Bicara TKA dan TKI

TKI di Victoria Park. (Foto: youtube)
_

Usai meliput event Festival Film Asia Pasifik di Seoul (1991), saya bersama empat teman wartawan: Arya Gunawan (Kompas), Yaya Sutara (Suara Pembaruan – almarhum), Iwan Anasih (Popular – almarhum) dan HM. Firdaus (Pos Film), mampir dulu selama 2 hari di Hongkong . Keberangkatan ke Hongkong hanya memanfaatkan fasilitas transit dari penerbangan yang kami gunakan, China Airlines. Di HK kami menginap di kawasan Tsim Tsa Tsui, di sebuah hotel kecil yang murah.

Hari pertama di Hongkong kami diajak makan masakan Indonesia oleh koresponden Suara Pembaruan di HK, Harry Kawilarang. Tempatnya saya tidak tahu persis. Dari hotel jalan kaki sebentar, lalu naik trem. Kami turun di depan sebuah pertokoan. Suasananya seperti di Glodok, tapi lebih rapih.

Oleh Harry Kawilarang kami diajak ke rumah makan Surabaya. Masakannya enak. Saya sempat bawa pulang ke hotel nasi dibungkus, plus empal. Rasa rindu masakan Indonesia setelah makan-makanan Korea dan masakan Internasional melulu selama hampir seminggu, terobati.

Di antara kami berlima, Arya Gunawan yang paling muda. Cerdas, energik dan berani. Waktu di Korea saya bersama dia nyaris berangkat ke Pamunjon untuk melihat perbayasan Korsel – Korut. Tapi batal karena transportasinya kami tidak paham, dan jaraknya jauh dari Seoul.

Di Hong Kong, dia mengajak kami ke Victoria Park. Katanya banyak TKW yang bermain-main di tempat itu setiap hari libur. Siapa tahu ada yang bisa digodain. TKW di Hongkong memang dibebaskan oleh majikannya untuk jalan-jalan, setiap hari Minggu. Di Indonesia sendiri PRT belum tentu mendapat kebebasan seperti di Hongkong. Apalagi di Timur Tengah.

Pada saat itulah Victoria Park penuh TKW Indonesia. Dandanan mereka macam-macam. Kalau di Indonesia dandanan mereka bisa sulit dibedakan apakah PRT atau majikan.

Tahun 2005 saya kembali lagi ke HK, untuk meliput event Indonesia Film Market. Kali ini berangkat bersama produser film Firman Bintang, dan beberapa Pengurus PPFI (Persatuan Produser Film Indonesia).

Hotel tempat kami menginap di kawasan Central, tidak jauh dari Victoria Park. Waktu itu Firman Bintang berpesan agar membawa sepatu olahraga, supaya bisa berolahraga pagi-pagi di Victoria Park.

Suatu pagi sebelum sarapan, saya ke Victoria Park untuk berolahraga. Firman Bintang dan rekan David Pranata Boer sudah lebih dulu jalan. Di taman, saya sempat jogging beberpa putaran. Banyak orang-orangtua yang sedang berolahraga tai chi. Beberapa anak muda juga melakukan jogging. Pada siang harinya, Victoria Park dan jalan-jalan di sekitarnya kembali penuh oleh TKW asal Indonesia dan Filipina.

Victoria Park seakan sudah menjadi milik TKW Indonesia. Sutradara Lola Amaria pernah membuat film berjudul “Minggu Pagi di Victoria Park” yang mengisahkan tentang kehidupan TKW Indonesia di Hong Kong.

Di Malaysia, TKI juga banyak. Hampir semua pekerjaan kasar di Malaysia dikerjakan oleh orang asing, Umumnya TKI bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga dan pekerja bangunan. Karyawan hotel didominasi oleh orang India, petugas keamanan dari Nepal. Itu kata aktor senior Soultan Saladin yang lama tinggal di Malaysia.

Jumlah TKI di Indonesia saat ini mencapai jutaan. Lebih dari 3,65 juta orang Indonesia berjuang dan bekerja di luar negeri. Terbanyak di Malaysia (1, 9 juta), Arab Saudi (961 ribu), China Taiwan (228 ribu), Hong Kong (197 ribu) dan sisanya di berbagai negara lain, mulai dari Eropa, Amerika, Afrika, Australia, dan lain-lain. Jumlah itu belum termasuk TKI gelap yang bekerja di perkebunan-perkebunan kelapa sawit di Malaysia.

Sementara jumlah pekerja asing di Indonesia hingga akhir tahun 2018, menurut ekonom Faisal Basri mencapai 100.000 orang. Tahun 2020 jumlahnya bisa jadi bertambah. Tetapi kalau ada yang mengatakan sampai jutaan, pasti itu cuma asumsi, tidak didukung data yang tepat.

Saat ini kita sedang ribut dengan rencana masuk 500 TKA dari Cina, yang akan bekerja di pertambangan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. Kita ribut, karena kedatangan TKA dari Cina itu bersamaan dengan terjadinya pandemi corona. Apalagi asal mula merebaknya corona dari Wuhan, Cina. Kita belum tahu persis apakah para TKA Cina itu datang dari Wuhan dan sekitarnya atau bukan.

Polemik tentang TKA Cina memang selalu ramai. Ada atau tidaknya pandemi corona, soal TKA Cina itu selalu menjadi gorengan yang gurih.

Sayangnya setiap terjadi kehebohan, tidak pernah ada penjelasan yang komprehenaif dan detil dari pemerintah, sehingga isu itu menjadi bola liar.

Ada yang mengatakan, masuknya TKA Cina sebagai bagian dari perjanjian dengan investor; ada yang mengatakan TKA Cina yang didatangkan memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki tenaga kerja Indonesia. Tetapi ada pula yang menyebut soal etos kerja. Mana yang benar?

Pemerintah harus menjelaskan sejelas-jelasnya, supaya isu itu tidak menjadi bola liar. Mungkin perlu juga diatur komposisinya antara TKA Cina dan tenaga kerja Indonesia di bidang pekerjaan yang sama. Lalu dilihat hasilnya. Apakah benar TKA Cina dan TKI beda etos dan keahlian. Kalau hanya pekerjaan kasar diserahkan kepada TKA, wajar kalau muncul pertanyaan, “Memang begitu bodohnya bangsa kita?”

Waktu di Hong Kong dan Malaysia, saya juga tidak berani bertanya kepada orang-orang di sana, mengapa banyak TKI di negara mereka. Takut nanti ada jawaban tak terduga,

Share This: