“Bioskop Berbisik” : Acara Nonton Film, Anak-Anak Tunanetra

_

Film adalah media citra bergerak, memiliki rangkaian gambar hidup yang bercerita. Kaum tunanetra tentu tidak bisa melihat gambar yang terdapat di layar.

Siswa SLB A Pembina memberi testimoni didampingi Kepala Sekolah Triyanto Muljoko, Ketua KCFI Budi Sumarno dan seorang relawan. (Foto: HW)

 

Boleh percaya boleh tidak percaya, kegiatan menonton film itulah yang diikuti para siswa tunanetra di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Pembina, Kamis (18/1/2017) pagi. Sebanyak 90 siswa mulai dari TK hingga SLA mengikuti acara nonton bersama di Aula Sekolah yang terletak di Jl. Pertanian Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Sebagai tunanetra mereka tentu tidak bisa melihat, namun mereka bisa mendengar. Melalui pendengarannya itulah mereka menikmati jalannya cerita film. Dan untuk memahami adegan secara lebih utuh karena banyak adegan tanpa dialog, mereka diberitahu oleh seorang pembisik yang mendampinginya. Itulah sebabnya kegiatan ini disebut Bioskop Berbisik. 

Siswa, guru dan para relawan berfoto bersama (Foto: HW)

Dalam pemutaran film itu mereka ditemani oleh 50 orang pembisik yang terdiri dari relawan atau orangtua siswa, dan 40 guru sekolah. Film yang diputar adalah Aisyah –  Biaarkan Kami Bersaudara” karya sutradara sutradara Herwin Novianto dengan bintang utama Laudya Cinthia Bella.

“Kegiatan ini adalah belajar pengalaman menonton bioskop bagi para siswa. Karena selama ini banyak siswa yang tidak pernah menon_ K C meski pun mereka punya keinginan yang sama dengan orang-orang yang penglihatannya normal,” kata Kepala Sekolah SLB A Pembina, Drs. Tiyanto Muljoko, M.Pd.

Menurut Triyanto, anak-anak tunanetra juga memiliki keinginan dan hobi menonton yang sama dengan orang-orang berpenglihatan normal. Banyak siswanya, menurut Triyanto yang suka begadang untuk menonton sepakbola dari liga Eropa melalui televisi. Triyanto berharap para orangtua siswa juga peka atas keinginan anaknya, sehingga sesekali bisa membawa anaknya menonton bioskop.

“Anak-anak itu suka menonton. Terutama mereka yang masih bisa melihat cahaya (low vision). Mereka biasanya takut dengan suasana gelap dan suara yang keras,” kata Triyanto.

Tidak hanya bagi para siswa, bagi relawan pembisik kegiatan ini juga cukup menyenangkan. Selain bisa membantu, ini menjadi pengalaman baru buat mereka.

“Saya biasanya mengajarkan musik kepada tunanetra. Menemani mereka nonton film dan menjadi pembisiknya adalah pengalaman yang baru. Ternyata sangat menyenangkan,” kata Fransisca, seorang relawan.

Meski pun memiliki keterbatasan penglihatan, para siswa ternyata mampu memahami jalan cerita film yang diputar. Seorang siswa bernama Afathulloh Radiya yang dimintai pendapatnya usai menonton film ini dengan jelas menceritakan isi film.

“Film ini menceritakan seorang guru wanita dari Jawa Barat yang bertugas di NTT. Di sana dia dimusuhi oleh salah seorang muridnya. Pesannya bagus, supaya kita tidak terpecah-pecah walau pun berbeda agama, karana perpecahan itu tidak baik,” kata Radya sambil mengutip salah satu ayat dalam Al Qur’an.

Acara Bioskop Berbisik ini diadakan atas kerjasama pihak sekolah dengan Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI). Kebetulan Ketua KCFI Budi Sumarno adalah mantan pengajar komputer di sekolah ini beberapa tahun lalu.

 

 

 

 

Share This: