Catatan Dari Samosir (Bagian II – Selesai): Harus Ada Tempat Pertunjukkan Representatif di Samosir

_

 

Seperti dijelaskan pada tulisan sebelumnya, Open Stage Tuktuk Siadong merupakan tempat yang cukup bagus untuk pertunjukkan musik, dengan catatan, jika itu hanya diperuntukkan bagi pertunjukkan musik lokal. 

Open Stage Tuktuk Siadong di Kecamatan Simanindo, Samosir. (HW)

Untuk menjadi tempat pertunjukan musik internasional banyak hal yang harus diperbaiki. Fasilitas penunjang yang ada di sekitarnya masih perlu perhatian lebih serius baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, jika Samosir Music International di masa mendatang akan menjadi festival musik yang menarik dan berwibawa.

Kekurangan itu terlihat pada jalan menuju lokasi yang masih buruk. Selain kecil, lapisan aspalnya sudah terkelupas, padahal lokasi Open Stage Tuktuk Siadong  tidak jauh dari Jalan Lingkar Tuktuk, jalan utama di Pulau Samosir. Untuk meninggalkan lokasi pertunjukkan kendaraan harus melewati jalan lain yang berada di belakang panggung, dengan kondisi lebih buruk lagi.

Tempat parkir kendaraan juga jadi masalah, karena terlalu sempit. Sebagian area parkir sudah ditempati oleh pedagang-pedagang makanan atau kerajinan masyarakat lokal, sehingga mobil-mobil atau motor pengunjung harus berdesakan hingga ke jalan ke luar. Pengemudi harus ekstra hati-hati jika meninggalkan lokasi karena bisa saja mobilnya nyerempat mobil lain yang diparkir di pinggir jalan. 

Poster Samosir Music International 2019 di pinggir Jl. Lingkar Tuktuk

Pedagang memang harus mendapat tempat dalam event seperti ini, agar dampaknya juga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Itulah tujuan pariwisata sesungguhnya.

Infrastruktur memang menjadi persoalan yang harus diperhatikan oleh pemerintah, baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat. Mulai dari Jalan Lingkar Tuktuk yang menjadi jalan utama di Pulau Samosir hingga jalan-jalan kecil menuju tempat wisata, seperti jalan menuju Open Stage Tuktuk Siadong atau ke Desa Wisata Tomok Parsaoran, jalan masih sangat kecil, sehingga kendaraan yang lewat harus berhenti dulu bila berpapasan. Belum lagi motor-motor yang diparkir sembarangan di pinggir jalan, kadang menyulitkan sopir yang membawa kendaraan roda empat.

Kecilnya jalan di Pulau Samosir itu harus dipikirkan dengan serius oleh pihak berwenang. Sebab jika tidak dipikirkan, ini juga akan mempengaruhi wisata di Danau Toba. Berbicara dengan masyarakat, utamanya tokoh-tokoh adat perlu dilakukan, demi perkembangan pariwisata dan perekonomian masyarakat itu sendiri.

Kendala lain yang menyulitkan arus wisatawan datang ke Pulau Samosir adalah minimnya kapal-kapal penyeberangan yang ada. Selama ini mayoritas penyeberangan di Danau Toba menggunakan kapal kayu. Namun tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, tepatnya di perairan Tigaras (Simalungun) pada Juni 2018, sebagian masyarakat trauma, sehingga penumpang yang menggunakan kapal jenis tersebut menyusut. Diperlukan waktu cukup lama untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. 

Kapal-kapal penumpang berbahan kayu di Pekabuhan Tomok, terlihat di kejauhan (HW)

Satu-satunya kapal ferry besar yang ada adalah Ihan Batak yang disediakan oleh pemerintah di era pemerintahan Presiden Jokowi. Tidak heran jika ada yang anggota masyarakat yang menyebutnya “Kapal Jokowi”. Ketika penulis meninggalkan Pulau Samosir melalui Pelabuhan Ambarita, 24 Agustus 2019 pagi, kapal itu baru datang dari Pelabuhan Ajibata di Prapat dengan muatan penuh, baik penumpang maupun kendaraan.

Ihan Batak adalah kapal berukuran 300 gross ton yang dirancang Kementerian Peruhubungan untuk Kawasan Danau Toba. Kapal ini bisa mengangkut 300 penumpang dan 32 unit kendaraan roda empat plus belasan roda dua.

Jika pariwisata Danau Toba ingin maksimal, pemerintah perlu lebih banyak menghadirkan kapal-kapal sekelas “Ihan Batak

Mobil dan penumpang antri memasuki kapal Ihan Batak di Pelabuhan Ambarita, Samosir (HW)

”, tentu saja dengan melibatkan pengusaha-pengusaha kapal penyeberangan yang sudah ada. 

Juga perlu diperhatikan adalah kenyamanan hotel-hotel atau penginapan bagi wisatawan yang ada di Samosir. Mulai dari makanan hingga pelayanan (hospitality) masih perlu diperbaiki. Buruknya pelayanan hotel di sana penulis rasakan sendiri, bagaimana dalam dua hari menginap tak sekalipun ada petugas yang membersihkan kamar, dan handuk pun harus diminta.

Pemerintah tidak boleh lelah mendidik pengusaha penginapan atau rumah makan di Samosir agar bisa memberikan pelayanan yang professional, sehingga membuat wisatawan betah berlama-lama di sana. Sebab Samosir memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi destinasi wisata prioritas: alam yang indah, cuaca yang sejuk dan budaya masyarakat yang eksotik. 

Namun demikian harus ada orang jenius yang mampu menata kawasan Pariwisata Samosir menjadi lebih menarik lagi, arsitek yang mampu membawa perubahan lebih baik bagi kawasan pariwisata Samosir.

Kembali ke penyelenggaraan SMI 2019, ke depan, jika event ini  ingin menjadi festival musik kelas dunia yang berwibawa dan menarik minat wisatawan asing maupun wisatawan Nusantara datang ke Pulau Samosir, pemerintah harus membuat sebuah tempat pertunjukkan baru – boleh berbentuk amphitheater – yang lebih memadai, baik tempat pertunjukkan atau fasilitas di sekitarnya.

Open Stage Tuktuk Siadong juga tetap harus diperbaiki, cuma fungsinya tidak lagi untuk penyelenggaraan event internasional seperti SMI 2019, melainkan digunakan untuk mengembangkan musik atau kesenian lokal lainnya.

Jika boleh mengusulkan, amphitheater itu haruslah berada persis di tepi Danau Toba, sehingga pengunjung bisa menyaksikan musik sambil menikmati keindahan Danau Toba. Rasanya tidak sulit mendapatkan lokasi untuk itu di Pulau Samosir, jika pemerintah mengajak bicara masyarakat dan tokoh adat setempat. Jika itu dilakukan, bukan tidak mungkin pemusik-pemusik top di Indonesia atau dunia pun tertarik bermain di Samosir.

Membuat sebuah tempat pertunjukkan berkelas untuk event internasional rasanya bukan langkah yang sia-sia. Kehadiran tempat bergengsi untuk pertunjukkan – baik musik atau acara lain – akan menambah daya tarik pariwisata Danau Toba, selain akan mendorong generasi muda Batak yang memiliki talenta alami dalam bermusik, untuk berkembang.

Semoga pererintah dibawah Presiden Jokowi yang memang berniat mengembangkan kawasan Geopark Danau Toba sebagai destinasi pariwisata prioritas, dapat mewujudkan hal ini.

Share This: