatian LSF cenderung manyoroti masalah itu, terutama dalam relasi lelaki dan perempuan. Banyak film yang langsung divonis untuk 17 tahun ke atas apabila ada adegan yang menggambarkan aktivitas seksual atau ditafsirkan mengarah ke situ.

Padahal bagi remaja, penggambaran adegan kekerasan yang berlebihan juga akan mempengaruhi jiwa mereka. Darah muda, seperti kata pedangdut Rhoma Irama dalam lagunya “Darah Muda” — adalah darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah, tak mau mengalah.

Sosok jagoan yang mengatasi lawan-lawannya dengan kekerasan, akan cepat ditiru oleh remaja. Celakanya yang banyak diaplikasikan adalah sikap jagoannya, bukan sikap ksatria. Tidak mengherankan jika kita banyak melihat aksi tawuran remaja dan pemuda yang diwarnai dengan tindakan-tindakan brutal dan sadistis.

Yang diperlihatkan dalam film “Gundala Putra Petir” mayoritas adegan-adegan kekerasan, bahkan oleh tokoh anak-anak dalam film itu. Kita lihat bagaimana setelah ditinggal oleh orangtuanya, Sancaka harus hidup di jalanan, di mana dia harus berhadapan dengan anak-anak jalanan yang memukulinya dengan sadis baik dengan tangan kosong maupun kayu, bahkan merusak telinganya dengan tutup botol bergerigi.

Lalu di film itu juga ada tokoh Pengkor yang berwajah dan kaki cacat yang hidup di panti asuhan. Pengkor yang sejak kecil digambarkan bersikap dingin karena selalu menghadapi kekerasan, akhirnya bisa menghimpun teman-temanya untuk memberontak kepada pengurus panti. Pengkor dan kawan-kawan berhasil meringkus pengurus panti, lalu mengikat dan memotong lehernya.

Setelah dewasa Pengkor menjadi tokoh berpengaruh. Dia butuh dihormati. Sehingga orang yang menunjukkan sikap permusuhan kepadanya akan menerima ganjaran, seperti seorang anggota legislatif yang diikat di sebuah kursi sambil menyaksikan istri dan kedua anaknya digantung dengan tali yang sama diujung lain. Oleh kaki tangan pengkor, tali yang menghubungkan sang Anggota Dewan dengan anak isterinya, dibakar. Setelah putus, karuan saja isteri dan anak sang anggota dewan jatuh dari gedung yang tinggi.

Memang tidak ada visualisasi dari dampak perbuatan sadis Pengkor di masa anak-anak maupu setelah dia dewasa — entah karena disensor atau memang tidak dibuat — tetapi kita bisa membayangkan kengerian yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut. Bagaimana pun film, bisa membawa imajinasi penonton ke dalam suatu situasi tertentu, terutama bila sudah ada informasi awalnya.

Dalam mengemas adegan, Joko Anwar memang juaranya, termasuk adegan kekerasan. Adegan-adegan kekerasan itulah yang bisa disaksikan oleh para remaja karena LSF meloloskan untuk 13 tahun. Adegan kekerasan dalam film ini mendominasi.

Entah apa yang dilikirkan oleh anggota LSF ketika melakukan penyensoran. Apakah mereka hanya menganggap yang berbahaya bagi anak muda hanya adegan erotis? Atau mereka merasa kekerasan asalah hal yang sangat lumrah bagi bangsa Indonesia, mengingat saat ini begitu mudahnya kita melihat kekerasan terjadi, baik yang dilakukan oleh orang dewasa maupun anak-anak.

Atau, bisa jadi LSF merasa sudah mengedukasi penonton dengan baik melalui kegiatan Sensor Mandiri yang dilakukannya. Dengan pemahaman Sensor Mandiri, LSF berhadap penonton lebih cerdas dan arif dalam memilih tontonan. Kalau premisnya seperti itu, tidak ada gunanya lagi LSF.

Buat penulis, di dalam cerita film karya Joko Anwar, Sancaka (Gundala) memang pahlawan, tetapi dia bukan patriot yang dibutuhkan oleh bangsa ini.
Karena Gundala hanya bisa mengatasi kejahatan dengan kekerasan. Sedangkan yang dibutuhkan bangsa ini adalah tolerasi, keilmuan, penguasaan teknologi, etos kerja dan kesadaran hukum.

(Dikutip dari cekdanricek.com)

 

 

 

 

Share This: