Buatlah Film yang Disukai Penonton, Jangan Untuk Diri Sendiri.

Direktur XXI Jimmy Haryanto (kanan) ketika berbicara dalam Semiloka Perfilman di Cisarua Bogor, Selasa (12/12/2017). Foto: Dudut Suhendra Putra
_

Persoalan terbesar yang dihadapi film nasional adalah dalam peredaran. Banyak film yang diputar di bioskop sangat kurang penontonnya, karena film yang dibuat tidak menarik penonton.
Direktur jaringan bioskop XXI, Jimmy Haryanto berharap àgar produser membuat film yang disukai penonton, bukan sekedar menegaskan idelisme.

Ody Mulya Hidayat (Kanan)

Hal itu disampaikan Jimmy dalam Semiloka Perfilaman yang diadakan oleh Forum Wartawan Hiburan (Forwan) bersama Pusbang Kemdikbud di Wisma Arga Mulia Cisarua, Bogor, Selasa (12/12/2017). Selain Jimmy pembicara lain adalah produser film Ody Mulya Hidayat.

“Orang bikin film adalah untuk diputar. Kalau ada buat film sebaiknya yang disenangi penonton, jangan untuk menyenangi diri sendiri,” kata Jimmy.

Menurut Jimmy, film yang baik itu memiliki beberapa unsur yang baik. Mulai dari cerita, sutradara, pemain dan promosi.

“Kalau ceritanya bagus, pemainnya oke, sutradaranya hebat dan promosi yang gencar, itu sudah memenuhi syarat film yang bagus,” katanya.

Pihak XXI sendiri menurut Jimmy memiliki tim kurasi yang terdiri dari 8 – 9 orang untuk menilai film-film yang ingin diputar di jaringan bioskop XXI.

“Tim kurasi itulah yang akan menilai trailer film yang akan diputar, dan akan menentukan berapa layar yang akan diberikan dan diputar di bioskop mana saja? Jadi tidak semua film cocok untuk semua bioskop,” tambah Jimmy.

Produser film Ody Mulya Hidayat dari Max Pictures mengatakan, film yang memiliki good production value (nilai produksi yang baik) akan disukai penonton.

“Memang tidak ada profesornya dalam membuat film, tetapi kita harus melihat ceritanya, harus kekinian, sutradaranya bagus dan promosinya bagus,” kata Ody.

Kredit bank

Dalam kesempatan tersebut Ody juga mengungkapkan tentang minat bank yang sampai saat ini masih belum tertarik untuk memberi kredit pada pembuatan film.

“Film itu bisnis berisiko, sehingga bank tidak mau memberi kredit pada pembuatan film. Tapi saya bisa meyakinkan kepada bank, kalau ada pembuatan film seperti ini atau itu, maka kemungkinan besar akan menghasilkan penonton sekian. Akhirnya BNI tertarik,” kata Ody.

 

 

 

Share This: