Bikin Lomba, Cara LSF Menggugah Pembuat Film.

Anggota LSF Imam Suhardjo (kanan) dan Rommy Fibri, dalam Jumpa Pers Anugerah LSF 2017, di Sekretariat LSF Jakarta, Senin (7/8) siang, (Foto: Dudut Suhendra Putra)
_

Era ketajaman gunting sensor seperti guiliotin sudah berakhir. Kini Lembaga Sensor Film (LSF), yang bertugas melakukan penyensoran, tidak lagi mengandalkan gunting dalam menjalankan tugasnya. Selain media yang digunakan untuk membuat produk audiovisual sudah berubah, sudah bukan jamannya lagi bersikap otoriter “menggunting” adegan film yang susah payah dibuat oleh produsernya.

“Sekarang kalau ada adegan film yang tidak pantas, akan kita panggil sutradara atau produsernya. Kita minta mereka merevisi agar bisa diloloskan sesuai batasan umur yang ada. Tetapi kalau adegannya masih bisa masuk untuk usia dewasa, film itu akan lolos untuk usia 21 tahun ke atas. Kalau sutradara atau produser minta untuk kategori umur 13 atau 17 tahun, ya adegannya harus sesuai untuk penonton seumur itu,” kata anggota LSF Imam Suhardjo dalam Jumpa Pers “Anugerah Pers 2017”.

Imam Suhardjo menuturkan, beberapa bulan lalu ada sebuah film yang didaftarkan untuk mengikuti penyensoran. Adegan dalam film itu, menurutnya, luar biasa sadis, karena menggambarkan pembunuhan dengan mutilasi yang sangat gamblang.

“Saya sampai tiga kali ke kamar mandi, muntah. Akhirnya kami panggil produsernya untuk merevisi, tetapi tidak kembali lagi sampai sekarang. Memang susah juga untuk merevisinya. Yang jelas film itu tidak bisa diputar di depan umum, karena tidak lolos sensor,” tambahnya.

Anggota LSF Arturo Ganda Priyatna menambahkan, saat ini LSF tengah fokus mensosialisasikan “Sensor Mandiri” baik kepada pembuat film maupun kalangan masyarakat. Pembuat film akan mempertimbangkan sendiri adegan film yang dibuatnya, sedangkan masyarakat perlu mempertimbangkan film-film yang akan ditontonnya.

“Setiap anggota atau kelompok masyarakat yang ingin mengetahui apa itu sensor mandiri, akan kita undang ke sini dan akan kita sosialisikan tentang sensor mandiri,” kata Arturo.

Terkait kebiasaan menonton masyarakat, anggota LSF Ni Luh Prapti Erawati menganalogikan, tontonan seperti makanan. Masyarakat tahu ada makanan sehat, tetapi belum tentu mengkonsumsinya. Sebaliknya ada makanan tidak sehat, tetap saja di makan.

Masyarakat bisa menonton film di bioskop dan televisi. Untuk film-film yang ditayangkan di televisi ada dualisme penyensoran, selain dberikan Surat Tanda Lolos Sensor (STLS) oleh LSF, harus disensor pula oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

“Kadang televisi lebih patuh kepada KPI karena KPI punya kewenangan menjatuhkan sanksi, sedangkan LSF tidak. Padahal dalam P3SPS disebutkan, tidak ada film yang tidak lolos sensor yang boleh diputar di tivi. Itu artinya pengakuan terhadap LSF,” kata anggota LSF lainnya, Syamsul Lussa.

P3SPS adalah Pedoman Perolaki penyiaran dan Standar Program Siaran.

Anugerah LSF 2017 digelar untuk meningkatkan kesadaran para pemilik film dalam mematuhi kewajiban kepemilikan STLS, sebelum materi film dan iklan ditayangkan.

Anugerah LSF 2017 bertema “Lomba Sensor Mandiri” meliputi Lomba Menulis Artikel “Sensor Mandiri”, Lomba Membuat Poster “Sensor Mandiri”, dan Lomba Video Iklan Layanan Masyarakat (ILM) “Sensor Mandiri”. Lomba ini boleh dikuti oleh masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang. Untuk mendapatkan informasi lebih jauh, masyarakat bisa membuka website LSF.

Keputusan LSF menyelenggarakan dan melaksanakan lomba ini memang luar biasa. Mengingat jumlah anggota LSF yang terbatas — 16 orang aktif dari seharusnya 17 dibantu 34 tenaga penyensoran — sedangkan pekerjaan yang harus ditangani setiap hari begitu banyak.

Share This: