“Bunga Untuk Mira”, Pementasan Teater “Broadway” Yang Memukau

_

Pementasan teater bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia. Masyarakat pencinta seni tentu pernah menyaksikan pementasan-pementasan teater dari kelompok teater terkenal seperti Bengkel Teater pimpinan WS Rendra, Teater Koma, Teater Gandrik asal Yogayakarta dan banyak lagi yang lebih kecil.

Umumnya teater di Indonesia menampilkan cerita yang mengangkat kehidupan sosial, persoalan-persoalan keseharian yang dikaitkan dengan politik. Teater memang memiliki ruang untuk dimasukan berbagai pesan-pesan. 

Sutradara pertunjukkan Mia Johannes (Mhyajo) menawarkan sebuah konsep pertunjukkan baru — atau setidaknya jarang ditampilkan di Indonesia — yakni pementasan teater ala Broadway.

Teater broadway adalah jenis pertunjukkan yang biasa ditanpilkan di panggung pertunjukkan di Broadway, Ney York Amerika. Pementasan teater yang biasa memadukan tari dan musikal.

Pementasan akan berlangsung di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada Sabtu (22/12) hari ini dan Minggu, 23 Desember 2018 besok.

Pertunjukkan yang diberinama “Bunga untuk Mira”
merupakan agelaran pop musikal yang diadaptasi dari cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih.

Dalam keterangannya kepada media di Teater Jakarta, Jum’at (21/12/2018) Mhyajo yang didampingi oleh para pemain, tim artistik, musik, penata tari dan produser menjelaskan, mementaskan tetater ala broadway merupakan sebuah tantangan luar biasa bagi dia dan timnya.

Persoalan pertama adalah bagaimana menarik perhatian masyarakat, khususnya generasi milenial untuk datang menyaksikan pertunjukkannya.

“Oleh karena itu kami mengemas teater musikal ini secara modern, untuk menarik minat generasi milenial,” kata Mhya.

Namun kemasan yang ingin disampaikan membutuhkan kelengkapan dan tim yang harus menananganinya. Dan itu tidak bisa dikerjakan oleh orang-orang sembarangan. Mhya bersyukur banyak profesional yang mendukungnya tanpa harus membayar mereka secara profesional.

Mereka adalah: penata gerak tari Ufa Sofura yang belum lama ini berkesempatan menjajal pementasan di Broadway, New York; Penata Musik Mondo Gascaro, Indra Prakarsa yang menangani orkestrasinya, dan kostum oleh Kleting Titis Wiganti.

Bunga untuk Mira, didukung para pemeran antara lain Shae (penyanyi dan aktris, populer lewat single-nya, Sayang, yang dirilis di Malaysia beberapa tahun lalu), Dea Panendra (peraih piala Citra 2018 kategori Pemeran Pembantu Terbaik, lewat film Marlina Sang Pembunuh dalam Empat Babak.

Selain itu juga mendukung musikal lain seperti Laskar Pelangi dan Timun Mas), Daniel Adnan (ikut berperan dalam film Buffalo Boys, dan juga dalam film yang baru akan dirilis tahun 2019 nanti, Gundala Putra Petir).

Lalu juga Johan Yanuar (salah satu pemenang kompetisi L-Men of the Year 2010, kemudian kontes Manhunt International di Korea Selatan. Ia juga bassis dan kini menjadi host program olahraga televisi di sebuah stasiun televisi swasta), Maya Hasan (harpist, aktris dan juga belakangan dikenal sebagai expertist di musical healing atau music-theraphy).

Nama-nama lain adalah Wandy Adrianus, Ayu Gurnita, Diani Wardani, Astrid Soelaeman, Euridite Gumulya, Eva Prima, Geri Krisdianto, Josh Putra Pattiwael, Mario Avner Francis, Prita Putri Aunalal, Rangga Kusumaputra, Novita, Trigoras Iriyanto, Wajyu Setiawan.

7evenNotes sebagai promotor penyelenggara didukung sepenuhnya oleh SET Production, Etcetera Lighting, Sumber Ria, Kleting KLE, Laxmi Tailor, House o Jealouxy, 5 House Production, Ben Q, Cosmopolitan FM, Bravaradio FM, Prambors FM, Delta FM, Bahana FM, D Majors, RuRu (Ruang Rupa), Kita Kru, Peqho, SSA, Palalada, WE.EAT, BRWS Coffee, Sekolah Kami dan Hantu Komunitas.

“Kalau harus membayar mereka, tentu saya enggak sanggup. Untungnya mereka mau membantu saya dengan sukarela,” tutur Mhya.

Menurut Mhya, pertunjukan Bunga untuk Mira berbeda dengan teater musikal pada umumnya.  Dia mengadqptasi cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih secara bebas dan dikemas dalam imajinasi fiksi ilmiah.

“Saya mengganti nama dua tokoh utama Bawah Merah menjadi Mira, dan Bawang Putih menjadi Puti agar bisa diterima banyak orang. Saya juga akan mengaitkan benang merah kisah yang sama dengan cerita aslinya,” jelas Mhya.

Pertunjukan “Bunga Untuk Mira” akan berlangsung live orchestra, begitu pula dengan nyanyian dari pemain. Untuk menggarap pertunjukan ini, Mhya menghadirkan tradisi musikal Broadway, dan membebaskan para pemusik untuk memberikan sentuhan apapun.

“Biarlah mereka bermain dengan imajinasi mereka. Mereka bole memberi sentuhan modern, pop, dan sampai dark. Saya menyebutnya, jaz fantasi,” ujar Mhyajo.

Dalam pertunjukkan singkat khusus untuk wartawan, di Teater Jakarta TIM, Jum’at (21/12) malam, terlihat konsep pementasan yang ditampilkan memang berbeda. Mulai dari komposisi, gerak, tari, lagu dan musik, sangat impressif, memukau.

Persoalan lain yang dihadapi adalah sulinya mendapatkan gedung pertunjukkan seni yang sesuai dengan jadwal yang diinginkan, karena semua gedung pertunjukkan di Jakarta sudah penuh.

“Tidak semua gedung digunakan hanya untuk pertunjukkan kesenian, sehingga kita sulit mendapatkan jadwal sesuai rencana. Sekarang ini gedung yang menentukan jadwal, bukan kesenian yang menentukan,” kata produser “Bunga Untuk Mira”, Iwan Hutapea.

Pementasan musikal ini akan menampilkan penyanyi Shae, Daniel Adnan, pemain harpa Maya Hasan, dan Johan Yanuar.

Dalam pementasan ini, Maya Hasan tidak tampil sebagai pemain harpa, melainkan sebagai tokoh ibu berkarakter antagonis.

“Bagi saya teater sebenarnya bukan pengalaman baru. Saya pernah bergabung dengan teaternya Mas Slamet Rahardjo. Pementasan kali ini adalah semacam nostalgia sekaligus tantangan untuk tampil lagi dalam media yang berbeda,” kata pemain harpa terkenal ini.

 

 

Share This: