Butuh 20 – 50 Tahun Untuk Memulihkan Terumbu Karang di Raja Ampat

Foto Terumbu Karang yang Rusak akibat Kandasnya MV Caledonia Sky di Raja Ampat, Papua. Foto: Courtesy Bakamla 2017.
_

Ternyata tidak mudah menjaga kekayaan alam Indonesia. Sebagian terumbu karang di Raja Ampat, Papua, salah satu obyek wisata andalan Indonesia yang mulai diperkenalkan ke dunia, hancur lebur gara-gara kecerobohan MV Caledonian Sky berbendera Inggis yang dinahkodai oleh Kapten Keith Michael Taylor pada Sabtu (4/3) lalu. Kapal yang sempat ditarik  oleh kapal tunda — namun tidak berhasil — yang didatangkan dari Tg Priok Jakarta, tanpa ampun menggerus terumbu karang indah yang selama ini menjadi incaran para penyelam untuk melihat keindahannya.

Terumbu karang merupakan habibat ikan-ikan yang paling baik. Akibat penarikan paksa kapal yang kandas itu, menimbulkan kerusakan pada terumbu karang kira-kira seluas 1.600m2. Selain merusak terumbu karang, insiden tersebut juga turut menghilangkan puluhan spesies ikan yang berada di kawasan yang sebenarnya dilindungi tersebut.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (SDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Zulficar Muchtar mengungkapkan bahwa Terumbu Karang itu berfungsi sebagai rumah ikan, untuk spending ground dan tempat berlalu lalang rumh ikan. Di samping fungsi perikanan, terumbu karang itu juga memiliki fungsi perikanan lainnya, termasuk pula fungsi lainnya yaitu pariwisata.

Seperti diketahui, sebagai sebuah ekosistem secara langsung terumbu karang menjadi penunjang kehidupan berbagai jenis makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Dimana terumbu karang menyediakan tempat tinggal, mencari makan dan berkembang biak berbagai biota laut. Dengan rusaknya terumbu karang akan berpengaruh langsung terhadap kelangsungan hidup dan kelestarian berbagai hewan dan tumbuhan di Laut.

Menurut Direktur Jendral Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Brahmantya Satyamurti Poerdi, rusaknya terumbu karang seluas 1600m2 itu akan menimbulkan kerusakan lingkungan serta juga menghilangkan potensi perikanan dan pariwisata dalam jangka waktu yang lama. Mengingat butuh waktu sekitar 20 hingga 50 tahun proses recovery dari karang tersebut.

“Proses recoverinya bisa antara 20 hingga 50 tahun, mengingat bahwa paling cepat tumbuh 5cm per tahun dari pemulihan terumbu karang ini juga diitentukan oleh habitat dan kondisi air laut. Semakin jernih, semakin cepat pertumbuhannya,” ungkap Direktur Jendral Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Brahmantya Satyamurti Poerdi, di Gedung Mina Bahari, KKP, Rabu (15/3/2017).

Menurut Brahmantya, kapal dengan ukuran sebesar itu tidak seharusnya masuk ke Raja Ampat. Dengan berat ribuan ton, MV Caledonian Sky bisa saja berpotensi merusak terumbu karang yang ada. Dan benar saja, karena berlayar terlalu ke pinggir, kapal berbendera Bahamas tersebut akhirnya menabrak terumbu karang yang ada di sekitar wilayah perairan tersebut.

“Saya pribadi, kalau melihat kapal sebesar itu, mestinya sandar di Sorong saja, kemudian ke Raja Ampat ditransfer menggunakan kapal yang lebih kecil,” kata Brahmantya di kantornya, Rabu (15/3/2017).

Kapal canggih berbendera Bahama yang mengangkut 102 turis pada Sabtu, 4 Maret 2017 itu dinilai berlayar tanpa memperhitungkan fenomena alam yang menjadi ciri khas Raja Ampat. Informasi sementara, kandasnya kapal tsb diduga akibat Nahkoda hanya memonitor GPS&Radar tanpa perhitungkan pasang surut (keadaan alam).

Kepala Kantor SAR Sorong Prasetyo Budiarto yang menjadi pihak pertama kali mendapatkan laporan soal kandasnya kapal MV Caledonia Sky di kawasan Raja Ampat, mengaku, bahwa laporan kandasnya kapal itu didapat mereka pertama kali sekira pukul 14.31 waktu setempat.

Dalam laporan nakhoda MV Caledonia Sky, Keith Michael Taylor, kapal berbobot 4.200 Gross Tonage itu kandas di perairan dengan kedalaman 5 meter.

Itu merujuk pada instrumen dan GPS (Global Positioning System) yang tercantum dalam mesin kapal canggih itu. “Tapi ternyata faktanya adalah kedalaman air hanya 2 meter. Jadi kapal ini (seperti) duduk di atas karang. Mereka bingung dengan instrumen yang dimilikinya,” kata Prasetyo.

Menurut Prasetyo, di kawasan perairan Kepulauan Raja Ampat sejak lama memang sudah memiliki fenomena pasang surut. Kedalaman air saat pasang, diketahui bisa mencapai 5-6 meter, sementara di saat surut bahkan ada beberapa titik yang bisa memiliki kedalaman kurang dari dua meter.

“Jadi kapal dengan draft (kedalaman kapal) dua meter, melintas itu harus hati-hati sekali. Itu tergantung pasang surut (untuk melintas)” kata Prasetyo.

Saat kapal kandas, sebuah kapal penarik (tug boat) dengan nama TB Audreyrob Tanjung Priok tiba di lokasi untuk mengeluarkan kapal pesiar tersebut. Namun upaya tersebut tidak berhasil karena kapal MV Caledonian Sky terlalu berat. Kapten terus berupaya menjalankan kapal Caledonian Sky hingga akhirnya berhasil kembali berlayar pada pukul 23.15 WIT pada 4 Maret 2017 dan kini sudah berlabuh di Filipina.

Langkah pemerintah provinsi (Pemprov) Papua Barat dan juga pemerintah pusat yang membiarkan kapal pesiar Caledonian Sky meninggalkan perairan Indonesia setelah diketahui menghancurkan 1600 m2 terumbu karang di perairan Kri, Kabupaten Raja Ampat, menuai banyak kritikan.

Pemprov Papua Barat dinilai seharusnya tidak membiarkan kapal pesiar yang membawa ratusan wisatawan dan 79 kru tersebut meninggalkan perairan Indonesia sebelum masalah terumbu karang yang hancur benar-benar diselesaikan.

“Kapal pesiar tabrak terumbu karang kok dibiarkan saja, mestinya Kementerian Kelautan dan Perikanan dan intansi terkait lainnya berkoordinasi untuk menahan kapal tersebut,” kata anggota DPR Papua Barat, Mervin Sadipun Komber kepada JPNN, Rabu (15/3).

Kekecewaan pun juga diutarakan oleh Menteri Pariwista, Arief Yahya saat ditemui di Gedung Pariwisata, Selasa Malam (14/3), dirinya  mengungkapkan bahwa akibat kejadian ini, sangat tidak bagi pariwisata Indonesia, oleh karena itu dirinya mengharapkan dari pihak Caledonian Sky untuk bisa melakukan recovery.

Ia juga menyangkan bahwa, kapal Caledonian SKY yang dinahkodai Kapten Keith Michael Taylor itu melakukan penarikan kapal yang kandas di saat air laut di sana tengah surut. Dirinya pun menjelaskan bahwa seharusnya kapal bisa ditarik di saat air laut sudah pasang kembali. Dengan adanya kejadian ini pun pihak pemerintah pun akan melakukan pengaturan terhadap kapal dalam hal ini cruise yang akan singgah.

“Ketika pertama setengah kecelakaan, itu kan dia kandas di situ karena air yang surut lalu ditarik lah pada saat airnya surut ya akibatnya seperti sekarang ini terjadi. Seharusnya menunggu air pasang seharusnya dia datang ketika air pasang tapi kalo udah terlanjur seperti ini dalam hal ini kandas untuk naiknya jangan ditarik saat air surut tapi pada saat air pasang, sekarang udah kejadian semua,” ungkapnya.

Ia juga mengutarakan bahwa akibat kandasnya kapal Caledonian Sky pada (3/3) lalu menimbulkan kerusakan terumbu karang yang luar biasa di Perairan Raja Ampat, Papua, Pemerintah lakukan pengkajian kerugian yang ditimbulkan akibat peristiwa tersebut.

“Kita akan melakukan asesmen, jadi surat pernyataan kita hitung kerugiannya sementara berita yang sudah muncul sekitar 13 hingga 14 miliar,” ungkap

Terkait insiden ini, pihak kapal pesiar MV Caledonian Sky telah merusak ekosistem laut di kawasan konservasi Raja Ampat. Kawasan Raja Ampat sendiri merupakan Kawasan Konservasi Perairan yang telah ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 36/KEPMEN-KP/2014 tentang Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat di Provinsi Papua Barat.

Saat ini pemerintah Indonesia sedang mengumpulkan data, menghitung kerugian, dan bersiap melayangkan gugatan secepatnya kepada pihak Noble Caledonia sebagai pemilik MV Caledonian Sky.

Foto Terumbu Karang yang Rusak akibat Kandasnya MV Caledonia Sky di Raja Ampat, Papua. Foto: Courtesy Bakamla 2017.“Kita akan terus identifikasi dan kita akan siapkan langkah hukum pasalnya pihak Caledonian diduga melakukan pelanggaran hukum. Tentunya hal ini akan dilakukan setelah kami menghitung jumlah valuasi kerugian. Tapi, intinya secepatnya akan kami lakukan pemanggilan terhadap kapten kapal,” bebernya.

Ia menjelaskan bahwa pelanggaran yang terjadi dalam insiden ini adalah Undang-Undang No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup seperti yang tertera dalam pasal 40 ayat 3 terkait perbaharuan lingkungan.

Selain itu, pelanggaran yang terjadi yakni UU No 3/2014 jo. UU No 45/2009 tentang perikanan seperti tercantum dalam pasal 7 ayat 2 huruf k tentang pengelola perikanan wajib mematuhi peraturan tata kelola lingkungan, peraturan KKPD selat Dampier terkait Kepmen KP Nomor 36/KEPMEN -KP/2014 tentang penetapan kawasan konservasi perairan kepulauan Raja Ampat dan Zona pemanfaatan terbatas.

Selain adanya pemanggilan yang akan dilakukan kepada kapten kapal, pihaknya juga akan melakukan pemanggilan terhadap kepala Syahbandar Jayapura ini dilakukan, agar pihaknya tau letak posisi masalahnya di mana sehingga masalah ini bisa clear. Mengingat, pihaknya pun merasa aneh bagaimana kapal dengan muatan sebesar 4.200 GT bisa masuk ke perairan dangkal.

“Itu kapalnya besar, air sedang surut, kok bisa dia masuk, makanya ini semua Syahbandar, KKPD juga akan kita minta keterangannya,” bebernya.

Seperti diketahui, dengan adanya kejadian seperti ini pihak Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, telah membentuk tim bersama yang terdiri dari berbagai kementerian dan lembaga terkait, seperti Kemenko Kemaritiman, Kementerian Kelautan dan Perikanan, KLHK, Kemterian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, Kemenkumham, Kejaksaan Agung dan Polri serta Pemda setempat terkait kerusakan terumbu karang di Raja Ampat oleh Kapal MV Caledonian Sky.

Dipimpin oleh Deputi Koordinasi Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Kemaritiman, Arif Havas Oegroseno, rencananya Pemerintah akan meminta pihak MV Caledonian Sky untuk membayar ganti rugi di mana uangnya akan digunakan untuk proses pemulihan terumbu karang.

Dengan peristiwa yang terjadi di Perairan Raja Ampat baru-baru ini, Pihak KKP menginginkan ke depannya adanya aturan terkait masuknya kapal ke kawasan Raja Ampat  dapat dilakukan secara tegas dan hingga kerinciannya secara jelas seperti apa kapal yang diperbolehkan harus memiliki rute tetap untuk keluar masuk dari kawasan tersebut, mengingat daerah yang terkena dampak dari kecerobohan MV Caledonia Sky ini adalah kawasan konservasi.

Share This: